Kamis, 7 Mei 2026

Empat SMA di Surabaya Tutup

Tayang:
Penulis: Heru Pramono |
SIRABAYA I SURYA Online - Sejumlah sekolah di Surabaya saat ini banyak yang gulung tikar alias kukut. Sekolah ini terpaksa tutup dan tak melayani pendidikan karena memang tak laku. Salah satunya terjadi si Surabaya Utara. Sebanyak empat SMA swasta di wilayah tersebut tahun ini ditutup. Keempat sekolah itu adalah SMA Budi Luhur, SMA PGRI 22, SMA PGRI 13, dan SMA PGRI 8. "Rata-rata, mereka kalah bersaing memperebutkan murid dengan sekolah lain," jelas Koordinator Kepala Sekolah Swasta se-Surabaya, Kurnia Saptaningsih, Rabu (7/9/2011). Semakin hari, sekolah-sekolah tersebut ditinggalkan peminat karena tidak lagi mendapat kepercayaan masyarakat. Sekolah ini juga gagal membuat terobosan dan inovasi guna menarik animo masyarakat. Apalagi sekarang, SMA di seluruh Surabaya gratis sehingga siswa leluasa memilih sekolah mana pun. Kalau sebelumnya jarak dan lokasi menjadi peetimbangan bagi siswa tertwntu, kini lebih baik mencari sekolah yang bagus. Sebab, semua SMA gratis di seluruh wilayah Surabaya. Dinas Pendidikan Surabaya terpaksa menutup dan melarang mereka beroperasi karena memang tak laku. Jumlah rombongan belajar (kelas)mereka tak memenuhi standar minimal, yakni 30 anak per rombongan belajar atau kelas. "Karena masih ada sekolah yang menyisakan siswa kelas dua dan tiga, ada yang dimerger bersama siswa dan gurunya. Yakni SMA PGRI 13 dilebur ke SMA PGRI 3," tambah Kurnia yang juga merupakan Kepala SMA Barunawati. Dengan ditutupnya empat SMA swasta di Surabaya Utara, kini jumlah sekolah di wilayah ini berkurang. Semula jumlah SMA swasta di Surabaya utara sebanyak 18 lembaga. Kini berarti tinggal 14. Tidak tertutup kemungkinan, jumlah ini akan makin tergerus karena Dinas Pendidikan Surabaya kini malah menambah pagu murid baru di setiap sekolah negeri. "Ini sangat memukul keberadaan sekolah swasta. Masyarakat masih lebih dulu mendaftar ke sekolah negeri. Baru kalau tidak diterima cari swkolah swasta," ujar Kurnia kembali. Hal ini jelas tantangan. Kalau tidak cermat dan inovatif mengikat kepercayaan masyarakat, sekolah swasta akan semakin ditinggalkan. "Sekolah kami juga muali beekurang muridnya," kata Kepala SMP At Tarbiyah, Subowo. Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Surabaya, Ruddy Winarko, mengakui telah mencabut ijin operasional sekitar 39 sekolah. "Standar minimal mereka tak memenuhi. Mulai rombongan belajar sampai sarana dan prasarana serta infrasteuktur lain," jelas Ruddy.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved