Kamis, 30 April 2026

Dari Upah Mengojek, Nurbuat Bangun Madrasah

Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_193465" align="alignleft" width="300" caption="Nurbuat. Foto: surya/nedi putra aw"][/caption] Perawakannya kalem. Beberapa julur uban sudah tampak menghiasi rambutnya yang hitam. Namun, di usianya yang sudah lebih dari setengah abad itu, Nurbuat masih setia memelihara mimpi-mimpinya. Eko Darmoko Malang Nurbuat adalah potret masyarakat kecil asal Dusun Durmo, Desa Bantur, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Ia hidup sederhana, tapi punya banyak mimpi. Berbekal jerih payah sambil memelihara mimpi-mimpinya itu, Nurbuat sukses mendirikan Yayasan Nurul Huda yang di dalamnya terdapat dua sekolah. Sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mimpi itu berhasil diwujudkannya berkat peran 'si kuda besi kesayangan' yang dia gunakan untuk ngojek. “Dengan motor GL 1979 ini, saya bisa mewujudkan mimpi saya mendirikan madrasah,” kata Nurbuat membuka percakapan dengan Surya di Masjid Al Ikhlas, Kota Malang. Kisah ini dimulai pada tahun 1985. Ketika itu, sembari menjadi petani dan buruh di Pasar Bantur, Nurbuat juga menjadi tukang ojek untuk menambah penghasilannya. Setiap malam hari, Nurbuat selalu menyempatkan diri untuk menularkan ilmu yang dimiliknya. Ia mengajari anak-anak di kampungnya membaca dan menulis, serta menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah. Nurbuat mengajari mereka di sebuah musala berdinding anyaman bambu. “Waktu itu hanya enam anak,” kata pria yang hanya lulusan SD itu. Keinginan Nurbuat untuk berbagai ilmu kepada mereka karena sebagian besar anak-anak itu tidak bersekolah. Banyak di antara mereka putus sekolah di bangku SD lantaran kekurangan biaya. Kondisi inilah yang mengundang keprihatinan Nurbuat. Bapak dua anak ini tak rela melihat anak-anak itu tumbuh dengan pendidikan yang minim. Ia pun mulai bermimpi, andai saja ada sekolah di lokasi tinggalnya, tentu nasib anak-anak itu bakal lebih baik. Pada pertengahan 1991, dengan tabungan yang dia miliki dari mengojek, Nurbuat mulai mendirikan sebuah madrasah ibtidayah. Sekolah ini menjaring 25 murid. Meski terbilang cukup banyak, namun proses belajar mengajar masih dilakukan di musala itu. “Saya mulai membangunnya dengan menyisihkan hasil saya mengojek. Saat itu, rata-rata pendapatan saya Rp 10.000 setiap hari,” katanya. Sedikit demi sedikit, Nurbuat terus membangkitkan impiannya. Bermodal hasil ojekan itu, tahun 1992, ia mendirikan gedung Yayasan Nurul Huda disusul MTs pada 1993. Semua gedung itu ia dirikan di atas tanah warisannya. Memang tidak mewah, karena semuanya berbahan gedek (anyaman bambu). Pelan-pelan, Nurbuat memperbaiki bangunan itu. Ia terus banting tulang demi menyempurnakan mimpinya, mendirikan madrasah yang lebih layak. Memang, semuanya tidak bisa dilakukan dengan sekejap. “Saya kan hanya mengandalkan upah dari mengojek, ditambah dengan ongkos tani dan buruh pasar. Tentu harus sedikit-sedikit. Saya tidak sanggup menyewa jasa tukang,” katanya. Sekitar empat tahun lamanya, ia mengajar siswa-siswinya di dalam bilik berbahan bambu itu. Hingga akhirnya datanglah sedikit angin segar. Saat itu, Departemen Agama (Depag) Kabupaten Malang tengah melakukan pendataan terhadap madrasah yang terbelakang di desa terpencil, dan ditemukanlah madrasah yang dikelola Nurbuat. Dengan bantuan Depag inilah, di kemudian hari bisa berdiri gedung madrasah yang dipugar dari bangunan lawas berupa gedek. Angin segar ini makin kencang ketika tahun 1995, Nurbuat mendapatkan bantuan dari Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF). Alhasil, dari semua bantuan, tiga gedung pun sudah berdiri bagus, tidak terbuat dari gedek lagi. Gedung pertama seluas 36x8 meter, gedung kedua seluas 12x12 meter, dan gedung ketiga seluas 20x7 meter. Hingga kini, Nurbuat pun masih mendapatkan bantuan dari YDSF Malang. “Kami juga dapat bantuan dari Depag Rp 250.000 per bulannya untuk upah kepada 35 pengajar. Bantuan ini sudah berjalan sekitar 2 tahun,” katanya. Pengajar-pengajar ini adalah para mahasiswa yang berasal dari sekitar Bantur. Mereka, semula, berniat menjadi pengajar sukarela, namun, karena loyalitas yang tinggi, mereka pun mendapatkan ‘gaji’ dari Depag. Karena kesibukannya yang makin banyak, seiring pesatnya perkembangan madrasah yang ia dirikan, di tahun 1999 Nurbuat memutuskan untuk berhenti mengojek serta meninggalkan pekerjaannya yang lain. Ia memilih fokus mengurus yayasan dan madrasah yang didirikan dengan peluh keringatnya. “Saat ini total murid dari MI dan MTs mencapai sekitar 225 anak. Tahun 1999, saya meninggalkan dunia ojek, dunia yang turut andil mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan madrasah, ” katanya. Kini, sebagian kenangan indah terasa seperti hilang ketika 2007 lalu, ia menjual motor GL 1979 miliknya untuk biaya operasi kencing batu. Sebab, hanya motor itulah hartanya yang paling berharga yang dimiliki. “Yang penting, meskipun sudah tidak ada lagi (motornya), kini saya sudah bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya karenanya,” tuturnya mengenang masa empat tahun silam.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved