Guru dan Murid Tewas Terjun Bebas
Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_179331" align="alignleft" width="300" caption="BERSEDIH - Rizki Paramukti (8), putra Yudo Baskoro atlet terjun payung dari FASI DKI Jakarta yang tewas saat melakukan penerjunan, menangis saat berada di luar kamar mayat RS Hasan Sadikin, Bandung, Senin (13/6). Foto: tribun jabar/gani kurniawan "]
[/caption]
BANDUNG | SURYA - Sebuah upaya penyelamatan yang dramatis mewarnai tragedi kecelakaan terjun payung di lapangan Bandung Indah Golf, kompleks Lanud Sulaiman, Kecamatan Margahayu, Bandung, Jawa Barat, Senin (13/6). Seorang instruktur penerjun andalan tewas seketika bersama muridnya.
Kecelakaan tragis itu menimpa dua penerjun sipil dari Federasi Aerosport Indonesia (FASI) DKI Jakarta, Yonas Rizal Krisna dan Yudo Baskoro. Keduanya tewas setelah tubuh mereka menghunjam ke bumi akibat parasut gagal mengembang.
Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II/Bandung, Marsekal Pertama Wahyudin menjelaskan, tragedi itu berawal saat Yonas diduga pingsan di udara, beberapa saat setelah terjun dari pesawat Fokker yang membawanya bersama sejumlah atlet lainnya dengan ketinggaian 7.700 kaki (sektar 2.345 meter). Saat itu, posisi Yonas sudah berada pada ketinggian kritis, di mana dia harus mengembangkan parasut agar bisa mendarat dengan selamat.
Pada ketinggian sekitar 1.500 kaki ini, ternyata payung Yonas tidak terbuka. Melihat hal ini, Yudo – instruktur Yonas —memutuskan untuk menyelamatkannya. Yudo sendiri menunda mengembangkan parasut miliknya demi mengejar Yonas.
Begitu terkejar, pria yang akrab disapa Jibut itu langsung menarik tali di tubuh Yonas agar parasut terkembang, kemudian parasutnya sendiri, (selengkapnya lihat grafis). Namun sayang, ternyata ketinggian mereka sudah tidak memungkinkan.
Begitu parasut Yonas terkembang, tubuh mereka terlalu dekat dengan bumi, sehingga tak mampu menahan gaya gravitasi. “Yudo sempat berhasil menarik dan mengembangkan parasut Yonas. Parasut Jibut pun sempat mengembang. Tapi, karena jarak ketinggian terlalu rendah dari tanah, maka terjadilah peristiwa itu," jelas Wahyudin yang juga rekan Yudo.
Ia memperkirakan, sebelum tubuh kedua korban menghunjam tanah, posisi Yudo dan Yonas, berada di ketinggian sekitar 100 hingga 200 kaki (sekitar 60 meter, red). Dia juga menduga, kedua penerjun itu tidak mengenakan pin otomat, yaitu peralatan keselamatan yang memaksa payung terkembang secara otomatis pada ketinggian paling rendah 1.500 – 2.000 kaki.
Perlengkapan ini, ujar Wahyudin, bisa menghindarkan terjadinya kecelakaan saat melakukan penerjunan. "Ini kesalahan fatal. Prosedur keselamatan dan keamanan tidak berjalan dengan baik," kata pengurus Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Pusat tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh Wahyudin, Yonas sudah lama tidak terjun. Oleh karena itu saat melakukan penerjunan kemarin, ia sedang dibimbing Yudo. “Yudo adalah instruktur yang saat itu mendampinginya. Dia sebetulnya bisa terhindar dari peristiwa nahas itu, tapi dia memilih untuk menyelamatkan Yonas,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, Yudo adalah seorang penerjun payung yang beberapa kali menciptakan rekor baik di dalam negeri maupun internasional. Kejadian ini merupakan kehilangan besar bagi dunia terjun payung di Indonesia.
Kepala Bagian Forensik RS Hasan Sadikin Bandung, Noorman Heryadi mengatakan, jenazah Yudo Baskoro dan Yonas Krisna mengalami patah hampir di sekujur tubuh. "Hampir seluruh anggota tubuhnya patah. Memang (tubuh mereka) tidak hancur, semuanya masih lengkap, tapi bentuknya berubah karena tulangnya patah-patah," kata Noorman.
Disebutkan, dibandingkan dengan Yudo, kondisi jenazah Yonas paling mengenaskan. "Kalau Yonas semua, kepalanya juga," ujarnya.
Terjun Sejak Kelas 2 SMA
Meninggalnya Yonas dan Yudo meninggalkan duka mendalam pada keluarga dan kolega keduanya. Tjondro Sri Hutomo (77), orangtua Yonas menuturkan, ia sama sekali tak menduga bahwa anaknya akan tewas dalam latihan tersebut.
"Ia anak kedua saya. Terjun memang sudah menjadi hobinya sejak kelas 2 SMA," kata Tjondro saat ditemui di kamar mayat RS Hasan Sadikin.
Dikatakannya, selama ini Yonas tinggal bersama ibunya, Marleni Tumenggung, di Pondok Timur Mas Blok F3/15 Bekasi. Namun, sebelum kecelakaan itu terjadi, Yonas sempat tidur di rumahnya, di kawasan Awiligar selama dua hari. "Jumat pagi kemarin saya sempat ngobrol tentang proyek pasir besi di Arab Saudi, tidak ada firasat apa pun akan kehilangan dia," sesalnya.
Di mata sang ayah, Yonas adalah anak yang baik. Bahkan, Yonas sempat menjanjikan obat untuk menyembuhkan sakit asma sang ayah selama bertahun-tahun. “Itu yang selalu saya ingat dari dia. Tapi, akhirnya saya harus kehilangan dia. Semoga dia tenang," tutur Tjondro dengan wajah sedih.
Tak hanya kepergian Yonas yang menimbulkan duka, meninggalnya sang instruktur Yudo Baskoro juga menimbulkan kesedihan bagi para rekannya.
Wahyuni, sahabat Yudo, mengatakan, pagi hari sebelum sahabatnya tersebut terbang untuk terjun payung, korban sempat menitipkan anaknya. "Tadi ia sempat nitipin anaknya, Rizki Harimukti (8), sebelum terbang," katanya.
Menurut dia, Yudo adalah salah satu penerjun senior di antara mereka. Ia sudah punya gelar master dan terjun lebih dari 5.000 kali. Ia juga sudah pernah memecahkan rekor dunia.
“Yudo orangnya sangat supel, loyal, dan setia kawan. Ia terkenal berani, meskipun sempat kecelakaan tahun 2004 lalu dan pernah koma selama dua bulan. Saat kecelakaan itu, ia terjun dengan satuan militer di Jedah Arab Saudi pada event olimpiade terjun,” tuturnya.
Karena didukung teman-temannya, Yudo, kata Wahyuni, kemarin terjun lagi. Namun, tanpa diduga, penerjunan Senin kemarin menjadi yang terakhir baginya. “Ini merupakan terjun terbaiknya karena sedang berusaha menolong teman," ungkapnya.
Ir Bagio Setiono, penerjun asal Malang yang juga mantan murid Yudo, menyebut, saat kecelakaan itu keduanya tengah melakukan latihan free fall. Penerjunan ini biasanya dilakukan di ketinggian 7.500 kaki, dengan batas minimum parasut harus mengembang pada ketinggian 3.500 kaki. Yonas diketahui sudah lama tidak terjun sejak 1983, sehingga ia harus didampingi. ”Sehingga ketika akan terjun kembali, dia menjadi siswa lagi,” kata Bagio yang kemarin melayat ke rumah duka.
Aturannya, kata Bagio, seorang siswa yang akan terjun harus didampingi dua instruktur di kanan dan kiri. Penerjunan itu sudah dilakukan sesuai prosedur, yaitu didampingi Yudo dan Tutik.
”Begitu Yonas mengalami kesulitan, Yudo sebagai instruktur mempunyai tanggung jawab untuk menolong membukakan parasut. Ketika itu, Yudo berusaha mengejar Yonas untuk membukakan parasut. Namun, belum sampai parasut membuka sempurna, tubuh mereka sudah menyentuh tanah,” katanya.
Diungkapkan Bagio, dari ketinggian sekitar 9.000 kaki turun ke 3.500 kaki, waktu yang ada tidak sampai 35 detik. ”Karena itu, Anda bisa membayangkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuka parasut Yonas dari ketinggian itu sampai ke tanah,” papar Bagyo.
Minggu sore kemarin, setelah diotopsi, jenazah Yudo diterbangkan ke dari Husein Sastranegara Bandung menuju Jakarta untuk disemayamkan di rumah duka Jalan Anggur I No 8 Cipete, Jakarta Selatan. "Pukul 09.00 WIB besok (hari ini, red), ia akan diberangkatkan dari sini (rumah duka) ke TPU Jeruk Purut," kata kakak almarhum, Yudha Irlangga.
Meskipun merasa sedih, Yudha merasa bangga dengan adiknya tersebut karena meninggal untuk menolong anak didiknya yang sedang belajar terjun payung. Sedangkan jenazah Yonas kemarin dibawa ke rumah duka di Jalan Matraman II, Bandung. Terpisah, Korps Pasukan Khas TNI AU telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus tewasnya Yudo Baskoro dan Yonas Rizal Krisna. Menurut Kepala Penerangan Kopaskhas TNI AU, Mayor Rifaid Bima, kedua korban kemarin terjun bersama 11 orang lainnya. Ketigabelas orang itu sebagian besar anggota Paskhas TNI AU dan sisanya berasal dari sipil.
“Pesawat Fokker dengan nomor lambung 2708 yang dipiloti Kapten Pilot Medianto itu terbang dari Bandara Husein Sastranegara, pukul 09.05. Para penerjun kemudian terjun dan mendarat di Kompleks Lanud Sulaiman,” katanya dikutip tribunjabar.
Ia mengatakan, para penerjun sipil itu terjun dalam misi refreshing. Sedangkan para anggota Paskhas terjun dalam misi Pendidikan Para Lanjut Tempur (PLT). Tak heran saat terjun, anggota pasukan elite TNI AU ini melengkapi diri dengan ransel tempur dan senjata api.
[/caption]
BANDUNG | SURYA - Sebuah upaya penyelamatan yang dramatis mewarnai tragedi kecelakaan terjun payung di lapangan Bandung Indah Golf, kompleks Lanud Sulaiman, Kecamatan Margahayu, Bandung, Jawa Barat, Senin (13/6). Seorang instruktur penerjun andalan tewas seketika bersama muridnya.
Kecelakaan tragis itu menimpa dua penerjun sipil dari Federasi Aerosport Indonesia (FASI) DKI Jakarta, Yonas Rizal Krisna dan Yudo Baskoro. Keduanya tewas setelah tubuh mereka menghunjam ke bumi akibat parasut gagal mengembang.
Kepala Staf Komando Garnisun Tetap II/Bandung, Marsekal Pertama Wahyudin menjelaskan, tragedi itu berawal saat Yonas diduga pingsan di udara, beberapa saat setelah terjun dari pesawat Fokker yang membawanya bersama sejumlah atlet lainnya dengan ketinggaian 7.700 kaki (sektar 2.345 meter). Saat itu, posisi Yonas sudah berada pada ketinggian kritis, di mana dia harus mengembangkan parasut agar bisa mendarat dengan selamat.
Pada ketinggian sekitar 1.500 kaki ini, ternyata payung Yonas tidak terbuka. Melihat hal ini, Yudo – instruktur Yonas —memutuskan untuk menyelamatkannya. Yudo sendiri menunda mengembangkan parasut miliknya demi mengejar Yonas.
Begitu terkejar, pria yang akrab disapa Jibut itu langsung menarik tali di tubuh Yonas agar parasut terkembang, kemudian parasutnya sendiri, (selengkapnya lihat grafis). Namun sayang, ternyata ketinggian mereka sudah tidak memungkinkan.
Begitu parasut Yonas terkembang, tubuh mereka terlalu dekat dengan bumi, sehingga tak mampu menahan gaya gravitasi. “Yudo sempat berhasil menarik dan mengembangkan parasut Yonas. Parasut Jibut pun sempat mengembang. Tapi, karena jarak ketinggian terlalu rendah dari tanah, maka terjadilah peristiwa itu," jelas Wahyudin yang juga rekan Yudo.
Ia memperkirakan, sebelum tubuh kedua korban menghunjam tanah, posisi Yudo dan Yonas, berada di ketinggian sekitar 100 hingga 200 kaki (sekitar 60 meter, red). Dia juga menduga, kedua penerjun itu tidak mengenakan pin otomat, yaitu peralatan keselamatan yang memaksa payung terkembang secara otomatis pada ketinggian paling rendah 1.500 – 2.000 kaki.
Perlengkapan ini, ujar Wahyudin, bisa menghindarkan terjadinya kecelakaan saat melakukan penerjunan. "Ini kesalahan fatal. Prosedur keselamatan dan keamanan tidak berjalan dengan baik," kata pengurus Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Pusat tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh Wahyudin, Yonas sudah lama tidak terjun. Oleh karena itu saat melakukan penerjunan kemarin, ia sedang dibimbing Yudo. “Yudo adalah instruktur yang saat itu mendampinginya. Dia sebetulnya bisa terhindar dari peristiwa nahas itu, tapi dia memilih untuk menyelamatkan Yonas,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, Yudo adalah seorang penerjun payung yang beberapa kali menciptakan rekor baik di dalam negeri maupun internasional. Kejadian ini merupakan kehilangan besar bagi dunia terjun payung di Indonesia.
Kepala Bagian Forensik RS Hasan Sadikin Bandung, Noorman Heryadi mengatakan, jenazah Yudo Baskoro dan Yonas Krisna mengalami patah hampir di sekujur tubuh. "Hampir seluruh anggota tubuhnya patah. Memang (tubuh mereka) tidak hancur, semuanya masih lengkap, tapi bentuknya berubah karena tulangnya patah-patah," kata Noorman.
Disebutkan, dibandingkan dengan Yudo, kondisi jenazah Yonas paling mengenaskan. "Kalau Yonas semua, kepalanya juga," ujarnya.
Terjun Sejak Kelas 2 SMA
Meninggalnya Yonas dan Yudo meninggalkan duka mendalam pada keluarga dan kolega keduanya. Tjondro Sri Hutomo (77), orangtua Yonas menuturkan, ia sama sekali tak menduga bahwa anaknya akan tewas dalam latihan tersebut.
"Ia anak kedua saya. Terjun memang sudah menjadi hobinya sejak kelas 2 SMA," kata Tjondro saat ditemui di kamar mayat RS Hasan Sadikin.
Dikatakannya, selama ini Yonas tinggal bersama ibunya, Marleni Tumenggung, di Pondok Timur Mas Blok F3/15 Bekasi. Namun, sebelum kecelakaan itu terjadi, Yonas sempat tidur di rumahnya, di kawasan Awiligar selama dua hari. "Jumat pagi kemarin saya sempat ngobrol tentang proyek pasir besi di Arab Saudi, tidak ada firasat apa pun akan kehilangan dia," sesalnya.
Di mata sang ayah, Yonas adalah anak yang baik. Bahkan, Yonas sempat menjanjikan obat untuk menyembuhkan sakit asma sang ayah selama bertahun-tahun. “Itu yang selalu saya ingat dari dia. Tapi, akhirnya saya harus kehilangan dia. Semoga dia tenang," tutur Tjondro dengan wajah sedih.
Tak hanya kepergian Yonas yang menimbulkan duka, meninggalnya sang instruktur Yudo Baskoro juga menimbulkan kesedihan bagi para rekannya.
Wahyuni, sahabat Yudo, mengatakan, pagi hari sebelum sahabatnya tersebut terbang untuk terjun payung, korban sempat menitipkan anaknya. "Tadi ia sempat nitipin anaknya, Rizki Harimukti (8), sebelum terbang," katanya.
Menurut dia, Yudo adalah salah satu penerjun senior di antara mereka. Ia sudah punya gelar master dan terjun lebih dari 5.000 kali. Ia juga sudah pernah memecahkan rekor dunia.
“Yudo orangnya sangat supel, loyal, dan setia kawan. Ia terkenal berani, meskipun sempat kecelakaan tahun 2004 lalu dan pernah koma selama dua bulan. Saat kecelakaan itu, ia terjun dengan satuan militer di Jedah Arab Saudi pada event olimpiade terjun,” tuturnya.
Karena didukung teman-temannya, Yudo, kata Wahyuni, kemarin terjun lagi. Namun, tanpa diduga, penerjunan Senin kemarin menjadi yang terakhir baginya. “Ini merupakan terjun terbaiknya karena sedang berusaha menolong teman," ungkapnya.
Ir Bagio Setiono, penerjun asal Malang yang juga mantan murid Yudo, menyebut, saat kecelakaan itu keduanya tengah melakukan latihan free fall. Penerjunan ini biasanya dilakukan di ketinggian 7.500 kaki, dengan batas minimum parasut harus mengembang pada ketinggian 3.500 kaki. Yonas diketahui sudah lama tidak terjun sejak 1983, sehingga ia harus didampingi. ”Sehingga ketika akan terjun kembali, dia menjadi siswa lagi,” kata Bagio yang kemarin melayat ke rumah duka.
Aturannya, kata Bagio, seorang siswa yang akan terjun harus didampingi dua instruktur di kanan dan kiri. Penerjunan itu sudah dilakukan sesuai prosedur, yaitu didampingi Yudo dan Tutik.
”Begitu Yonas mengalami kesulitan, Yudo sebagai instruktur mempunyai tanggung jawab untuk menolong membukakan parasut. Ketika itu, Yudo berusaha mengejar Yonas untuk membukakan parasut. Namun, belum sampai parasut membuka sempurna, tubuh mereka sudah menyentuh tanah,” katanya.
Diungkapkan Bagio, dari ketinggian sekitar 9.000 kaki turun ke 3.500 kaki, waktu yang ada tidak sampai 35 detik. ”Karena itu, Anda bisa membayangkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuka parasut Yonas dari ketinggian itu sampai ke tanah,” papar Bagyo.
Minggu sore kemarin, setelah diotopsi, jenazah Yudo diterbangkan ke dari Husein Sastranegara Bandung menuju Jakarta untuk disemayamkan di rumah duka Jalan Anggur I No 8 Cipete, Jakarta Selatan. "Pukul 09.00 WIB besok (hari ini, red), ia akan diberangkatkan dari sini (rumah duka) ke TPU Jeruk Purut," kata kakak almarhum, Yudha Irlangga.
Meskipun merasa sedih, Yudha merasa bangga dengan adiknya tersebut karena meninggal untuk menolong anak didiknya yang sedang belajar terjun payung. Sedangkan jenazah Yonas kemarin dibawa ke rumah duka di Jalan Matraman II, Bandung. Terpisah, Korps Pasukan Khas TNI AU telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus tewasnya Yudo Baskoro dan Yonas Rizal Krisna. Menurut Kepala Penerangan Kopaskhas TNI AU, Mayor Rifaid Bima, kedua korban kemarin terjun bersama 11 orang lainnya. Ketigabelas orang itu sebagian besar anggota Paskhas TNI AU dan sisanya berasal dari sipil.
“Pesawat Fokker dengan nomor lambung 2708 yang dipiloti Kapten Pilot Medianto itu terbang dari Bandara Husein Sastranegara, pukul 09.05. Para penerjun kemudian terjun dan mendarat di Kompleks Lanud Sulaiman,” katanya dikutip tribunjabar.
Ia mengatakan, para penerjun sipil itu terjun dalam misi refreshing. Sedangkan para anggota Paskhas terjun dalam misi Pendidikan Para Lanjut Tempur (PLT). Tak heran saat terjun, anggota pasukan elite TNI AU ini melengkapi diri dengan ransel tempur dan senjata api. KOMENTAR