Fastfood Bento Kaki Lima

Tren makan di luar negeri dengan cepat diadaptasi oleh orang Indonesia. Dengan beberapa variasi, biasanya makanan cepat saji disesuaikan dengan selera lokal. Oleh: Yuyun Anwar Konsultan dan Penulis Buku Kuliner Indonesia Resto fastfood selalu dipadati. Orang bukan hanya karena ingin makan hidangan cepat saji karena diburu waktu untuk kembali beraktivitas, tetapi juga untuk menjaga gengsi. Gaya hidup itu dimulai dari kota besar dan kemudian dengan cepat menyebar. Gerai fastfood kemudian diterjemahkan dalam gaya yang mirip oleh mereka yang pintar melihat peluang. Makanan cepat saji di resto sudah pasti tidak terjangkau oleh masyarakat kebanyakan. Itu sebabnya, duplikasi makanan cepat saji dengan mudah ditemui bahkan di kios kaki lima. Sebut saja ayam goreng, kentang goreng, kebab, burger, dan sebagainya. Kini, meniru kebiasaan makan orang Jepang, nasi kotak yang lazim disebut bento mudah diperoleh di kaki lima. Bento merek terkenal menjadi inspirasi karena isiannya dengan mudah divariasikan. Berbeda dengan makanan cepat saji Amerika yang didominasi olahan daging dan ayam, makanan cepat saji Jepang banyak menyajikan menu seafood dan sayuran. Karakter makanan Jepang inilah yang sering dikonotasikan sebagai makanan sehat. Disebut fastfood, karena penyajiaanya yang cepat dan mudah disajikan. Pembeli bisa memesan sesuai menu paket atau atau memesan menu tunggal. Ciri utamanya menu ini disertai nasi. Ini keuntungan bento karena dengan menu nasi akan lebih mudah diterima orang Indonesia sebagai makanan utama dan bukan camilan atau makanan tambahan. Tren makanan cepat saji Jepang dalam skala kecil dan mudah didapat menjadi nilai lebih usaha ini. Dengan gerobak khusus dalam bentuk counter cantik, akan mengundang pembeli. Siap Berbisnis Bento Untuk membuat makanan cepat saji kaki lima perlu dipilih mana yang paling populer dan minat konsumen yang akan dibidik. Makanan Jepang (bento) menjadi salah satu pilihan yang populer. Beberapa menu populer semacam ekkado, udang tepung, teriyaki, karage, atau cumi ring dan lainnya dapat menjadi andalan. Sesuaikan dengan budget yang dimiliki. Penyajian makanan cepat saji selalu mengutamakan kecepatan dan ketepatan dalam menyajikan makanan. Berbeda dengan jenis makanan tradisional misal ikan bakar atau mi goreng membutuhkan waktu yang relatif lama dalam penyiapannya. Perhatikan kelengkapan usaha sesuai dengan pilihan jenis makanannya. Beberapa hal berikut bisa jadi pertimbangan untuk membuat usaha fastfood kaki lima. Siapkan gerobak dengan warna dan desain yang menarik sehingga tampil lebih modern dan bersih, layaknya outlet fastfood di Jepang. Hiasi dengan gambar dan design yang praktis seolah terkesan up to date. Makanan yang akan disajikan sudah dalam bentuk setengah jadi. Tidak perlu membuat makanan dari awal sampai akhir supaya praktis dan cepat, sesuai dengan karakter fastfood. Misal, ekkado siap goreng dalam 2–3 menit. Karage sudah siap goreng, menu udang goreng tinggal susun . Dengan begitu pembeli tidak perlu menunggu terlalu lama. Tetapkan menu dan paket menu yang biasanya selalu menjadi ciri makanan fastfood. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penjualan atau menjadi ciri khusus. Perlu juga menyusun manajemen penanganan dan penyajian makanan agar seragam dari satu outlet ke outlet lainnya. Ini berkaitan dengan training yang harus dilakukan kepada penjual makanan cepat saji. Sediakan kemasan yang menarik jika ingin dibawa pulang, atau mengupayakan peralatan praktis dan sederhana misal piring sekali pakai atau gelas sekali pakai. Dengan begitu pembeli tak harus duduk di meja untuk menikmati makanan, tetapi bisa sambil jalan atau mengendarai kendaraan sambil makan. Udang Goreng Ekkado Bahan
  • 200 gr udang kupas
  • 200 gr ikan tanpa duri dan kulit
  • 50 gr air es
  • 50 gr tapioka
  • 2 siung bawang putih
  • ½ sdt merica
  • 1 batang bawang daun, rajang halus
  • 1 sdm minyak wijen
  • 1 sdm gula
  • 1 sdt garam
  • 10 butir telur puyuh yang sudah direbus, kupas, untuk isi bagian dalam
  • 1 lembar kulit tahu dipotong menjadi 12 x 12 cm
  • 10 lembar daun kucai yang sudah dicelup air panas.
Cara Membuat Potong kulit tahu sesuai ukuran. Bersihkan garam yang melekat dengan lap basah. Sisihkan. Siapkan food processor, masukkan udang, ikan, air es lalu aduk sampai tercampur rata dengan menggunakan kecepatan tinggi. Masukkan tepung dan bumbu. Aduk lagi sampai rata. Angkat. Masukkan rajangan daun bawang dan minyak wijen. Aduk dengan spatula. Ambil 30 gr adonan, letakkan di tengah bagian kulit tahu, isi dengan 1 butir telur puyuh. Bulatkan sehingga telur puyuh ada di tengah. Bungkus dengan menggunakan kulit tahu. Ikat bagian ujung dengan daun kucai. Lakukan sampai adonan habis. Siapkan pengukus. Kukus ekkado selama 20-30 menit sampai matang. Angkat dan dinginkan. Jika ingin menghidangkan, goreng dalam minyak panas selama 5-7 menit sampai kuning keemasan. Sajikan dengan nasi hangat dan salad.
Penulis: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved