Rabu, 8 April 2026

Promotor Muda Tidak Trauma Pengalaman Pahit Orangtua

Penulis: Heru Pramono |

Banyak bukti promotor-promotor tinju profesional Jawa Timur selalu merugi usai menggelar kejuaraan. Sepinya sponsor dan minimnya dukungan pemerintah, membuat promotor seakan harakiri setiap menggelar kejuaraan.

Haorrahman dwi s

Surabaya

Promotor internasional Damianus Wera pernah rugi menggelar kejuaraan. Saat kejuaraan internasional World Boxing Organization Asia Pacific (WBO Aspac), di Surabaya, 29 Januari lalu, menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Dana sebesar itu berasal dari saku Damianus, karena tanpa sponsor dan dukungan pemerintah.

Namun, pengalaman merugi tidak membuat putra Damianus, Donbosco Daniel Ware, jera untuk mengikuti jejak ayahnya menjadi promotor. Daniel pun sudah menggelar kejuaraan pertamanya yakni Sabuk Emas Wali Kota Surabaya. Event itu memperingati ulang tahun ke-718 Kota Surabaya, Sabtu (28/5) lalu, di Penjaringan Rungkut Surabaya.

Di kejuaraan pertamanya itu, Daniel sengaja menggelar secara gratis di kawasan rumah susun (rusun), agar tinju makin dekat dengan masyarakat. Hasilnya, luar biasa. Ribuan warga datang menyaksikan olahraga keras itu. Mereka seakan kembali pada romantisme era 1980-an.

Namun sangat disayangkan, orang penting yang namanya terpampang di titel kejuaraan, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, tidak hadir dalam kejuaraan tersebut. ”Kejuaraan ini akan terasa lebih semarak jika wali kota hadir, bergabung bersama warganya menyaksikan kejuaraan,” kata Daniel.

Biaya kejuaraan ditanggung pribadi Daniel, sekitar Rp 100 juta.

Rugi! Sudah pasti, karena kejuaraan ini tanpa dukungan sponsor. Namun sama seperti ayahnya, Daniel tidak trauma dengan kerugian yang dialaminya. ”Justru menjadi tantangan tersendiri bagi saya, untuk kembali berbuat bagi dunia tinju profesional di Jatim,” katanya.

Terjunnya pria kelahiran 2 April 1989 itu di dunia promotor, merupakan kabar gembira. Mengingat beberapa keturunan mendiang promotor seperti trauma untuk hadir kembali ke dunia promotor. Sebut saja Dondo Sugiharto, putra promotor almarhum Aseng Sugiharto, dan Karina Fifi Laksono, putri almarhum Setiyadi Laksono.

Selain kehadiran Daniel, kabar gembira lainnya datang dari putri bungsu almarhum Eddy Pirih, Mona Amelia Pirih. Sama seperti Daniel, Mona kini berusaha untuk menjalankan amanat dari ayahnya.

Beberapa tahun terakhir, Mona seakan menghilang. Kiprah sebagai promotor terakhir kali pada 2004 lalu dengan menggelar Arena Tinju Bintang dan ditayangkan rutin stasiun televisi swasta di Jatim. Namun, tidak berlangsung lama, kejuaraan rutin itu akhirnya berhenti.

Namun, tanpa pengumuman sebelumnya, Mona kembali hadir di dunia tinju saat menyaksikan kejuaraan Wali Kota Surabaya. Tidak hanya sekadar hadir, Mona juga ingin menggelar kejuaraan serupa, 3 Juli mendatang di Surabaya bertepatan dengan ulang tahun ayahnya. "Saya teringat pesan mendiang ayah, Mona jika kamu punya kelebihan berikan pada mereka yang membutuhkan,” kata Mona.

Tidak hanya sekadar itu, ibu tiga anak ini bertekad untuk meningkatkan kualitas hidup mantan petinju. ”Banyak petinju yang tidak memiliki latar pendidikan cukup, sehingga mereka tidak bisa mengelola keuangan. Setelah pensiun banyak dari mereka yang menjadi security, debt collector, atau bodyguard,” kata wanita kelahiran 3 Februari 1974 itu.

Itu sebabnya, Mona ingin memberikan pelatihan kepada petinju bagaimana mengelola uang, untuk kebutuhan masa pensiunnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved