Raja Jambret KA Ditembak Mati
Penulis: Heru Pramono |
[caption id="attachment_172744" align="alignleft" width="300" caption="DITEMBAK - Kombes Pol Coki Manurung (kiri) dan Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo menunjukkan foto raja jambret yang tewas, Kamis (12/5). Foto: surya/sugiharto "]
[/caption]
SURABAYA l SURYA Online- Timah panas anggota Unit Resmob Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mengakhiri petualangan Imam alias Puput, seorang perampok spesialis penumpang kereta api (KA). Lelaki 41 tahun asal Kertosono, Nganjuk itu ditembak mati karena melawan saat hendak ditangkap, Kamis (12/5) pagi sekitar pukul 04.00 WIB.
Bukan perkara mudah bagi polisi untuk menaklukkan residivis yang di dunia jambret wilayah Surabaya dikenal sebagai raja tega itu. Polisi membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk mengendus keberadaan Puput. Pasalnya, Puput selalu berpindah operasi dari satu kereta ke kerata lainnya.
“Dia ini tidak pernah menetap di satu wilayah operasi. Puput memang memiliki mobilitas yang tinggi. Bahkan mungkin setinggi jadwal keberangkatan kereta api kelas ekonomi yang ada di Pulau Jawa,” ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung didampingi Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo, Kamis (12/5).
Puput dieksekusi mati setelah lelaki berkepala botak itu melawan dan melukai polisi yang hendak menangkapnya. “Anggota tidak mau ambil resiko karena saat itu kondisi kereta sedang melaju dan dia sudah sempat melompat dari kereta,” imbuh Coki.
Penangkapan Puput diawali adanya informasi dari seorang informan. Informasi itu menyebutkan, Puput kembali masuk ke wilayah Surabaya setelah beberapa saat menghilang. Polisi mendengar kabar kalau Puput hendak beraksi lagi di atas KA Penataran jurusan Surabaya-Blitar.
Puput naik kereta api dari Stasiun Gubeng dan langsung menelusuri setiap gerbong untuk mencari sasaran. Sejumlah polisi mencermati gerak-gerik Puput. Beberapa anggota Unit Resmob yang ada di atas kereta, memosisikan diri di sejumlah titik untuk menutup akses Puput bisa kabur.
Rupanya Puput mengincar seorang mahasiswi asal Bandung, Jawa Barat bernama Wanny (22). Saat itu kereta api sedang melaju di kawasan Jl Nias. Saat Puput mendekati korban, polisi bergegas meringkus Puput.
“Anggota sempat berjibaku dengan Puput,” ujar Kanit Resmob AKP Agung Pribadi yang memimpin penyergapan itu. Bahkan Puput sempat menendang dua polisi hingga keduanya terlempar dari atas kereta api yang melaju dengan kecepatan 50 km/jam.
Akibat tendangan itu, Briptu Rohman mengalami luka di bagian kepala, sedangkan Briptu Alex luka-luka di bagian kedua tangan dan tubuh. Melihat dua kawannya terjatuh, beberapa polisi yang masih berada di atas kereta membidik tubuh Puput dengan pistol mereka.
Bukannya menyerah, Puput malah mengeluarkan senjata tajam untuk menyerang polisi. Sejurus kemudian Puput melompat ke luar gerbong. Tak ingin buruannya kabur, polisi langsung menembakkan senjata. Puput tersungkur setelah satu peluru menembus dada kirinya. Ia tewas di lokasi kejadian dekat palang pintu kereta api di Jl Nias.
Aksi ini sempat mengundang perhatian dari penumpang kereta. Untungnya tidak ada satu pun penumpang yang terluka karena kondisi kereta saat itu memang tidak begitu ramai.
Dari catatan kepolisian, Puput bukan nama asing di dunia kejahatan. Sebelum ditembak mati, Puput sempat dibui karena kasus yang sama dan keluar penjara pada 2010 lalu.
Puput dikenal sebagai raja tega. Dia tidak segan mendorong korbannya dari atas kereta api ketika sang korban berusaha mempertahankan hartanya.
Beberapa bulan lalu, polisi menemukan mayat wanita yang tidak diketahui identitasnya tergeletak di samping rel kawasan Tambak Sari. Hasil penyelidikan polisi menyimpulkan kalau perempuan itu merupakan korban perampokan di atas kereta api. Berdasarkan informasi sejumlah saksi, wanita itu didorong ke luar kereta oleh pelaku yang ciri-cirinya mirip dengan Puput.
Puput sendiri biasanya langsung melompat ke luar gerbong setelah sukses membawa barang jarahan, saat kereta sedang melaju. Ia kemudian menghilang di perkampungan warga.
Puput juga diketahui menganiaya perempuan asal Banyuwangi dan merampas tas berisi uang tunai Rp 9 juta. Kala itu, Puput menghantam kepala korban dengan batu paving hingga sekarat karena si korban berusaha melawan.
Polisi sudah menerima 16 laporan terkait kasus perampasan di atas kereta. Semua korban mengungkapkan ciri-ciri pelaku yang identik dengan Puput. “Semua korban mengatakan pelaku berkepala botak dan wajah bulat. Ciri-ciri itu semakin menguatkan dugaan kami bahwa pelakunya adalah Puput,” tandas AKP Agung.
Ketika di atas KA, Puput tidak tampak sebagai penjahat. Dalam setiap aksinya ia selalu berpakaian rapi. Wajahnya pun terkesan ramah dan tidak garang seperti penjahat umumnya.
Polisi mengamankan sejumlah barang milik Puput yang dijadikan barang bukti. Di antaranya, sebilah pisau penghabisan, satu tas milik korban, dompet pelaku berisi KTP, SIM C, uang Rp 10.000, satu HP dan satu STNK sepeda motor Yamaha Jupiter nopol W TTBF PN.
Asisten Manajer Humas Eksternal PT KAI Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Herri Winarno menyambut gembira atas terbunuhnya Puput, raja jambret spesialis penumpang KA. Ia mengakui masih ada berbagai jenis kejahatan di atas KA sehingga meresahkan penumpang.
“Modus mereka bermacam-macam, baik di KA kelas eksekutif maupun di kelas ekonomi. Dan sebenarnya kami sudah menempatkan petugas Polsuska dan dibantu anggota Brimob,” kata Herri kepada Surya.
Herri mengatakan, aksi kejahatan seperti dilakukan Puput biasanya terjadi di atas KA ekonomi. ”Mereka biasanya menyasar uang bukan barang,” katanya. Wilayah operasinya termasuk KA Penataran jurusan Surabaya (Stasiun Gubeng)- Blitar, serta Kereta Rel Diesel (KRD).
Selain di kelas ekonomi, aksi kejahatan juga masih terjadi di KA kelas eksekutif. Tetapi modus kejahatan di kelas eksekutif ’lebih halus’, karena jumlah penumpang yang lebih sedikit dan teratur. Di kelas ekonomi, penjahat umumnya beraksi disertai kekerasan sedangkan di kelas eksekutif, pelaku menjarah saat penumpang tidur. ”Di kelas eksekutif , pelaku biasanya melakukan penjarahan tanpa kekerasan, di mana pelaku mengambil barang dari tas dengan cara merobek, lalu menggantinya dengan batu agar dikira barang tetap berada di tempat,” papar Herri.
Sejumlah KA eksekutif yang menjadi incaran penjahat di antaranya KA Bima jurusan Jakarta-Surabaya, KA Turangga jurusan Bandung-Surabaya, serta KA yang melalui jalur Surabaya-Jogjakarta dan Surabaya-Solo.k2/sda
[/caption]
SURABAYA l SURYA Online- Timah panas anggota Unit Resmob Sat Reskrim Polrestabes Surabaya mengakhiri petualangan Imam alias Puput, seorang perampok spesialis penumpang kereta api (KA). Lelaki 41 tahun asal Kertosono, Nganjuk itu ditembak mati karena melawan saat hendak ditangkap, Kamis (12/5) pagi sekitar pukul 04.00 WIB.
Bukan perkara mudah bagi polisi untuk menaklukkan residivis yang di dunia jambret wilayah Surabaya dikenal sebagai raja tega itu. Polisi membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk mengendus keberadaan Puput. Pasalnya, Puput selalu berpindah operasi dari satu kereta ke kerata lainnya.
“Dia ini tidak pernah menetap di satu wilayah operasi. Puput memang memiliki mobilitas yang tinggi. Bahkan mungkin setinggi jadwal keberangkatan kereta api kelas ekonomi yang ada di Pulau Jawa,” ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Coki Manurung didampingi Kasat Reskrim AKBP Anom Wibowo, Kamis (12/5).
Puput dieksekusi mati setelah lelaki berkepala botak itu melawan dan melukai polisi yang hendak menangkapnya. “Anggota tidak mau ambil resiko karena saat itu kondisi kereta sedang melaju dan dia sudah sempat melompat dari kereta,” imbuh Coki.
Penangkapan Puput diawali adanya informasi dari seorang informan. Informasi itu menyebutkan, Puput kembali masuk ke wilayah Surabaya setelah beberapa saat menghilang. Polisi mendengar kabar kalau Puput hendak beraksi lagi di atas KA Penataran jurusan Surabaya-Blitar.
Puput naik kereta api dari Stasiun Gubeng dan langsung menelusuri setiap gerbong untuk mencari sasaran. Sejumlah polisi mencermati gerak-gerik Puput. Beberapa anggota Unit Resmob yang ada di atas kereta, memosisikan diri di sejumlah titik untuk menutup akses Puput bisa kabur.
Rupanya Puput mengincar seorang mahasiswi asal Bandung, Jawa Barat bernama Wanny (22). Saat itu kereta api sedang melaju di kawasan Jl Nias. Saat Puput mendekati korban, polisi bergegas meringkus Puput.
“Anggota sempat berjibaku dengan Puput,” ujar Kanit Resmob AKP Agung Pribadi yang memimpin penyergapan itu. Bahkan Puput sempat menendang dua polisi hingga keduanya terlempar dari atas kereta api yang melaju dengan kecepatan 50 km/jam.
Akibat tendangan itu, Briptu Rohman mengalami luka di bagian kepala, sedangkan Briptu Alex luka-luka di bagian kedua tangan dan tubuh. Melihat dua kawannya terjatuh, beberapa polisi yang masih berada di atas kereta membidik tubuh Puput dengan pistol mereka.
Bukannya menyerah, Puput malah mengeluarkan senjata tajam untuk menyerang polisi. Sejurus kemudian Puput melompat ke luar gerbong. Tak ingin buruannya kabur, polisi langsung menembakkan senjata. Puput tersungkur setelah satu peluru menembus dada kirinya. Ia tewas di lokasi kejadian dekat palang pintu kereta api di Jl Nias.
Aksi ini sempat mengundang perhatian dari penumpang kereta. Untungnya tidak ada satu pun penumpang yang terluka karena kondisi kereta saat itu memang tidak begitu ramai.
Dari catatan kepolisian, Puput bukan nama asing di dunia kejahatan. Sebelum ditembak mati, Puput sempat dibui karena kasus yang sama dan keluar penjara pada 2010 lalu.
Puput dikenal sebagai raja tega. Dia tidak segan mendorong korbannya dari atas kereta api ketika sang korban berusaha mempertahankan hartanya.
Beberapa bulan lalu, polisi menemukan mayat wanita yang tidak diketahui identitasnya tergeletak di samping rel kawasan Tambak Sari. Hasil penyelidikan polisi menyimpulkan kalau perempuan itu merupakan korban perampokan di atas kereta api. Berdasarkan informasi sejumlah saksi, wanita itu didorong ke luar kereta oleh pelaku yang ciri-cirinya mirip dengan Puput.
Puput sendiri biasanya langsung melompat ke luar gerbong setelah sukses membawa barang jarahan, saat kereta sedang melaju. Ia kemudian menghilang di perkampungan warga.
Puput juga diketahui menganiaya perempuan asal Banyuwangi dan merampas tas berisi uang tunai Rp 9 juta. Kala itu, Puput menghantam kepala korban dengan batu paving hingga sekarat karena si korban berusaha melawan.
Polisi sudah menerima 16 laporan terkait kasus perampasan di atas kereta. Semua korban mengungkapkan ciri-ciri pelaku yang identik dengan Puput. “Semua korban mengatakan pelaku berkepala botak dan wajah bulat. Ciri-ciri itu semakin menguatkan dugaan kami bahwa pelakunya adalah Puput,” tandas AKP Agung.
Ketika di atas KA, Puput tidak tampak sebagai penjahat. Dalam setiap aksinya ia selalu berpakaian rapi. Wajahnya pun terkesan ramah dan tidak garang seperti penjahat umumnya.
Polisi mengamankan sejumlah barang milik Puput yang dijadikan barang bukti. Di antaranya, sebilah pisau penghabisan, satu tas milik korban, dompet pelaku berisi KTP, SIM C, uang Rp 10.000, satu HP dan satu STNK sepeda motor Yamaha Jupiter nopol W TTBF PN.
Asisten Manajer Humas Eksternal PT KAI Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Herri Winarno menyambut gembira atas terbunuhnya Puput, raja jambret spesialis penumpang KA. Ia mengakui masih ada berbagai jenis kejahatan di atas KA sehingga meresahkan penumpang.
“Modus mereka bermacam-macam, baik di KA kelas eksekutif maupun di kelas ekonomi. Dan sebenarnya kami sudah menempatkan petugas Polsuska dan dibantu anggota Brimob,” kata Herri kepada Surya.
Herri mengatakan, aksi kejahatan seperti dilakukan Puput biasanya terjadi di atas KA ekonomi. ”Mereka biasanya menyasar uang bukan barang,” katanya. Wilayah operasinya termasuk KA Penataran jurusan Surabaya (Stasiun Gubeng)- Blitar, serta Kereta Rel Diesel (KRD).
Selain di kelas ekonomi, aksi kejahatan juga masih terjadi di KA kelas eksekutif. Tetapi modus kejahatan di kelas eksekutif ’lebih halus’, karena jumlah penumpang yang lebih sedikit dan teratur. Di kelas ekonomi, penjahat umumnya beraksi disertai kekerasan sedangkan di kelas eksekutif, pelaku menjarah saat penumpang tidur. ”Di kelas eksekutif , pelaku biasanya melakukan penjarahan tanpa kekerasan, di mana pelaku mengambil barang dari tas dengan cara merobek, lalu menggantinya dengan batu agar dikira barang tetap berada di tempat,” papar Herri.
Sejumlah KA eksekutif yang menjadi incaran penjahat di antaranya KA Bima jurusan Jakarta-Surabaya, KA Turangga jurusan Bandung-Surabaya, serta KA yang melalui jalur Surabaya-Jogjakarta dan Surabaya-Solo.k2/sda KOMENTAR