Peneliti Jepang Blusukan ke Kampung
Penulis: Heru Pramono |
SURABAYA l SURYA Online- Hampir punahnya kampung-kampung di Surabaya akibat modernisasi, menggugah warga Jepang untuk menelitinya. Setidaknya, sudah ada tiga kampung yang mereka nilai memprihatinkan, yakni, Kampung Tambak Bayan, Lemah Putro, dan Plampitan.
Warga Jepang itu bernama Kenta Kishi. Ia mendirikan Camp on Kampung, sebuah proyek yang mengkaji kampung untuk masa depan kota-kota di Asia. Sekretariatnya beralamat di Jl Kampung Malang Kulon.
Ia bekerja sama dengan UK Petra, Ubaya, Unair, dan ITS untuk mengakaji kehidupan kampung di Surabaya.
Jumat (6/5), bersama rombongan para mahasiswa pertukaran pelajar dari 12 negara, ia meninjau kampung Tambak Bayan. Mereka melihat, perpaduan warga Tionghoa dan Jawa tinggal bersama. Mereka juga melihat konflik antara pengusaha Hotel Veni Vidi Vici (V3) dengan warga terlihat saat bangunan rumah di sebelah hotel dihancurkan. "Apakah ini metode membangun," papar Pandu Rukmi Utomo, desainer Camp on Kampung di sela kunjungan bersama romobongan di Kampung Tambak Bayan, Jumat (6/5). "Dengan pameran di Plampitan dan penelitian di Tambak Bayan serta Lemah Putro, mereka jadi tahu apa yang terjadi di kampung-kampung ini," tambahnya.
Kenta mengatakan, metode yang digunakan untuk mengembangkan kota saat ini kurang tepat. Metode itu adalah menghancurkan lalu dibangun baru dengan mengambil budaya luar.
Membangun kota tak hanya berdasarkan jumlah kampung dan orangnya. Tapi, yang perlu dibangun adalah harapan dari penghuni kampung itu sendiri. "Di sana ada emosi, kenangan, cerita-cerita masa lalu. Semua itu sesuatu yang tak bisa dihitung," katanya.
Peneliti yang sudah melalang buana ke banyak negara itu menyayangkan banyak kampung di Surabaya yang berubah menjadi kampung seperti Citraland, yang menonjolkan budaya Singapura. Di Jepang menonjolkan khas Italia. "Sebaiknya, budaya asli Surabaya yang perlu dibangun," sarannya.
Direktur Surabaya Heritage Freddy H Istanto menilai penelitian itu mengajak semua warga memikirkan kembali tentang kampung di Surabaya. "Termasuk saya pernah ke Tambak Bayan, banyak fenomena berubah. Bagaimana keberagaman etnisnya sangat menyenangkan," katanya.
iks
iks KOMENTAR