Jumat, 17 April 2026

Punya Resep Andalan untuk Penyakit Kista dan Impotensi

Penulis: Heru Pramono |
Ketertarikannya pada tanaman obat, mengantarkan dirinya menjadi seorang herbalis. Kemampuan ini pun memacu asa pada ide mulianya, menggalang penjual jamu gendong dan membantu menelurkan herbalis-herbalis perempuan. sudharma adi surabaya Perempuan itu adalah sedikit dari herbalis perempuan di Surabaya. Ia bernama Elok Subekti. Kemampuan yang jarang dimiliki para perempuan ini, membuatnya diganjar Kartini Award 2011. Ibu berjilbab ini menjelaskan, kemampuan untuk mengobati pasien berawal dari perjalanan yang panjang. Dari hobi membaca, Elok mulai mengerti apa itu tanaman obat dan bagaimana memanfaatkannya. “Sejak lama, saya memang suka menanam berbagai jenis tanaman, termasuk tanaman obat. Hobi membaca juga saya tekuni, dan pada 2002 lalu, saya mulai fokus membaca buku tentang tanaman obat,” jelasnya, Jumat (29/4). Dijelaskan, ibu yang murah senyum ini memang suka mempelajari buku itu dan punya niat ingin menyembuhkan penderita. Maka, buku-buku berbobot milik herbalis seperti Profesor Hembing Wijayakusuma pun dilahapnya. “Saya memang suka baca buku Prof Hembing, dan buku pengobatan lainnya. Dari sini, saya mulai memahami manfaat dan penggunaan tanaman obat,” tandas perempuan kelahiran 19 Maret 1967 ini. Dari hobinya membaca buku, ia akhirnya tahu bahwa ada sekitar 3.000 tanaman yang berkhasiat obat. Dari jumlah itu, sekitar 940 jenis benar-benar tanaman obat atau simplisia. Setelah membaca buku tentang pengobatan, ia pun sering mengikuti seminar-seminar kesehatan di beberapa kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta. Dari seminar ini, ia mendapat pengetahuan tentang cara meramu herbal menjadi obat yang manjur. “Saya memang suka memberi resep pada orang-orang yang sakit,” urai pemilik Rumah Herbal Toga Citra itu. Setelah itu, ia mendapat ‘ujian’ pada 2008 lalu. Ketika itu, ada penjual sayur yang sering mampir di rumahnya, Pondok Rosa Gg I Kecamatan Wiyung. Si penjual sayur itu menderita kista rahim. Ia pun tertantang untuk menyembuhkan dengan pengetahuannya tentang tanaman obat. “Setelah dua minggu, muncul reaksi di mana penjual sayur mengeluarkan darah. Tapi setelah sebulan, penyakit kistanya sembuh,” paparnya. Muncul tantangan lain, kakaknya sejak lama kena stroke dan tak bisa bicara. Ia pun tergerak untuk menyembuhkannya. Lewat pengobatan selama sebulan sembilan hari, stroke yang diderita pun sembuh. Dari sini, ia pun memutuskan membuka rumah herbal dan mengumpulkan teman-teman terapis. Dalam rumah herbal itu, jenis pengobatan tergantung penyakit yang diderita. ”Sebelum diobati, lebih dulu kami diagnosis penyakit. Setelah itu, baru dicari obatnya. Bisa pakai bekam atau ramuan obat,” katanya. Lewat rumah praktik yang ada, berbagai pasien mengaku terbantu dengan resep herbalnya. Ada dua jenis resep yang menjadi andalannya, yakni untuk kista dan impotensi. Untuk impotensi, beberapa herbal yang dibutuhkan adalah biji kucai dan jahe merah. ”Pasien impotensi memang banyak, biasanya juga menderita diabetes. Sebelum diberi resep itu, pasien perlu di-treatment untuk tahu penyebab impoten,” katanya. Dari perjalanan hidupnya, ada satu harapan yang berusaha diwujudkan. Itu adalah keinginan memberi pelatihan atau pembinaan pada ibu-ibu jamu gendong yang banyak beraktivitas di kota-kota besar. Bahkan, ia rela tak dibayar agar bisa membina para ibu jamu gendong tentang resep membuat herbal yang manjur. ”Saya memang meminta pemerintah bisa menggalang para bakul jamu gendong dan diberi pelatihan. Jika ada seperti ini, maka nantinya akan bermunculan herbalis-herbalis perempuan di Jatim yang berkualitas. Ini keinginan saya dalam pemberdayaan perempuan,” pungkasnya.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved