Dongkrak Pamor Bandeng
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_161985" align="alignleft" width="300" caption="BUDIDAYA BANDENG - Warga yang membudidayakan tambak banyak terdapat di kawasan Medokan Ayu Surabaya, dengan memelihara ikan bandeng. Foto: surya/ahmad zaimul haq"]
[/caption]
Kampung tertua di wilayah selatan Surabaya ini ditandai adanya tambak Bandeng yang konon daging bandeng tersebut sangat empuk. Saking empuknya, nama Medokan Ayu diadopsi dari empuknya bandeng-bandeng itu.
Di samping hutan dan rawa, Medokan Ayu dikenal sebagai kawasan tambak yang membudidayakan ikan bandeng.
Menurut cerita, bandeng warga Medokan Ayu berbeda dengan bandeng-bandeng dari daerah lain.
Tekstur bandeng Medokan Ayu lebih empuk dengan warna yang putih kemerah-merahan.
Karena terkenal dengan bandengnya yang berkualitas itu, maka warga menjadikan wilayahnya dengan menggunakan istilah medok atau empuk dan ayu untuk mewakili warna bandeng-bandeng tersebut.
Versi lain seperti dikisahkan Nawawi Ahmad (42), warga Medokan Ayu, bahwa wilayah Medokan Ayu diambil dari kondisi lahan yang terdiri dari banyak kedokan. Kebetulan pekerjaan warga saat itu juga membuat kedokan untuk dijadikan lahan pertanian. Maka jadilah kedokan yang bergeser menjadi Medokan.
“Asal Medokan dari kata kedokan yang berarti tanah yang sedikit mencekung ke dalam.
Untuk itu warga menamakan wilayah ini sebagai wilayah Medokan,” kisah Nawawi Ahmad.
Di wilayah ini, pernah ada ikan raksasa yang mati di pinggiran sungai Medokan. Ikan raksasa ini diberi nama Rojo Mino. Warga pun memercayai bahwa ikan raksasa itu bukan ikan sembarangan, namun ikan jelmaan dari penjaga kampung itu. Ikan raksasa ini kemudian dimakamkan di wilayah medokan tambak.
Dari kisah turun-temurun, Medokan Ayu dibuka seorang tokoh keturunan Sunan Giri, yang bernama Abdul Hamid. Menurut sesepuh masyarakat, Mbah Abdul Hamid, begitu warga menyapa keturunan Sunan Giri itu adalah tokoh penyiar agama Islam.
“Sampai sekarang banyak warga yang mendatangi makam Mbah Abdul Hamid. Mereka berziarah sekaligus memanjatkan doa kepada penyiar Islam di Medokan Ayu ini.
Mbah Abdul Hamid dimakamkan bersama istrinya, Hanik di pemakaman Medokan Ayu,” tutur Nawawi Ahmad yang sekaligus ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat kelurahan (LKMK) Medokan Ayu.
Bahkan, untuk mengenang jasa mbah Abdul Hamid, warga mengadakan Haul setahun sekali. Haul dipercaya warga dapat menjaga kampung ini dari segala mara bahaya, seperti terhindar dari musibah atau bencana alam, seperti gempa bumi, maupun banjir.
Istilah Haul atau bersih desa sudah menjadi kegiatan rutin warga. Biasanya bersih desa identik dengan makanan yang diolah dari Sumber Daya Alam (SDA) di daerah, yang kemudian di dinikmati oleh semua semua warga. Bersih dimaksudkan memberi sajian kepada para penunggu desa.
Namun, Medokan Ayu mengemasnya dengan cara lain. Bersih Desa dikemas dalam bentuk tahlilan dan istighotsah bersama.
"Tahlilah dan istighotsah adalah cara-cara Islam. Untuk itu, warga lebih memilih cara ini untuk mengingat jasa tokoh-tokoh di wilayah ini," kata Nawawi.
Kampung Melati
Selain makam Mbah Abdul Hamid yang banyak diziarahi warga, ternyata di Medokan Ayu terdapat kampung melati.
Dinamakan demikian, karena semua warga di RW 14 menanam melati di halaman rumahnya. Bahkan, saking banyaknya tanaman melati, warga berinisiatif untuk mengolah bunga melati itu menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Misrijono (55) lurah Medokan Ayu mengatakan, saat ini ia dan warganya sedang merencanakan pembangunan pasar wisata. Pasar wisata tersebut akan dijadikan icon daerah. Selain Pasar wisata, rencana lainya adalah menjadikan makam Mbah Abdul Hamid sebagai wisata religi.
“Saat ini kami sedang mengembangkan bunga melati menjadi produk khas daerah. Bisa menjadi minuman, parfum, atau menjadi makanan ringan. Yang penting Melati bisa membantu meningkatkan kesejahteraan warga,” tandas Misrijono.
Keasrian dan keaktivan warganya, Medokan Ayu pernah menjadi pemenang dalam lomba Unit Kegiatan Sekolah (UKS) 2010 tingkat kota, Surabaya Berbunga pada 2009 dan pemenang Clean and Clear 2009 kategori kampung Mandiri. k5
DATA WILAYAH
[/caption]
Kampung tertua di wilayah selatan Surabaya ini ditandai adanya tambak Bandeng yang konon daging bandeng tersebut sangat empuk. Saking empuknya, nama Medokan Ayu diadopsi dari empuknya bandeng-bandeng itu.
Di samping hutan dan rawa, Medokan Ayu dikenal sebagai kawasan tambak yang membudidayakan ikan bandeng.
Menurut cerita, bandeng warga Medokan Ayu berbeda dengan bandeng-bandeng dari daerah lain.
Tekstur bandeng Medokan Ayu lebih empuk dengan warna yang putih kemerah-merahan.
Karena terkenal dengan bandengnya yang berkualitas itu, maka warga menjadikan wilayahnya dengan menggunakan istilah medok atau empuk dan ayu untuk mewakili warna bandeng-bandeng tersebut.
Versi lain seperti dikisahkan Nawawi Ahmad (42), warga Medokan Ayu, bahwa wilayah Medokan Ayu diambil dari kondisi lahan yang terdiri dari banyak kedokan. Kebetulan pekerjaan warga saat itu juga membuat kedokan untuk dijadikan lahan pertanian. Maka jadilah kedokan yang bergeser menjadi Medokan.
“Asal Medokan dari kata kedokan yang berarti tanah yang sedikit mencekung ke dalam.
Untuk itu warga menamakan wilayah ini sebagai wilayah Medokan,” kisah Nawawi Ahmad.
Di wilayah ini, pernah ada ikan raksasa yang mati di pinggiran sungai Medokan. Ikan raksasa ini diberi nama Rojo Mino. Warga pun memercayai bahwa ikan raksasa itu bukan ikan sembarangan, namun ikan jelmaan dari penjaga kampung itu. Ikan raksasa ini kemudian dimakamkan di wilayah medokan tambak.
Dari kisah turun-temurun, Medokan Ayu dibuka seorang tokoh keturunan Sunan Giri, yang bernama Abdul Hamid. Menurut sesepuh masyarakat, Mbah Abdul Hamid, begitu warga menyapa keturunan Sunan Giri itu adalah tokoh penyiar agama Islam.
“Sampai sekarang banyak warga yang mendatangi makam Mbah Abdul Hamid. Mereka berziarah sekaligus memanjatkan doa kepada penyiar Islam di Medokan Ayu ini.
Mbah Abdul Hamid dimakamkan bersama istrinya, Hanik di pemakaman Medokan Ayu,” tutur Nawawi Ahmad yang sekaligus ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat kelurahan (LKMK) Medokan Ayu.
Bahkan, untuk mengenang jasa mbah Abdul Hamid, warga mengadakan Haul setahun sekali. Haul dipercaya warga dapat menjaga kampung ini dari segala mara bahaya, seperti terhindar dari musibah atau bencana alam, seperti gempa bumi, maupun banjir.
Istilah Haul atau bersih desa sudah menjadi kegiatan rutin warga. Biasanya bersih desa identik dengan makanan yang diolah dari Sumber Daya Alam (SDA) di daerah, yang kemudian di dinikmati oleh semua semua warga. Bersih dimaksudkan memberi sajian kepada para penunggu desa.
Namun, Medokan Ayu mengemasnya dengan cara lain. Bersih Desa dikemas dalam bentuk tahlilan dan istighotsah bersama.
"Tahlilah dan istighotsah adalah cara-cara Islam. Untuk itu, warga lebih memilih cara ini untuk mengingat jasa tokoh-tokoh di wilayah ini," kata Nawawi.
Kampung Melati
Selain makam Mbah Abdul Hamid yang banyak diziarahi warga, ternyata di Medokan Ayu terdapat kampung melati.
Dinamakan demikian, karena semua warga di RW 14 menanam melati di halaman rumahnya. Bahkan, saking banyaknya tanaman melati, warga berinisiatif untuk mengolah bunga melati itu menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Misrijono (55) lurah Medokan Ayu mengatakan, saat ini ia dan warganya sedang merencanakan pembangunan pasar wisata. Pasar wisata tersebut akan dijadikan icon daerah. Selain Pasar wisata, rencana lainya adalah menjadikan makam Mbah Abdul Hamid sebagai wisata religi.
“Saat ini kami sedang mengembangkan bunga melati menjadi produk khas daerah. Bisa menjadi minuman, parfum, atau menjadi makanan ringan. Yang penting Melati bisa membantu meningkatkan kesejahteraan warga,” tandas Misrijono.
Keasrian dan keaktivan warganya, Medokan Ayu pernah menjadi pemenang dalam lomba Unit Kegiatan Sekolah (UKS) 2010 tingkat kota, Surabaya Berbunga pada 2009 dan pemenang Clean and Clear 2009 kategori kampung Mandiri. k5
DATA WILAYAH
- Luas Lahan : 728 Hektare
- Jumlah Penduduk : 16.369 jiwa
- Laki-laki : 7640 jiwa
- Perempuan : 8729 jiwa
- Jumlah RT/RW : 96/14
- Pendidikan Warga : SD, SMP
- Pekerjaan Warga : Nelayan/ Wirausaha
- Jumlah Sekolah : 12 (Dari SD hingga SMA)
KOMENTAR