Jumat, 1 Mei 2026

Setiap Hari Dimandikan dan Diselimuti

Tayang:
Penulis: Heru Pramono |
Memiliki hobi yang bisa menambah pendapatan adalah satu keberuntungan. Begitu pula dengan Mubin (63), pecinta ayam serama asal Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya ini. Namun baginya nilai bisnis bukanlah prioritas utama, karena di balik itu ada kepuasan batin yang dirasakannya. Siti Yuliana Surabaya Baginya, dapat memelihara ayam hingga dewasa adalah letak keberhasilan itu. Apalagi ayam yang dipeliharanya adalah ayam serama, ayam paling mahal saat ini. Ia mengawali ternak ayam serama setahun lalu. Saat itu ia mengenal serama dari salah satu majalah bisnis. Begitu melihat keindahannya, ia langsung jatuh cinta dengan ayam asli Negeri Jiran itu. Mubin pun mulai mencari informasi mengenai tempat pembelian serama. “Saya beli dua ekor ukuran remaja dari Pasuruan, dengan harga Rp 600.000 per ekor. Sampai sekarang, ayam serama pertama saya itu sudah menetaskan puluhan anak ayam,” kisahnya saat ditemui dirumahnya, Minggu (20/3). Bobot serama tak lebih dari 500 gram. Ukuran badannya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Meski berbadan cebol, serama bukan ayam murahan. Serama kelas A bisa diboyong dengan harga Rp 25.000.000 hingga Rp 30.000.000 per ekor. Menurut Mubin, mutu serama ditentukan oleh bobot badan yang ringan, bentuk leher menyerupai huruf  S, kepala tertarik jauh ke arah belakang, sayap menjuntai tegak lurus ke bawah, dan ekor pedang panjang serta berdiri tegak. Ciri fisik seperti itu membuat ayam serama berpenampilan tegap menyerupai prajurit yang sedang berbaris. “Ayam serama memang kelihatan sombong dan sangat percaya diri, karena selalu membusungkan dadanya agar terlihat lurus dengan ekornya,” katanya. Setiap hari, ia merawat ayamnya dengan sangat telaten. Memandikan, memberi makan, hingga menyelimuti ayam-ayam itu. Bahkan ia memberi ruang khusus bagi ayam-ayam kesayangannya itu, yakni tepat di taman, samping rumahnya. Agar ayam-ayam itu tumbuh dewasa dan berbulu lebat, kebersihan kandang jadi perioritas utama. Mubin juga rutin menjemur ayam-ayam itu di pagi hari, tentunya setelah selesai dimandikan dan diberi sarapan. Kini ia memiliki tujuh serama remaja dan 30 anakkan.  Sebelumnya, ia pernah menjual empat serama remaja dengan harga Rp 800.000 hingga Rp 1.200.000 per ekor. Untuk ayam anakkan tidak dijual lantaran ia ingin memeliharanya hingga menjadi serama dewasa. “Banyak tetangga saya yang ingin membeli anakkan serama. Mereka menawarkan harga Rp 300.000 per ekor. Saya tidak menerimanya, karena memang tidak niat saya jual,” terang suami Zaenab (56) itu. Bila dewasa nanti, Mubin berniat mengikutkan serama peliharaannya dalam kontes serama nasional. Ia tidak mau mengulangi kegagalan memboyong piala kejuaraan lagi. “Dulu pernah saya ikutkan kontes serama di Royal Plasa. Karena usia ayam saya masih kecil, maka tidak jadi juara. Untuk tahun depan, saya akan mengikutkan ayam ini ke kontes serama nasional lagi,” ujarnya sembari membelai serama berbulu hitam merah. Ayam serama memang kelihatan begitu gagah layaknya Sri Rama, salah satu tokoh pewayangan. Lantaran hal itu, lanjut Mubin, nama ayam ini diambilkan dari nama Sri Rama. “Dari buku yang saya baca, sebenarnya nama serama adalah Sri Rama. Karena kegagahannya mirip tokoh pewayangan itu. Namun nama Sri rama sepertinya agak sulit diucapkan, sehingga masyarakat memilih serama,” jelasnya. Ayam terkecil di dunia ini memang banyak digandrungi masyarakat. Para seramania mulai menjadikan ayam hasil persilangan antara ayam kapan alias kate kaki panjang dengan ras ayam modern game bantam ini, menjadi lahan ajang kontes tersendiri.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved