Perwira Korban Bom Buku Terancam Berlengan Palsu
Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_158109" align="alignleft" width="300" caption="SERPIHAN BOM - Anggota Labfor memeriksa serpihan-serpihan bom buku di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Rabu (16/3). Foto: antara/ujang zaelani"]
[/caption]
JAKARTA | SURYA - Tangan kiri Kasatreskrim Polres Jakarta Timur, Kompol Dodi Rahmawan diamputasi. Dodi adalah salah satu korban ledakan paket bom buku yang dikirim untuk pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla di kompleks perkantoran Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Selasa (15/3).
“Sudah dioperasi tadi malam. Tangan kirinya juga sudah diamputasi sampai pertengahan lengan kiri,” kata Direktur Utama RS Cipto Mangunkusumo, Akmal Taher, Rabu (16/3).
Menurut Akmal, kondisi Dodi secara keseluruhan sudah baik. Sehat, tensi darahnya juga normal dan bagus. “Saya baru saja jenguk dia. Kondisinya semakin baik, dia dipindah ke ruang perawatan biasa,” kata Akmal.
Kemarin Dodi mendapat kunjungan dari beberapa anggota perwira polisi. Istri dan keluarganya dari Jember juga masih mendampingi. Istri Kompol Dodi, Silvana Said dalam kondisi baik meskipun masih syok. “Tadi pagi kita kasih kesempatan untuk menjenguk. Istrinya masih kelihatan syok,” ujar salah satu dokter RSCM, dr Rudiyanto.
Jika kondisi tangan Dodi sudah sembuh total, kemungkinan dia akan memakai tangan palsu. “Pemasangan tangan palsu di tangan kiri Pak Dodi Rahmawan dimungkinkan, namun pemasangan ini harus menunggu kondisi tangannya hingga sembuh total,” kata dokter spesialis ortopedi yang menangani Dodi, Dohar Tobing.
Dohar mengatakan, saat dibawa ke RSCM, kondisi tangan kiri Dodi sudah hancur, sehingga harus diamputasi di atas pergelangan tangan. “Lengan bawah yang rusak sudah tidak bisa diperbaiki lagi,” ujarnya.
Kompol Dodi Rahmawan merupakan arek asli Jember. Alumnus Akpol 1995 itu sering pulang kampung ke rumah keluarga di Jalan Mawar XXI, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang.
Di rumah berdinding hijau itu tinggal ibu Kompol Dodi, Ny Moertini dan kakak Kompol Dodi dan sejumlah keponakan, sedangkan ayahnya Koesnanto telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Rumah tersebut kosong karena ibunya sudah bertolak ke Jakarta, Selasa (15/3) malam.
Menurut salah seorang tetangga, Ny Sukat, ibu dan dua orang kakak Dodi berangkat sekitar pukul 22.00 WIB. “Berangkatnya malam. Keluarga mengetahui peristiwa itu dari televisi. Saat tahu kalau yang terkena bom Mas Dodi, ibunya langsung menangis dan memanggil-manggil nama Mas Dodi,” ujar Ny Sukat kepada Surya, Rabu (16/3).
Eko Suliswanto, salah seorang tetangga mengaku mengenal dekat Kompol Dodi sebagai pribadi yang baik dan ramah. Dodi selalu menyempatkan pulang kampung ke Jember saat hari raya. “Kalau pulang pasti selalu kumpul-kumpul sama teman lama di sini dan anjang sana ke tetangga sekitar,” ujar Eko. Eko tidak menyangka kalau Dodi menjadi korban meledaknya bom paket buku. Eko hanya berharap Dodi bisa segera pulih dan kembali bekerja.
Rasa kaget juga dirasakan oleh Poniman, Kepala SMPN 3 Jember. Pasalnya Dodi merupakan alumnus sekolah yang berada di jalan Jawa - Jember tersebut. “Dia memang alumnus sekolah kami, masuk tahun 1985 dan lulus tahun 1988,” ujar Poniman. Seingat Poniman, Dodi merupakan murid pintar dan berkelakukan baik.
Kendati kehilangan tangan, karir Kompol Dodi harus tetap berjalan sesuai prestasi. “Karirnya tetap ke depannya sesuai prestasi dan kinerja dia. Kita tidak boleh diskriminasi,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane .
Menurut Neta, Polri harus tetap objektif dalam melihat kondisi Kompol Dodi. Jika memang Dodi akan dinaikkan pangkatnya maka harus sesuai dengan prestasi yang sudah dibuatnya.
Jika memang ada rencana Kompol Dodi akan dinaikkan pangkatnya tiga bulan lagi menjadi AKBP, hal itu harus tetap dilakukan. Pimpinan Polri harus tetap melakukan rencana yang sudah dibuat terhadap Kompol Dodi.
Neta mengatakan, karir Kompol Dodi justru masih bisa terus berjalan. Polisi sekarang tidak harus mengandalkan pistol atau senjata apa pun dalam bekerja. Polisi modern bisa mempunyai konsep dan pemikiran kepada masyarakat. Hal itu pula yang bisa dilakukan Kompol Dodi dalam karirnya ke depan.
Seperti diketahui, Dodi terkena ledakan bom buku yang dikirimkan ke kantor JIL di Jl Utan Kayu, Jakarta Timur. Saat itu, Dodi berniat membuka bom yang dikirimkan untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri JIL. Saat Dodi mencoba membuka chip di tengah buku, bom langsung meledak dan tangan Dodi jadi korban.
Paket bom buku juga dikirimkan ke kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) di Cawang, Jakarta dengan sasaran Kalahar BNN Komjen Gories Mere dan Ketua Umum Partai Patriot Japto S Soerjosoemarno. Dua bom di rumah Gories (mantan pejabat Densus 88) dan Japto berhasil diledakkan tim Gegana.
Ulil Abshar Abdalla menduga motif pengeboman lebih bersifat politis daripada pemikiran keagamaan. Ulil menduga target bom kali ini adalah para aktivis HAM. “Pesan yang dikirim bom ini jelas mengarah pada aktivis HAM yang selama ini memperjuangkan pluralisme,” kata Ulil yang juga ketua DPP Partai Demokrat saat ditemui di lokasi ledakan.
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Marsekal Madya Chairul Akbar memastikan pelaku teror bom untuk Ulil, Japto dan Gories Mere adalah kelompok yang sama dengan pelaku teror sebelumnya. “Dari modus dan operandi mereka masih kelompok yang sama, pelaku bom sebelumnya,” ujarnya seperti dilansir tempointeraktif, Rabu (16/3).
Serangan bom itu menurut Chairul telah memiliki pergeseran pola. Jika sebelumnya mereka melakukan serangan secara sporadis pada sasaran umum seperti gedung dan tempat tertentu. Sekarang polanya bergeser dengan sasaran terpilih, dan dengan target individu. Mungkin orang yang disasar kali ini adalah mereka yang dinilai selama ini menghalangi aksi teror mereka.
Soal kelompok mana pelaku teror ini, Chairul mengaku telah memiliki daftar kelompok yang memiliki aksi dan pola serupa dengan pelaku bom di Utan kayu dan dua bom lainnya. “Tapi masih dikembangkan,” katanya.
Sebelumnya pengamat intelejen dan terorisme Dino Cresbon menduga bom di Utan Kayu dilakukan anak buah seorang gembong teroris, yang saat ini sudah ditangkap polisi. Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh polisi, tokoh itu dikatakannya pernah membentuk tim untuk membunuh Ulil Abshar Abdalla pada 2004. Kendati tokoh itu telah ditangkap, namun anak buahnya masih banyak tersebar di Indonesia. Menurutnya kelompok ini berbeda dengan kelompok Noordin M Top yang menggunakan bom bunuh diri. Mereka menggunakan teknik intruder, salah satunya dengan bom buku itu. Selain bom buku, kelompok itu juga bisa merakit bom surat, termos, dan bom senter. Khusus bom termos pernah kondang dirangkai oleh teroris di Poso dan meledak setelah termos diangkat.
Keempat jenis bom itu termasuk kategori bom picu. Logika peledakannya harus diangkat pemicunya bukan dengan timer. Artinya bom itu belum akan meledak jika tidak dibuka paksa. Mencoba mengurai bom seperti dilakukan Kompol Dodi tanpa alat pengaman sangat berbahaya. Apalagi menggunakan air justru bisa memicu korsleting dan ledakan.
[/caption]
JAKARTA | SURYA - Tangan kiri Kasatreskrim Polres Jakarta Timur, Kompol Dodi Rahmawan diamputasi. Dodi adalah salah satu korban ledakan paket bom buku yang dikirim untuk pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla di kompleks perkantoran Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Selasa (15/3).
“Sudah dioperasi tadi malam. Tangan kirinya juga sudah diamputasi sampai pertengahan lengan kiri,” kata Direktur Utama RS Cipto Mangunkusumo, Akmal Taher, Rabu (16/3).
Menurut Akmal, kondisi Dodi secara keseluruhan sudah baik. Sehat, tensi darahnya juga normal dan bagus. “Saya baru saja jenguk dia. Kondisinya semakin baik, dia dipindah ke ruang perawatan biasa,” kata Akmal.
Kemarin Dodi mendapat kunjungan dari beberapa anggota perwira polisi. Istri dan keluarganya dari Jember juga masih mendampingi. Istri Kompol Dodi, Silvana Said dalam kondisi baik meskipun masih syok. “Tadi pagi kita kasih kesempatan untuk menjenguk. Istrinya masih kelihatan syok,” ujar salah satu dokter RSCM, dr Rudiyanto.
Jika kondisi tangan Dodi sudah sembuh total, kemungkinan dia akan memakai tangan palsu. “Pemasangan tangan palsu di tangan kiri Pak Dodi Rahmawan dimungkinkan, namun pemasangan ini harus menunggu kondisi tangannya hingga sembuh total,” kata dokter spesialis ortopedi yang menangani Dodi, Dohar Tobing.
Dohar mengatakan, saat dibawa ke RSCM, kondisi tangan kiri Dodi sudah hancur, sehingga harus diamputasi di atas pergelangan tangan. “Lengan bawah yang rusak sudah tidak bisa diperbaiki lagi,” ujarnya.
Kompol Dodi Rahmawan merupakan arek asli Jember. Alumnus Akpol 1995 itu sering pulang kampung ke rumah keluarga di Jalan Mawar XXI, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang.
Di rumah berdinding hijau itu tinggal ibu Kompol Dodi, Ny Moertini dan kakak Kompol Dodi dan sejumlah keponakan, sedangkan ayahnya Koesnanto telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Rumah tersebut kosong karena ibunya sudah bertolak ke Jakarta, Selasa (15/3) malam.
Menurut salah seorang tetangga, Ny Sukat, ibu dan dua orang kakak Dodi berangkat sekitar pukul 22.00 WIB. “Berangkatnya malam. Keluarga mengetahui peristiwa itu dari televisi. Saat tahu kalau yang terkena bom Mas Dodi, ibunya langsung menangis dan memanggil-manggil nama Mas Dodi,” ujar Ny Sukat kepada Surya, Rabu (16/3).
Eko Suliswanto, salah seorang tetangga mengaku mengenal dekat Kompol Dodi sebagai pribadi yang baik dan ramah. Dodi selalu menyempatkan pulang kampung ke Jember saat hari raya. “Kalau pulang pasti selalu kumpul-kumpul sama teman lama di sini dan anjang sana ke tetangga sekitar,” ujar Eko. Eko tidak menyangka kalau Dodi menjadi korban meledaknya bom paket buku. Eko hanya berharap Dodi bisa segera pulih dan kembali bekerja.
Rasa kaget juga dirasakan oleh Poniman, Kepala SMPN 3 Jember. Pasalnya Dodi merupakan alumnus sekolah yang berada di jalan Jawa - Jember tersebut. “Dia memang alumnus sekolah kami, masuk tahun 1985 dan lulus tahun 1988,” ujar Poniman. Seingat Poniman, Dodi merupakan murid pintar dan berkelakukan baik.
Kendati kehilangan tangan, karir Kompol Dodi harus tetap berjalan sesuai prestasi. “Karirnya tetap ke depannya sesuai prestasi dan kinerja dia. Kita tidak boleh diskriminasi,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane .
Menurut Neta, Polri harus tetap objektif dalam melihat kondisi Kompol Dodi. Jika memang Dodi akan dinaikkan pangkatnya maka harus sesuai dengan prestasi yang sudah dibuatnya.
Jika memang ada rencana Kompol Dodi akan dinaikkan pangkatnya tiga bulan lagi menjadi AKBP, hal itu harus tetap dilakukan. Pimpinan Polri harus tetap melakukan rencana yang sudah dibuat terhadap Kompol Dodi.
Neta mengatakan, karir Kompol Dodi justru masih bisa terus berjalan. Polisi sekarang tidak harus mengandalkan pistol atau senjata apa pun dalam bekerja. Polisi modern bisa mempunyai konsep dan pemikiran kepada masyarakat. Hal itu pula yang bisa dilakukan Kompol Dodi dalam karirnya ke depan.
Seperti diketahui, Dodi terkena ledakan bom buku yang dikirimkan ke kantor JIL di Jl Utan Kayu, Jakarta Timur. Saat itu, Dodi berniat membuka bom yang dikirimkan untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri JIL. Saat Dodi mencoba membuka chip di tengah buku, bom langsung meledak dan tangan Dodi jadi korban.
Paket bom buku juga dikirimkan ke kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) di Cawang, Jakarta dengan sasaran Kalahar BNN Komjen Gories Mere dan Ketua Umum Partai Patriot Japto S Soerjosoemarno. Dua bom di rumah Gories (mantan pejabat Densus 88) dan Japto berhasil diledakkan tim Gegana.
Ulil Abshar Abdalla menduga motif pengeboman lebih bersifat politis daripada pemikiran keagamaan. Ulil menduga target bom kali ini adalah para aktivis HAM. “Pesan yang dikirim bom ini jelas mengarah pada aktivis HAM yang selama ini memperjuangkan pluralisme,” kata Ulil yang juga ketua DPP Partai Demokrat saat ditemui di lokasi ledakan.
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Marsekal Madya Chairul Akbar memastikan pelaku teror bom untuk Ulil, Japto dan Gories Mere adalah kelompok yang sama dengan pelaku teror sebelumnya. “Dari modus dan operandi mereka masih kelompok yang sama, pelaku bom sebelumnya,” ujarnya seperti dilansir tempointeraktif, Rabu (16/3).
Serangan bom itu menurut Chairul telah memiliki pergeseran pola. Jika sebelumnya mereka melakukan serangan secara sporadis pada sasaran umum seperti gedung dan tempat tertentu. Sekarang polanya bergeser dengan sasaran terpilih, dan dengan target individu. Mungkin orang yang disasar kali ini adalah mereka yang dinilai selama ini menghalangi aksi teror mereka.
Soal kelompok mana pelaku teror ini, Chairul mengaku telah memiliki daftar kelompok yang memiliki aksi dan pola serupa dengan pelaku bom di Utan kayu dan dua bom lainnya. “Tapi masih dikembangkan,” katanya.
Sebelumnya pengamat intelejen dan terorisme Dino Cresbon menduga bom di Utan Kayu dilakukan anak buah seorang gembong teroris, yang saat ini sudah ditangkap polisi. Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh polisi, tokoh itu dikatakannya pernah membentuk tim untuk membunuh Ulil Abshar Abdalla pada 2004. Kendati tokoh itu telah ditangkap, namun anak buahnya masih banyak tersebar di Indonesia. Menurutnya kelompok ini berbeda dengan kelompok Noordin M Top yang menggunakan bom bunuh diri. Mereka menggunakan teknik intruder, salah satunya dengan bom buku itu. Selain bom buku, kelompok itu juga bisa merakit bom surat, termos, dan bom senter. Khusus bom termos pernah kondang dirangkai oleh teroris di Poso dan meledak setelah termos diangkat.
Keempat jenis bom itu termasuk kategori bom picu. Logika peledakannya harus diangkat pemicunya bukan dengan timer. Artinya bom itu belum akan meledak jika tidak dibuka paksa. Mencoba mengurai bom seperti dilakukan Kompol Dodi tanpa alat pengaman sangat berbahaya. Apalagi menggunakan air justru bisa memicu korsleting dan ledakan. KOMENTAR