Gabungan dari Tiga Pedukuhan
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_157373" align="alignleft" width="300" caption="SUDUT MERISI - Salah satu sudut Kampung Bendul Merisi yang kini ramai aktivitas warga. Foto: surya/ahmad zaimul haq"]
[/caption]
Kampung Bendul Merisi yang kini telah menjadi kelurahan, ternyata dulu berasal dari tiga pedukuhan yang menjadi satu. Yaitu Dukuh Bendul, Dukuh Merisi, dan Dukuh Buntar. Kondisi wilayah ketiganya masih sepi dan dikepung rawa-rawa serta masuk dalam wilayah kawedanan Djabakota Surabaya.
banyak versi sejarah tentang kampung Bendul Merisi. Tapi, perihal terpautnya tiga dukuh yang menjadi satu tersebut telah tercatat di Kantor Kelurahan Bendul Merisi. Sehingga paling mudah untuk diketahui.
Bersatunya ketiga dukuh, Bendul, Merisi, dan Buntar itu karena mereka memiliki kondisi wilayah dan budaya yang sama, terutama terkait dengan kepercayaan terhadap danyang (penunggu) kampung, yaitu Ki Joko Reso.
Tak hanya itu, Mohammad Kohar (79), salah satu sesepuh Bendul Merisi, mengisahkan, bersatunya ketiga dukuh terjadi karena ada plesetan atau guyonan di tiga kampung yang bila disebut bersama menjadi Bendul Merisi Buntar. Plesetannya menjadi Budal, sik ket jange dadi buyar (Berangkat, baru akan mulai sudah selesai, Red).
“Maksudnya setiap ada acara, baru akan mulai sudah tidak jadi. Salah satu contoh saat akan buat klub sepak bola, niat sudah ada, orang yang akan mendaftar sudah ada, tapi ketika akan pembentukan, batal,” jelas Kohar.
Karena itu, saat bersatu ketiga dukuh ini pun memilih nama Bendul Merisi saja. Yang artinya kumpul-kumpul dadi (kumpul-kumpul jadi, Red). Sementara nama Buntarnya dihilangkan dan kini menjadi salah satu RW di wilayah kelurahan Bendul Merisi.
Kisah lainnya, menyebutkan, Bendul Merisi dulunya adalah daerah Laut Jawa. Di tengah-tengah laut tersebut, ada gundukan tanah menonjol seperti pulau. Orang Jawa menyebut gundukan itu sebagai bendulan atau bendul. Bendulan itulah yang kemudian menjadi nama kampung Bendul.
Versi lain menyebutkan bahwa Bendul Merisi berawal dari seorang nenek sedang mengintip seseorang yang memukul Suro (Hiu) dan boyo (buaya). Karena ketahuan, nenek tersebut dipukul bathok-nya (kening) dengan sapu suduk atau lidi hingga bendul (benjol). Nenek itu kemudian lari sambil meringis.
“Berdasarkan kisah itu, jadilah Bendul Merisi (meringis),” kisah Hambali (78), tokoh Bendul Merisi.
Saat ini kondisi kampung Bendul Merisi telah berubah jauh. Lahan-lahan rawa telah berubah menjadi permukiman penduduk yang padat. Baik perkampungan maupun perumahan mulai yang menengah hingga atas.
Tak hanya permukiman, jajaran pedagang kaki lima (PKL) yang penjualnya adalah warga asli Bendul Merisi juga tampak di setiap titik yang menjadi keramaian atau berkumpulnya orang di daerah itu.
Di antaranya di sepanjang Jl Bendul Merisi Besar dan daerah depan perumahan kelas menengah. Di antaranya perumahan AURI, Bendul Merisi Permai dan Bendul Merisi Indah.
Sedangkan permukiman kampung, ada satu wilayah yang cukup menarik. Yaitu Jl Bendul Merisi Besar Gang Posing. Posing ini artinya adalah pusing (sakit kepala) yang oleh salah satu warga yang tinggal di daerah itu menyebutnya dengan posing.
Kisahnya, warga tersebut bernama Purnomo dan di tahun 1970-an, dia yang berprofesi sebagai tukang becak yang mangkal di depan stasiun Wonokromo, selalu berangkat dan pulang sambil meneriakkan kata “posing... posing,.... posing aku,”. Selanjutnya dikenalah menjadi gang Posing.
Ajak Warga Aktif
Soal kegiatan warga, Kepala Kelurahan Bendul Merisi, Tacuk Su’udi (51), mengatakan, pihaknya selalu mengajak warganya turut aktif dalam kegiatan kelurahan, seperti posyandu, penyuluhan, kerja bakti, pengajian, tahlilan, dan mengaktifkan kembali kegiatan olahraga di desa ini yang sempat vakum.
“Dulu masyarakat tidak memfungsikan gedung olahraga, sekarang di gedung perintis ini sudah banyak diadakan lomba,” jelas Tacuk sambil menunjuk gedung olahraga yang ada di tak jauh dari kantor kelurahan.
Tak hanya itu, kini warga Bendul Merisi mayoritas juga dikenal sebagai pengusaha.
Menurut Sriani (52), sekretaris kelurahan yang mendampingi Tacuk, menyebutkan hal itu dikarenakan banyaknya instansi pendidikan dan pemerintah yang ada di wilayah Bendul Merisi.
[/caption]
Kampung Bendul Merisi yang kini telah menjadi kelurahan, ternyata dulu berasal dari tiga pedukuhan yang menjadi satu. Yaitu Dukuh Bendul, Dukuh Merisi, dan Dukuh Buntar. Kondisi wilayah ketiganya masih sepi dan dikepung rawa-rawa serta masuk dalam wilayah kawedanan Djabakota Surabaya.
banyak versi sejarah tentang kampung Bendul Merisi. Tapi, perihal terpautnya tiga dukuh yang menjadi satu tersebut telah tercatat di Kantor Kelurahan Bendul Merisi. Sehingga paling mudah untuk diketahui.
Bersatunya ketiga dukuh, Bendul, Merisi, dan Buntar itu karena mereka memiliki kondisi wilayah dan budaya yang sama, terutama terkait dengan kepercayaan terhadap danyang (penunggu) kampung, yaitu Ki Joko Reso.
Tak hanya itu, Mohammad Kohar (79), salah satu sesepuh Bendul Merisi, mengisahkan, bersatunya ketiga dukuh terjadi karena ada plesetan atau guyonan di tiga kampung yang bila disebut bersama menjadi Bendul Merisi Buntar. Plesetannya menjadi Budal, sik ket jange dadi buyar (Berangkat, baru akan mulai sudah selesai, Red).
“Maksudnya setiap ada acara, baru akan mulai sudah tidak jadi. Salah satu contoh saat akan buat klub sepak bola, niat sudah ada, orang yang akan mendaftar sudah ada, tapi ketika akan pembentukan, batal,” jelas Kohar.
Karena itu, saat bersatu ketiga dukuh ini pun memilih nama Bendul Merisi saja. Yang artinya kumpul-kumpul dadi (kumpul-kumpul jadi, Red). Sementara nama Buntarnya dihilangkan dan kini menjadi salah satu RW di wilayah kelurahan Bendul Merisi.
Kisah lainnya, menyebutkan, Bendul Merisi dulunya adalah daerah Laut Jawa. Di tengah-tengah laut tersebut, ada gundukan tanah menonjol seperti pulau. Orang Jawa menyebut gundukan itu sebagai bendulan atau bendul. Bendulan itulah yang kemudian menjadi nama kampung Bendul.
Versi lain menyebutkan bahwa Bendul Merisi berawal dari seorang nenek sedang mengintip seseorang yang memukul Suro (Hiu) dan boyo (buaya). Karena ketahuan, nenek tersebut dipukul bathok-nya (kening) dengan sapu suduk atau lidi hingga bendul (benjol). Nenek itu kemudian lari sambil meringis.
“Berdasarkan kisah itu, jadilah Bendul Merisi (meringis),” kisah Hambali (78), tokoh Bendul Merisi.
Saat ini kondisi kampung Bendul Merisi telah berubah jauh. Lahan-lahan rawa telah berubah menjadi permukiman penduduk yang padat. Baik perkampungan maupun perumahan mulai yang menengah hingga atas.
Tak hanya permukiman, jajaran pedagang kaki lima (PKL) yang penjualnya adalah warga asli Bendul Merisi juga tampak di setiap titik yang menjadi keramaian atau berkumpulnya orang di daerah itu.
Di antaranya di sepanjang Jl Bendul Merisi Besar dan daerah depan perumahan kelas menengah. Di antaranya perumahan AURI, Bendul Merisi Permai dan Bendul Merisi Indah.
Sedangkan permukiman kampung, ada satu wilayah yang cukup menarik. Yaitu Jl Bendul Merisi Besar Gang Posing. Posing ini artinya adalah pusing (sakit kepala) yang oleh salah satu warga yang tinggal di daerah itu menyebutnya dengan posing.
Kisahnya, warga tersebut bernama Purnomo dan di tahun 1970-an, dia yang berprofesi sebagai tukang becak yang mangkal di depan stasiun Wonokromo, selalu berangkat dan pulang sambil meneriakkan kata “posing... posing,.... posing aku,”. Selanjutnya dikenalah menjadi gang Posing.
Ajak Warga Aktif
Soal kegiatan warga, Kepala Kelurahan Bendul Merisi, Tacuk Su’udi (51), mengatakan, pihaknya selalu mengajak warganya turut aktif dalam kegiatan kelurahan, seperti posyandu, penyuluhan, kerja bakti, pengajian, tahlilan, dan mengaktifkan kembali kegiatan olahraga di desa ini yang sempat vakum.
“Dulu masyarakat tidak memfungsikan gedung olahraga, sekarang di gedung perintis ini sudah banyak diadakan lomba,” jelas Tacuk sambil menunjuk gedung olahraga yang ada di tak jauh dari kantor kelurahan.
Tak hanya itu, kini warga Bendul Merisi mayoritas juga dikenal sebagai pengusaha.
Menurut Sriani (52), sekretaris kelurahan yang mendampingi Tacuk, menyebutkan hal itu dikarenakan banyaknya instansi pendidikan dan pemerintah yang ada di wilayah Bendul Merisi.