Kampung yang Dihuni 3 RW
Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_155352" align="alignnone" width="630" caption="BENGKEL ANDALAN - Kampung Prapen memiliki segudang bengkel dengan berbagai macam layanan mulai dari ketog magig, cat oven, knalpot dll, menjadi penggerak roda perekomian warga. Foto: surya/ahmad zaimul haq"]
[/caption]
Hamparan hijau sawah kini sudah tidak lagi terlihat. Kampung yang dulunya sepi kini berubah ramai. Lalu lalang kendaraan tak pernah berhenti, pertokoan dan bengkel mobil juga marak membuat Kampung Prapen tak lagi menjadi kampung yang sepi.
Setelah melintasi Jembatan Panjang Jiwo ke arah Selatan sampailah di kawasan Kampung Prapen. Kampung yang hanya terdiri dari tiga lingkungan RW itu dipisahkan jalan raya yang memanjang dari Panjang Jiwo hingga ke Jemursari.
M Soleh, salah satu warga Prapen mengatakan, kampung Prapen mulai menggeliat dan makin hidup setelah dibukanya Terminal Purabaya, Bungurasih.
“Lalu lintas di Jalan Raya Prapen ini ramai sejak Terminal Purabaya di fungsikan,” katanya.
Menurutnya di pindahkannya terminal bus dari Terminal Joyoboyo Wonokromo, ke Terminal Purabaya Bungurasih, banyak kendaraan angkutan umum yang memilih Jalan Raya Prapen.
Keberadaan kampung Prapen tak bisa dilepaskan dari perjuangan Mbah Karyo atau juga dikenal Mbah Prapen. Cerita yang ada kata M Umar salah satu tokoh masyarakat setempat, Mbah Prapen ini konon berasal dari wilayah Indonesia bagian Timur.
“Ia berdiam di kampung Prapen ini untuk mensyiarkan Agama Islam,” jelasnya.
Saat berdakwah agama Islam ini ia kedatangan seorang tamu yang sekarang dijuluki sebagai Mbah Ibu. Belum diketahui pasti berasal dari mana Mbah Ibu ini, tapi maksud kedatangannya di Kampung Prapen ini adalah untuk membantu perjuangan Mbah Prapen dalam mensyiarkan Agama Islam.
“Tugas tersebut selesai hingga keduanya wafat dan di makamkan di kampung ini,”katanya.
Salah satu peninggalan yang hingga sekarang masih dapat dilihat adalah kemegahan Masjid Istiqomah yang berada di Jalan Kiai Abdullah Prapen.
Masjid tersebut kata Umar dulunya adalah sebuah tempat berkumpul untuk dakwah Islam. Dalam perkembangan warga setempat merawat dan membangun lagi tempat itu menjadi sebuah masjid.
Makam Mbah Prapen sendiri berdampingan dengan Makam Mbah Ibu, makam tersebut berada tepat di sisi Masjid Istiqomah.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan sesepuh Kampung Prapen lainnya sejumlah nama jalan di Prapen di berikan nama tokoh bersangkutan. Seperti Jalan Kiai Abdullah, Jalan Toha, Jalan Prapen sendiri dan sebagianya.
Di lingkungan Prapen jumlah warganya juga tidak terlalu banyak. Dibanding kampung lainnya, jumlah penduduk Prapen ini jauh lebih sedikit. Dapat dilihat dari jumlah lingkungan RW yang hanya berjumlah tiga RW saja.
“Tiga RW ini yang dua RW adalah lingkungan perumahan jadi hanya satu RW saja yang benar-benar kampung Prapen,” tambah H Kusminanto warga lainnya.
Meski dikepung perumahan warga Prapen dapat lebih guyub dan bersatu dalam membangun lingkungannya.
Kawasan Jalan Raya Prapen ini semakin ramai dengan kehadiran sejumlah penjaja kuliner yang memanjang di kawasan itu.
Dari makanan khas Surabaya seperti lontong balap, bakso hingga menu eropa seperti mie hot plate, steak dan sebagainya ada di sini.
Melintas di Jalan Raya Prapen, puluhan papan nama dengan warna yang mencolok menawarkan jasa ketok magic.
“Saya 21 tahun buka bengkel ketok magic di sini,” kata Ahmad Yunianto, pemilik bengkel Putra Kelud Rizqi Motor.
Memang tidak semua bengkel di Prapen mengandalkan nama ketok magic putra kelud Blitar, ada juga bengkel AC, aksesoris dan perawatan mobil lainnya yang tidak menggunakan nama ketok magic.
Selain di pinggir Jalan Raya Prapen, usaha bengkel ini juga terdapat di dalam kampung Prapen. Menurutnya bengkel ketok magic ini sudah mengikuti perkembangan jaman.
“Kalau dulu dibilang magic ya magic, seperti yang diturunkan Mbah Turut, Blitar, tapi sekarang sudah mengikuti perkembangan,” paparnya.
Ilmu yang diturunkan adalah ilmu keterampilan yang tetap dirahasiakan.
Apakah ketok magic masih dapat dipratikkan? kata Yunianto, jika ingin magic ini seperti halnya yang dilakukan Mbah Turut penerapannya sangat sulit.
Karena ada persyaratan khusus yakni menirukan apa yang dilakukan Mbah Turut itu, seperti ke mana mana harus jalan kaki, punya harta benda yang harus diberikan kepada orang lain, dan harus beristri banyak.
[/caption]
Hamparan hijau sawah kini sudah tidak lagi terlihat. Kampung yang dulunya sepi kini berubah ramai. Lalu lalang kendaraan tak pernah berhenti, pertokoan dan bengkel mobil juga marak membuat Kampung Prapen tak lagi menjadi kampung yang sepi.
Setelah melintasi Jembatan Panjang Jiwo ke arah Selatan sampailah di kawasan Kampung Prapen. Kampung yang hanya terdiri dari tiga lingkungan RW itu dipisahkan jalan raya yang memanjang dari Panjang Jiwo hingga ke Jemursari.
M Soleh, salah satu warga Prapen mengatakan, kampung Prapen mulai menggeliat dan makin hidup setelah dibukanya Terminal Purabaya, Bungurasih.
“Lalu lintas di Jalan Raya Prapen ini ramai sejak Terminal Purabaya di fungsikan,” katanya.
Menurutnya di pindahkannya terminal bus dari Terminal Joyoboyo Wonokromo, ke Terminal Purabaya Bungurasih, banyak kendaraan angkutan umum yang memilih Jalan Raya Prapen.
Keberadaan kampung Prapen tak bisa dilepaskan dari perjuangan Mbah Karyo atau juga dikenal Mbah Prapen. Cerita yang ada kata M Umar salah satu tokoh masyarakat setempat, Mbah Prapen ini konon berasal dari wilayah Indonesia bagian Timur.
“Ia berdiam di kampung Prapen ini untuk mensyiarkan Agama Islam,” jelasnya.
Saat berdakwah agama Islam ini ia kedatangan seorang tamu yang sekarang dijuluki sebagai Mbah Ibu. Belum diketahui pasti berasal dari mana Mbah Ibu ini, tapi maksud kedatangannya di Kampung Prapen ini adalah untuk membantu perjuangan Mbah Prapen dalam mensyiarkan Agama Islam.
“Tugas tersebut selesai hingga keduanya wafat dan di makamkan di kampung ini,”katanya.
Salah satu peninggalan yang hingga sekarang masih dapat dilihat adalah kemegahan Masjid Istiqomah yang berada di Jalan Kiai Abdullah Prapen.
Masjid tersebut kata Umar dulunya adalah sebuah tempat berkumpul untuk dakwah Islam. Dalam perkembangan warga setempat merawat dan membangun lagi tempat itu menjadi sebuah masjid.
Makam Mbah Prapen sendiri berdampingan dengan Makam Mbah Ibu, makam tersebut berada tepat di sisi Masjid Istiqomah.
Untuk mengenang jasa dan perjuangan sesepuh Kampung Prapen lainnya sejumlah nama jalan di Prapen di berikan nama tokoh bersangkutan. Seperti Jalan Kiai Abdullah, Jalan Toha, Jalan Prapen sendiri dan sebagianya.
Di lingkungan Prapen jumlah warganya juga tidak terlalu banyak. Dibanding kampung lainnya, jumlah penduduk Prapen ini jauh lebih sedikit. Dapat dilihat dari jumlah lingkungan RW yang hanya berjumlah tiga RW saja.
“Tiga RW ini yang dua RW adalah lingkungan perumahan jadi hanya satu RW saja yang benar-benar kampung Prapen,” tambah H Kusminanto warga lainnya.
Meski dikepung perumahan warga Prapen dapat lebih guyub dan bersatu dalam membangun lingkungannya.
Kawasan Jalan Raya Prapen ini semakin ramai dengan kehadiran sejumlah penjaja kuliner yang memanjang di kawasan itu.
Dari makanan khas Surabaya seperti lontong balap, bakso hingga menu eropa seperti mie hot plate, steak dan sebagainya ada di sini.
Melintas di Jalan Raya Prapen, puluhan papan nama dengan warna yang mencolok menawarkan jasa ketok magic.
“Saya 21 tahun buka bengkel ketok magic di sini,” kata Ahmad Yunianto, pemilik bengkel Putra Kelud Rizqi Motor.
Memang tidak semua bengkel di Prapen mengandalkan nama ketok magic putra kelud Blitar, ada juga bengkel AC, aksesoris dan perawatan mobil lainnya yang tidak menggunakan nama ketok magic.
Selain di pinggir Jalan Raya Prapen, usaha bengkel ini juga terdapat di dalam kampung Prapen. Menurutnya bengkel ketok magic ini sudah mengikuti perkembangan jaman.
“Kalau dulu dibilang magic ya magic, seperti yang diturunkan Mbah Turut, Blitar, tapi sekarang sudah mengikuti perkembangan,” paparnya.
Ilmu yang diturunkan adalah ilmu keterampilan yang tetap dirahasiakan.
Apakah ketok magic masih dapat dipratikkan? kata Yunianto, jika ingin magic ini seperti halnya yang dilakukan Mbah Turut penerapannya sangat sulit.
Karena ada persyaratan khusus yakni menirukan apa yang dilakukan Mbah Turut itu, seperti ke mana mana harus jalan kaki, punya harta benda yang harus diberikan kepada orang lain, dan harus beristri banyak. KOMENTAR