Rawon Pincuk, Rawon Sepur

Penulis: Heru Pramono |
Hampir pukul 07.00 WIB. Tangan Sofiani (48) cekatan menuang kuah rawon cokelat kehitaman yang pekat. Aroma sedapnya menguar ketika sepanci besar kuah dibuka tutupnya. Berkejaran dengan waktu, Sofiani harus menyiapkan nasi di pincuk. Sesaat sebelum Kereta Api Logawa masuk Stasiun Kota Probolinggo, enam pengasong sudah siap dengan keranjang berisi nasi bungkus, nasi dalam pincuk, dan kantong-kantong berisi kuah rawon panas. Begitu kereta mengurangi kecepatan, mereka meloncat masuk gerbong. Tidak perlu ngotot menawarkan diri karena penumpang sudah siap dengan uang Rp 6.000. Begitu nasi di tangan, rawon langsung dibuka. Suapan nasi rawon panas membuat pagi di kereta api menjadi hangat. Maklum, pada jam-jam itu memang waktu sarapan. Tak lama kemudian kereta api berangkat. Para pengasong berloncatan turun. Mereka kembali ke kantin dan menunggu kereta api yang lain datang. Rawon sepur atau rawon pincuk, begitu orang biasa menyebut. Rawon itu memang spesial dijual di kereta api yang singgah di Stasiun Kota Probolinggo. Dulu rawon itu dijual dengan alas daun pisang dipincuk. Cara menjualnya juga unik. Dalam nampan kayu berlubang pincuk berisi nasi, empal, tempe goreng, taburan bawang merah goreng, dan sejumput taoge pendek siap diguyur kuah rawon. Ditambah kerupuk udang, makan rawon dalam kereta makin mantap. Kuah rawon selalu baru diangkat dari kompor. Rawon sepur menjadi menu sarapan bagi penumpang KA Logawa setiap pagi. Kini, dengan alasan praktis, pincuk daun pisang dilapisi dengan kertas bungkus. Kuah rawon cukup dikantongi plastik. Pengasong bisa membawa belasan pincuk setiap kali kereta api datang. Kuah harus selalu panas karena rawon memang disajikan panas. Untuk menjaga agar rawon tetap panas sampai di tangan pembeli, Sofiani mengemas kuah rawon sesaat sebelum kereta api datang. Nasi juga harus panas dan disimpan dalam pemanas nasi. “Saya membungkus secukupnya. Sekali jam kedatangan kereta, paling banyak 50 bungkus. Itu untuk menjaga kualitas,” katanya. Selain melayani penumpang kereta api saban hari, Sofiani sering mendapat order dalam jumlah banyak untuk penumpang rombongan. Cara pesannya cukup sederhana. Pemesan tinggal mengirim SMS ke ponsel Sofiani sehari sebelum rombongan itu tiba di stasiun. “Mereka kan sering membawa rombongan, jadi sudah kenal dengan kami. Biasanya rombongan anak sekolah, karyawan, juga wisatawan,” cerita Sofiani. Rawon sepur dikenal karena disajikan tepat saat perut keroncongan. Kekentalan kuah rawon Sofiani pas di lidah. Tidak terlalu pekat yang membuat rasanya ‘ngendal’ dan tidak terlalu cair sehingga hanya berasa air. Aroma bumbu rawonnya sangat kuat. Seperti racikan rawon lain yang menggunakan bumbu bawang putih, bawang merah, keluwak, serai, daun jeruk, lengkuas, ketumbar, kunyit, garam, dan gula, Sofiana menggunakan trik sederhana. “Saya meyangrai ketumbar supaya aromanya lebih kuat. Dan memang hasilnya berbeda,” kata Sofiana membuka rahasia. Memang, ketika panci berisi kuah diaduk, aroma rawonnya langsung menyergap hidung. Nasi bungkus yang dibawa pengasong sebenarnya bukan hanya rawon, tetapi yang paling laris memang rawon. Unik karena rawon disajikan panas meski dibungkus. Itu yang membuat pelancong yang melewati Stasiun Kota Probolinggo kangen. Warung di stasiun yang disewa Sofiani dari PT KAI ini, dibuka mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Selama 12 jam, istri Ristiawan itu melayani lima kereta api yang berhenti di stasiun. KA Logawa datang pertama pada pukul 07.00 WIB, kemudian pukul 10.00 WIB disusul KA Tawangalun, dan KA Mutiara pukul 11.00 WIB. Tiga puluh menit kemudian, yakni pukul 11.30 WIB, KA Sri Tanjung tiba dari malang. Setelah KA Sri Tanjung berangkat, Sofiani istirahat menutup kantin untuk istirahat. Ia membuka kembali warungnya sekitar pukul 14.30 WIB. Tak lama menunggu, pada pukul 17.30 WIB, KA Tawangalun yang juga dari Malang, tiba. Tiga puluh menit kemudian KA Sri Tanjung menyusul datang. “Warung tutup pukul 18.00 WIB. Sebenarnya masih ada empat kereta di malam hari, tetapi saya pilih tutup. Capek.” st35
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved