Menyimpan Benda Bersejarah
Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_152525" align="alignleft" width="300" caption="BERSEJARAH - Museum NU yang terletak di Jl Gayungsari Barat menyimpan benda-benda bersejarah dari Kiai Hasyim Asy'ari dan tokoh-tokoh pendiri NU. Foto: surya/ahmad zaimul haq"]
[/caption]
Kampung Gayungan yang terletak di sisi selatan Jl Raya A Yani, ternyata dulunya adalah sawah dan areal barongan lebat (rumpun bambu, red). Warga kampung asli dulunya membuat gayung dari bahan bambu dan untuk alat mandi di sungai.
Diambil dari kata gayung itulah, yang kemudian daerah itu disebut Gayungan. Tak hanya gayung yang digunakan untuk mandi di kali, tapi di daerah itu juga dikenal sebagai tempat ngguyang (memandikan hewan kerbau).
Tentunya tidak jijik, karena tempat mandi manusia dan kerbau berbeda. Air kalinya pun mengalir, jernih, dan bersih. Tidak seperti kondisi sekarang yang penuh dengan sampah dan kotor.
Menurut Yoseph Ismadi Widjaja, 77, sesepuh warga Gayungan Gang I, suasana kampung Gayungan hingga tahun 1970-an masih sangat sepi. Bahkan jalanan menuju kampung yang saat ini menjadi Jl Gayungan Gang I, kanan kirinya banyak ditumbuhi rumpun bambu hijau yang masih gelap.
Kini kondisi Gayungan telah berubah. Di tahun 1970-an, pengembang YKP mendirikan perumahan YKP Gayungsari. Kemudian diikuti dengan pembangunan kantor-kantor instansi Pemprov di daerah yang kini disebut Jl Gayung Kebonsari Besar.
Perkembangan pembangunan semakin meningkat dengan adanya pabrik PT Injoko, sehingga membuat daerah ini lebih dulu dikenal dengan Injoko.
Kondisi lingkungan yang cukup nyaman dan dekat dengan perumahan, membuat kampung ini dilirik juga oleh lembaga-lembaga pendidikan. Salah satu lembaga pendidikan yang eksis di daerah ini adalah sekolah Al Hikmah. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Tak hanya itu, pembangunan jalan-jalan baru membuat pertumbuhan kampung Gayungan semakin pesat. Salah satu jalan yang menjadi ciri khas kampung Gayungan adalah Jl Gayungsari Barat. Di mana di jalan itu, Gedung Astra Nawa dibangun di tahun 1990.
Tepat di depannya, gedung Museum Nahdlatul Ulama (NU) didirikan. Di Museum itu berisi barang-barang bersejarah dari Kiai Hasyim Asy'ari, tokoh pendiri NU. Di antaranya, dokumen yang berkaitan dengan pendirian NU, koleksi tongkat dan keris milik para Kiai NU, dan sebuah Alquran raksasa yang diduga setiap tahunnya ukurannya bisa berkembang.
DATA WILAYAH
[/caption]
Kampung Gayungan yang terletak di sisi selatan Jl Raya A Yani, ternyata dulunya adalah sawah dan areal barongan lebat (rumpun bambu, red). Warga kampung asli dulunya membuat gayung dari bahan bambu dan untuk alat mandi di sungai.
Diambil dari kata gayung itulah, yang kemudian daerah itu disebut Gayungan. Tak hanya gayung yang digunakan untuk mandi di kali, tapi di daerah itu juga dikenal sebagai tempat ngguyang (memandikan hewan kerbau).
Tentunya tidak jijik, karena tempat mandi manusia dan kerbau berbeda. Air kalinya pun mengalir, jernih, dan bersih. Tidak seperti kondisi sekarang yang penuh dengan sampah dan kotor.
Menurut Yoseph Ismadi Widjaja, 77, sesepuh warga Gayungan Gang I, suasana kampung Gayungan hingga tahun 1970-an masih sangat sepi. Bahkan jalanan menuju kampung yang saat ini menjadi Jl Gayungan Gang I, kanan kirinya banyak ditumbuhi rumpun bambu hijau yang masih gelap.
Kini kondisi Gayungan telah berubah. Di tahun 1970-an, pengembang YKP mendirikan perumahan YKP Gayungsari. Kemudian diikuti dengan pembangunan kantor-kantor instansi Pemprov di daerah yang kini disebut Jl Gayung Kebonsari Besar.
Perkembangan pembangunan semakin meningkat dengan adanya pabrik PT Injoko, sehingga membuat daerah ini lebih dulu dikenal dengan Injoko.
Kondisi lingkungan yang cukup nyaman dan dekat dengan perumahan, membuat kampung ini dilirik juga oleh lembaga-lembaga pendidikan. Salah satu lembaga pendidikan yang eksis di daerah ini adalah sekolah Al Hikmah. Mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Tak hanya itu, pembangunan jalan-jalan baru membuat pertumbuhan kampung Gayungan semakin pesat. Salah satu jalan yang menjadi ciri khas kampung Gayungan adalah Jl Gayungsari Barat. Di mana di jalan itu, Gedung Astra Nawa dibangun di tahun 1990.
Tepat di depannya, gedung Museum Nahdlatul Ulama (NU) didirikan. Di Museum itu berisi barang-barang bersejarah dari Kiai Hasyim Asy'ari, tokoh pendiri NU. Di antaranya, dokumen yang berkaitan dengan pendirian NU, koleksi tongkat dan keris milik para Kiai NU, dan sebuah Alquran raksasa yang diduga setiap tahunnya ukurannya bisa berkembang.
DATA WILAYAH
- Luas wilayah : 90 Ha
- Jumlah penduduk : 15169 jiwa
- RT RW : 64 RT - 11 RW
- Pendidikan warga : SMA
- Potensi warga : perdagangan, wirausaha
KOMENTAR