Kamis, 30 April 2026

Tang...Ting...Tang...Jadilah Ketintang

Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_147969" align="alignnone" width="630" caption="BATIK CINTA - Ibu-ibu penggerak PKK Kelurahan Ketintang, Surabaya menunjukkan karya Batik Cinta yang menjadi ciri khas kampung Ketintang. Foto: surya/ahmad zaimul haq"][/caption] Nama kampung Ketintang ternyata diambil dari suasana kampung yang dulunya dipenuhi suara tang.. ting.. tang. Suara besi yang sedang ditempa. Karena di antara kampung yang dulunya persawahan itu warganya banyak yang membuka usaha sebagai pembuat senjata seperti tombak, keris, pisau, dan alat-alat pertanian dengan bahan baku besi. Pusat dari kampung Ketintang, yang kini masuk sebagai Kelurahan Ketintang, adalah di wilayah Ketintang Kulon atau yang kini dikenal sebagai Ketintang Barat. Menurut H Sardjiman Hs (76), sesepuh kampung yang juga Ketua LKMK setempat, Ketintang adalah bagian dari wilayah Kampung Karangrejo yang berupa pekarangan dan sawah. ”Ketintang sendiri dulunya banyak sawah. Sebagai orang yang babat alas, diyakini adalah Mbah Wijil atau Mbah Wazir,” jelasnya. Mbah Wijil ini adalah anak dari Nyai Ayu dan Abdulah dari Kampung Sidosermo, yang membangun rumah dan tinggal di tengah persawahan Ketintang. Kemudian dia juga membangun langgar atau yang kini telah menjadi masjid dengan nama Al-Muttaqin. Kehadirannya dibarengi dengan orang-orang lain yang datang dan tinggal di sekitar rumah Mbah Wijil untuk mensuplai kebutuhan akan alat-alat pertanian warga petani di Karangrejo dan sekitarnya. Jadilah kawasan itu menjadi tempat produksi alat-alat pertanian dari bahan besi seperti pisau, sabit, cangkul, dan lain sebagainya. Karena membuatnya dengan menempa besi yang dibakar atau yang lebih dikenal dengan pande besi, maka suasana kampung di Ketintang Barat itupun diiringi suara tang ...ting...tang...., kemudian menjadikan daerah itu bernama Ketintang. Kini makam Mbah Wijil ada di di samping Masjid Al-Muttaqin yang ada di Ketintang Barat Gang II. Dan sejak tiga tahun terakhir, tiap tahun digelar haul Mbah Wijil yang acaranya dilakukan dua bulan sebelum Bulan Puasa. Setelah Mbah Wijil, perkembangan Kampung Ketintang bertambah dengan kedatangan Syeh Sayid Ali Abidin, yang datang untuk menyebarkan agama Islam. Bersama makam Mbah Wijil, makam Syeh Sayid Ali Abidin yang terletak di belakang Kantor Kelurahan Ketintang di Jl Ketintang Madya juga dikeramatkan. Selain dikenal sebagai sentra pande besi, Kampung Ketintang juga dikenal sebagai penghasil padi. Hal itu pula yang membuat pabrik pengolahan padi dibangun di daerah Ketintang di jaman Belanda. Pabrik yang berdiri megah di Jl Ketintang Madya tersebut pada temboknya tertulis dibangun tahun 1900. Kini, perkembangan kampung Ketintang tidak lagi menjadi sentra pande besi maupun pengolahan padi. Menurut Kepala Kelurahan Ketintang, Anang Kustyawan SSTP, pihaknya sedang melakukan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai kegiatan. ”Salah satunya yang sedang kami kerjakan adalah pembuatan batik untuk menciptakan ciri khas kampung Ketintang,” kata Anang didampingi Ny Siyanti Suyadi, warga Ketintang Baru VI/8 yang menjadi koordinator kegiatan membatik dengan menghasilkan batik yang diberi nama Batik Cinta. Lebih lanjut Siyanti menjelaskan, ada empat jenis batik yang disiapkan. Yaitu batik tulis, batik cap, batik printing, dan batik celup ikat. ”Yang potensial dan sudah kami kerjakan adalah batik celup ikat. Lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan jenis lainnya,” jelas wanita yang akrab dipanggil Bu Yati itu. Sebagai motif khasnya, batik yang dihasilkan ibu-ibu yang tergabung dalam PKK Ketintang itu adalah motif waru atau Hati. Sesuai temanya, yaitu Batik Cinta. Soal warna, mereka menyerahkan pada pilihan ibu-ibu. Tapi dari hasil yang sudah jadi, terlihat warna-warna batik celup ikat yang dihasilkan berwarna terang. Khas sekali dengan orang Surabaya. Seperti warna biru muda, pink, orange, merah, cokelat muda, dan lain sebagainya. Selain motif hati, tampil juga motif bulatan, yang dijelaskan Yati sebagai motif celup ikat dengan menggunakan bahan batu atau kelereng. Usaha pelatihan batik itu sendiri baru dilakukan mulai awal Bulan Februari 2011 ini . Namun hasilnya telah membuat beberapa tamu tertarik. Dengan bahan kain jenis permisan berukuran dua meter kali satu meter, mereka sudah bisa menerima pesanan. ”Sudah ada 10 potong pesanan batik dengan warna dan motif yang sama untuk dijadikan bahan seragam. Per potongnya, kami hargai Rp 65.000,” jelas Yati. Dengan adanya aktifitas batik ini, yang secara bergiliran dilakukan ke seluruh ibu-ibu di tingkat RT se Kelurahan Ketintang, Anang dan Yati berharap, kampung Ketintang bisa menjadi sentra batik khas Surabaya. Untuk menguatkan niat tersebut, mereka menggandeng perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya untuk mendukung kegiatan warga melalui dana Corporate Social Responsible (CSR). Di antaranya PT Telkom, PT PJB, Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan perusahaan besar lainnya.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved