Jumat, 5 Juni 2026

Bermukim di Atas Makam

Tayang:
[caption id="attachment_143227" align="alignleft" width="300" caption="KERAMAT - Makam Mbah Ronggo dan Mbah Unggul yang berada di tengah kampung Jagalan gang IV, Surabaya, Kamis (6/1). - SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ"][/caption] NAMA Jagalan, di Kota Surabaya, lebih dikenal sebagai nama sebuah jalan di kawasan Pecinan. Padahal, di balik jalan itu terdapat kampung unik dan menarik untuk dikenal. Namanya pun kampung Jagalan. Terletak di wilayah Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, kampung Jagalan masuk dalam wilayah RW 16. Dengan alamat mulai dari Jagalan Gang I hingga Jagalan Gang VII. Terbagi menjadi tujuh RT. Keunikan di kampung itu, dari sisi sejarah, menurut Akhmat Taufik, 64, Ketua RW 16, nama Jagalan diambil dari kata tukang jagal. ”Saat saya muda dulu, sekitar tahun 1960-an, ada orang-orang tua warga sini yang bercerita bila daerah ini dulunya adalah tempat jagal kepala manusia. Yaitu orang-orang yang memberontak pada masa pemerintahan kolonial Belanda,” jelas Akhmat yang tinggal di Jagalan Gang III. Bukti tersebut dengan banyaknya makam-makam yang kini telah menyatu dengan kampung. Beberapa di antaranya bahkan sudah rata dan di atasnya telah berdiri rumah-rumah penduduk. Ketika Surya masuk ke kampung itu, terlihat ada banyak makam-makam yang terpisah dan terletak di antara bangunan-bangunan rumah penduduk, yang terlihat bukanlah bangunan baru. Melainkan juga bangunan rumah sekitar tahun 1960-an. Salah satunya terlihat di Gang IV. Ada sekitar empat kompleks makam, yang terdiri atas satu hingga empat makam sekaligus. Menurut salah saeorang wanita tua yang mengaku sebagai penjaga makam, menyebutkan, makam-makam di Gang IV itu dikeramatkan. Warga ada yang datang dan menggelar kenduri di makam Mbah Ronggo dan Mbah Unggul. Biasanya orang Tionghoa,” ceritanya tanpa mau menyebut nama dan dipotret, karena dia hanya mengenakan sarung khas Madura dan kutubaru (kutang model lama, Red). Tak hanya makam-makam yang masih dikeramatkan, di belakang kompleks makam Mbak Ronggo, ada bangunan yang disebut warga sebagai bangunan bekas pasar. Pasar itu berdiri sekitar tahun 1925. Hal itu berdasarkan prasasti bekas penutup makam Cina yang memiliki tulisan tahun 1928. Bangunan bekas pasar, terlihat dari bentuk atap dan tiang-tiang kayu yang terlihat dari kayu utuh dan berukuran besar. Makam dan bekas pasar itu adalah yang masih tampak. Namun, di beberapa rumah warga, terutama warga pendatang yang mulai berdatangan di kampung Jagalan sekitar tahun 1940-an, di bawah rumahnya merupakan makam. Bahkan saat tahun 1950 - 1960-an, saat banyak warga yang membangun rumah baru, banyak yang menemukan tulang belulang manusia di bawah fondasi rumah. Akhmat sendiri mengaku bahwa dia juga pernah mendapat cerita, karena tempat jagal, maka di kawasan itu banyak yang menjadi tempat pemakaman massal, sehingga makamnya tidak ditandai. ”Mungkin dari itu juga yang membuat tulang belulang manusia banyak ditemukan saat pembangunan permukiman penduduk,” ujarnya. Sedangkan dari sisi sosial dan ekonomi, kampung Jagalan merupakan kampung yang cukup strategis. Berada di pinggir Sungai Kalimas, dan pusat bisnis kawasan Stasiun Semut dan sekitarnya, membuat kampung ini memiliki warga mayoritas wiraswasta dan karyawan. Dan itu diduga telah berlangsung sejak sebelum masa revolusi tahun 1945. Para warga itu pun juga berasal dari berbagai etnis, di antaranya, etnis Jawa, Madura, Tionghoa, dan ada sebagian kecil keturunan Belanda. Akhmat sendiri menyebutkan ada warganya yang tinggal di Gang III, merupakan warga lama yang keturunan Belanda. ”Hanya orang Madura yang mungkin masuk paling belakangan di kampung ini. Orang Jawa, Tionghoa, dan keturunan Belanda yang lebih dulu,” lanjut Akhmat. Hal itu berdasarkan banyaknya bangunan rumah kuno yang memiliki ciri-ciri arsitektur Belanda dan Tionghoa. Termasuk salah satu rumah di Gang IV, yang diketahui berdiri sejak awal tahun 1900-an, dan sebelumnya diketahui sebagai sekolah elite khusus warga Tionghoa. Selanjutnya, rumah yang bercat hijau dengan pilar-pilar besar dan tinggi itu kini telah tertutup pagar rapat. ”Sejak sekitar tahun 1960-an, sudah berubah fungsi menjadi rumah tangga,” tandas Akhmat.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved