Jumat, 5 Juni 2026

Kembali ke Selera nDeso

Tayang:
Penulis: Cak Sur |
Sepiring nasi tidak akan cukup untuk disantap bersama cobek berisi wader goreng dan sambal terasi. Sambal ini istimewa karena segar dan langsung diulek begitu dipesan. Karena itu bisa request tingkat kepedasan yang diinginkan. Jika makan di deretan warung sepanjang Waduk Badug, Desa Malangsari, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, mau tidak mau harus menanggalkan gengsi. Keringat deleweran itu sudah biasa. Maklum, sambal segar memang punya daya ‘peras’ keringat lebih kuat. Yang gandrung dengan kuliner jenis bothok, di sinilah tempat incip-incip yang khas. Waduk Badug memberi berbagai ikan yang diolah menjadi aneka botok. Berbagai ikan air tawar siap dijaring. Akan tetapi, peringkat atas dalam dunia perbotokan di Waduk Badug dipegang oleh wader, kutuk (gabus), dan belut. Botok wader, botok kutuk, dan botok belut menjadi santapan yang paling dicari. Mungkin, masakan botok yang ada di Waduk Badug tak beda jauh dengan masakan yang ada di daerah lain. Namun, yang membuat beda adalah, ikan yang digunakan sebagai bahan botok diambil langsung dari waduk yang berada di belakang lokasi. Tanpa perlu menginap, ikan-ikan itu langsung diolah. Terbayang kesegarannya. Hal itulah yang membuat pengunjung tergoda dan ketagihan untuk mecicipi masakan yang menjadi sajian khas kawasan tersebut. Yang lebih spesial, sambil menyantap sejumlah menu yang tersedia, pengunjung disuguhi pemandangan alam di waduk. Sejenak menjauh dari keriuhan kota, tempat ini menjadi sarana istirahat bagi keluarga. Bahkan, banyak yang menyempatkan diri menjamu tamu dengan sajian khas ikan sungai. Dapur di warung Ny Suyati seperti tidak pernah berhenti menggerus cabai. Aroma gorengan ikan dan harumnya botok berbungkus daun pisang yang dikukus, seperti magnet bagi pengunjung. Setiap hari, warung Ny Suyati membutuhkan wader 5-7 kilogram untuk bahan botok. Wader itu diambil langsung dari waduk yang berada persis di belakang bangunan warung. Ikan segar itulah yang kemudian diolah menjadi masakan botok. “Ikan sudah ada yang memasok, diambil langsung dari waduk,” ujar ibu dua anak itu. Cara membuatnya pun sangat sederhana. Sebelum dimasak, wader segar itu dicuci bersih. Sambil menunggu proses mencuci, dia menyiapkan bahan-bahan untuk bumbu. Bawang merah, bawang putih, gula, garam, kunyit, cabai merah, dan cabai rawit secukupnya. Bahan itu diulek dan diberi sedikit air. Agar rasanya semakin sedap dan aromanya menggoda selera, biasanya Ny Suyati menambahkan sedikit perasan belimbing wuluh (belimbing sayur) ke dalam adonan bumbu. Bersamaan dengan itu wader yang sudah dibersihkan lalu digoreng setengah matang dengan minyak yang panas. “Ikannya tidak digoreng sampai garing, agar kalau dipepes bumbunya meresap,” jelasnya. Setelah semua siap, wader dicampur dengan bumbu dan dibungkus menggunakan daun pisang kepok. Harus daun pisang kepok karena daunnya tebal dan tidak mudah sobek. Kemudian dikukus dalam dandang selama kurang lebih 15 menit. Setelah hangat, botok siap dihidangkan. Dimakan dengan nasi begitu saja sudah nikmat. Akan tetapi, jika ingin lebih lengkap, pesan saja sayur asam ndeso yang segar. Isi sayur asamnya benar-benar khas desa terdiri atas kangkung, kol, terong, dan mentimun. Selain menu botok, warung Ny Suyati juga menyediakan menu wader dan belut goreng bersama lalapan. Jika akan dibuat botok wader dan belut tidak digoreng garing, sebaliknya untuk wader goreng justru harus renyah agar gurihnya terasa. Sebagai lalapan ada terong gelatik yang rasanya agak pahit tetapi justru itu yang membuat terong mungil ini dicari. Dicocol sambal terasi, hm… gurih dan pedas bercampur. Sambal terasi yang dipesan bisa minta agak halus atau justru diulek kasar saja, sehingga bawang putih, bawang merah, dan cabai rawitnya masih menyisakan bentuk asli. “Untuk ukuran pedasnya, terserah selera pembeli,” tutur Ny Suyati. Paket Hemat Menu Sehat Lokasi perburuan ikan segar dari waduk berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Nganjuk. Lokasi waduk ini antara Kertosono dan Baron. Jalurnya sudah ditata rapi, sehingga memudahkan pengunjung yang akan datang. Dari sederet warung yang ada di lokasi, salah satunya milik Ny Suyati. Warung milik perempuan berusia 40 tahun asal desa setempat ini bisa dibilang paling laris. Maklum, Ny Suyati bersama empat pedagang lain yang mengawali berdirinya sejumlah warung di tepi Waduk Badug, delapan tahun silam. Harga setiap paket menu tergolong murah meriah dan tidak membuat kantong jebol. Untuk menu jenis botok wader, sayur asam, dan nasi cuma Rp 10.000. Sedang untuk menu pepes belut lengkap dengan sayur asam dan nasi Rp 12.000. Sedang untuk satu paket menu wader goreng, lengkap dengan nasi dan lalapan, pengunjung hanya merogoh kantong Rp 10.000. Untuk satu paket belut goreng lengkap, silakan bayar Rp 14.000. Sekarang lokasi Waduk Badug menjadi salah satu tempat istirahat dan ‘mengasah’ lidah, terutama masyarakat kota yang ingin kembali merasakan sensasi kenikmatan masakan desa. “Menu di sini mengingatkan masakan waktu di desa dulu,” ujar Nugroho berasal dari Trenggalek yang sekarang tinggal di Kediri. Para pejabat di Kediri, Nganjuk, dan sekitarnya, ternyata juga doyan menyantap masakan khas yang ada di Waduk Badug itu. “Pak Taufiq juga sering mampir ke sini. Biasanya pesan belut goreng,” ujar Ny Suyati dengan bangga menyebut bupatinya, Taufiqurrahman, sebagai salah satu pelanggan warung itu.
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved