Pasar Kambing, Riwayatmu Kini
Gedung tua di Jl Nyamplungan yang beridiri sejak 1942, kini berganti dengan bangunan megah berlantai tiga. Warnanya hijau, tampak mencolok di antara bangunan di sekitarnya. Tapi, meski sudah direnovasi, warga tetap menyebutnya sebagai Pasar Kambing.
miftah faridl
surabaya
Aroma daging segar langsung tercium saat memasuki pintu depan pasar yang sempat berjaya pada beberapa dekade lalu itu. Ceceran darah pun di lantai yang sudah dilapisi keramik. Permukaan keramik yang mulus, membuat langkah sedikit berbahaya. Namun, pemandangan ini jelas jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pasar sebelum 2006.
“Kondisinya sekarang sudah bersih. Sejak direnovasi pada 2006 lalu, Pasar Kambing jadi lebih rapi, karena smuanya sudah dikeramik, termasuk meja untuk motong daging. Di lantai dua dan tiga, sebenarnya mau dijadikan pasar juga. Tapi tak laku,” ujar Mochamad Ustuchri, pedagang di sana.
Pria 63 tahun itu bercerita, kondisi pasar memang berubah. Namun, tetap saja tidak memiliki dampak yang signifikan dengan penjualan daging kambingnya. Semuanya berjalan lambat dan nyaris tak ada perkembangan berarti. “Malah sekarang tinggal delapan pedagang karena satu sudah tidak berjualan lagi,” tambahnya.
Bapak enam anak yang berjualan sejak 1987 itu melanjutkan, dulu, sebelum direnovasi, pasar ini memiliki 16 stan. Pada tahun-tahun itu, masih ramai. Pasalnya, sebagian warga sekitar Ampel selalu berbelanja daging kambing di sana. Tak kurang lebih dari 20 ekor kambing bisa habis terjual dalam sehari.
Keadaan itu kini tinggal kenangan. Saat ini sudah banyak pesaing Pasar Kambing yang kini diberi nama oleh PD Pasar Surya sebagai Pasar Ampel itu. Dalam sehari, Pak Us, panggilan akrab Ustuchri, hanya mampu menjual 10 ekor kambing. Namun, pak Us jumlah kambing potong yang dijualnya itu sudah cukup untuk menghidupi keluarganya.
“Maklum saja. Sekarang orang mau beli kambing bisa di mana saja. Tak hanya di sini. Di banyak minimarket yang tersebar di mana-mana, sudah banyak yang jual daging. Kini kami hanya mengandalkan pelanggan tetap dan untung-untung kalau ada warga sekitar sini yang hajatan. Kalau orang datang membeli eceran, nyaris tidak ada,” tandasnya.
Untuk menyiasati keadaan ini, beberapa tahun belakangan Pak Us memilih menjual dagingnya dengan berkeliling kampung. Sebuah gerobak sederhana digunakan untuk menjajakan daging dagangannya. Bukan hanya itu, Pak Us juga rutin mengirim daging kambing yang ia datangkan dari Tulungagung, Jombang, dan Madura itu sampai ke Kalimantan.
Dari usaha yang dimulainya dari nol itu, Pak Us berhasil mengantarkan empat dari enam anaknya meraih gelar sarjana. Hal inilah yang membuat Pak Us tetap tabah berdagang daging di pasar yang berangsur sudah disisihkan itu. Dalam bahasa sederhana, Pak Us ingin terus bertahan karena tak ingin Pasar Kambing mati. “Saya tetap ingin berjualan di sini bersama teman-teman yang tersisa,” tegas pria yang tinggal di Jl Boto Putih II/87 itu.
Hal senada juga diucapkan H Nizar. Pedagang yang sudah menghuni stan sejak 1973 itu yakin jika Pasar Kambing masih memiliki pelanggan setia. Apalagi, kepercayaan pelanggan terhadap pedagang di sana sudah mengakar. “Di sini ini banyak pedagang yang sudah berjualan dari generasi ke generasi. Jadi, pelanggannya ya tetap setia karena kita saling menjaga kepercayaan,” ucapnya.
Kedua pedagang ini berharap, Pasar Kambing tetap bisa terus ada. Walaupun sudah berubah konsep, mereka ingin tradisi berdagang di sana tetap di jaga.
“Biar saja di atas ada toko. Saya yakin kalau toko di atas ramai, di sini juga ikut ramai. Jangan sampai pasar mati,” timpal Pak Us.
KOMENTAR