Sabtu, 18 April 2026

Kampung Kalidami Kisah Kampung Damai di sisi Timur Surabaya

Meski hanya berupa cerita dari mulut ke mulut, setidaknya kampung Kalidami yang berada di belahan timur Kota Surabaya mempunyai kisah sejarah yang khas. Warga setempat meyakini kampung ini mulai berdiri sejak 1950-an. Sri Handi Lestari SURABAYA Mulanya lahan tersebut berupa rawa-rawa. Lalu oleh sebagian penduduk ditimbuni sampah dan tanah. Kemudian, dijadikan lahan bertanam sayur-sayuran. Menurut Sahidin,38, warga setempat, dulunya lahan di Kalidami ini berupa hamparan rawa yang dijadikan tempat pembuangan sampah. “Nah setelah sampah penuh, lahan ini kemudian ditimbuni tanah padat sehingga bisa dibuat tanam sayur-sayuran,” ujar warga yang mengaku sejak kecil tinggal di Kalidami. Soal nama Kalidami, takmir Mushala Al Hakim Kalidami tersebut nama itu berasal dari kata Kali (Sungai) dan Damai. “Kalau diartikan warganya suka kedamaian, tidak suka bertengkar,” ujarnya. Sementara Siti Jumaidah,46, warga lainnya mengatakan Kalidami berasal dari akar kata Kali dan Damen (Padi). Menurutnya dulu kala kampung itu terdapat sungai kecil yang mengelilingi lahan persawahan. “Kampung ini dulunya lahan persawahan. Jadi di sungai itulah ada banyak damen(padi) sehingga dinamakan Kalidami,” ujarnya. Yang jelas kampung yang dulunya areal sawah dan rawa itu kini menjadi kawasan permukiman padat penduduk. Awalnya Surabaya adalah kawasan perkampungan atau pedesaan di pinggiran sungai. Nama-nama kampung yang kini masih ada seperti Kaliasin, Kaliwaron, Kalidami, Ketabangkali, Kalikepiting, Darmokali, dan sebagainya adalah bukti yang menjelaskan bahwa kawasan Surabaya adalah kawasan yang memiliki banyak aliran air / sungai. Secara geografis ini sangat masuk akal, karena memang kawasan Surabaya merupakan kawasan yang berada di dekat laut dan aliran sungai besar (Brantas, dengan anak kalinya). Lokasi Surabaya yang berada di pinggir pantai, merupakan wilayah yang menjadi lintasan hilir mudik manusia dari berbagai wilayah. Surabaya, menjadi pertemuan antara orang pedalaman pulau Jawa dengan orang dari luar. Pada tahun 1612 Surabaya sudah merupakan bandar perdagangan yang ramai. Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya. Banyak pedagang Portugis membeli rempah-rempah dari pedagang pribumi. Di bawah kekuasaan Trunojoyo, Surabaya menjadi pelabuhan transit dan tempat penimbunan barang-barang dari daerah subur, yaitu delta Brantas. Sementara, Kalimas menjadi “sungai emas” yang membawa barang-barang berharga dari pedalaman.. n
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved