Jembatan Petekan, Konstruksi Canggih Belanda
Tayang:
Diakui tapi Dilupakan
Jembatan Petekan atau dalam bahasa Belanda disebut Ferwerdarbrug terdapat di Jl Jakarta Surabaya. Jembatan canggih buatan kolonial Belanda ketika menguasai Surabaya ini dibangun untuk menunjang transportasi perdagangan di Kota Surabaya.
Jembatan Petekan didesain buka-tutup untuk jalur perahu tradisional dari pelabuhan Tanjung Perak ke Kembang Jepun. Tinggal menekan tombol pembuka, jembatan itu pun terbuka sendiri. Begitu pula ketika ditekan tombol untuk menutup. Sayangnya, kecanggihan jembatan itu kini tidak bisa dioperasikan lagi.
Setelah sekian puluh tahun tidak difungsikan dan memiliki nilai sejarah tinggi, jembatan itu kini hanya sekadar dijadikan cagar budaya. Penelusuran Surya, di depan pintu masuk jembatan itu, terdapat papan berisi tulisan yang menegaskan bahwa pemerintah kota (pemkot) Surabaya menjadikan jembatan itu sebagai cagar budaya.
Tulisannya, 'Bangunan Cagar Budaya Ferwerdarbrug/Jembatan Petekan. Konstruksi Jembatan Peninggalan Kolonial sebagai Penunjang Kawasan Kota Lama. Sesuai Surat Keputusan Wali Kota Surabaya 188.45/004/402.1.04/1998 nomor urut 47 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Tahun 2008".
Namun, keberadaan jembatan Petekan yang dibangun sekitar tahun 1900-an oleh NV Braat and Co itu sudah tidak terawat lagi. Kendati dikelilingi pagar besi warna hijau dan putih, namun, pagar tersebut tidak terkunci. Siapa pun bisa dengan mudah memasukinya.
Besi tua dan berkarat penyokong jembatan ini terlihat dimana-mana. Di sekelilingnya terdapat sampah-sampah berserakan. Kaki jembatan yang berongga lebar berbentuk kotak besar digunakan tempat botol minuman kemasan bekas milik orang tak dikenal. Bahkan, jembatan ini sempat ambrol 21 Agustus 2010 lalu. Diduga, karena penyangga keropos dan tak kuat lagi menahan debit air sungai yang meluap setelah Surabaya diguyur hujan deras saat itu.
Salah satu warga yang rumahnya tak jauh dari jembatan Petekan, Supar, 64, menceritakan jembatan itu dulu sangat megah. Jembatan itu menjadi lalu lintas kapal dan perahu dari luar pulau untuk menyandarkan barangnya di gudang Kalimas. Gudang itu melewati jembatan. "Kalau melihat saat jembatan dibuka, bagus sekali," terang Supar yang sedang memancing di jembatan itu, Minggu (31/10).
Ia menyayangkan, pemerintah yang tidak memerhatikan jembatan itu. Padahal, jembatan ini tidak ada di daerah lain.
Waktu malam, karena tanpa penjaga, besi-besi penyangga jembatan seringkali dipreteli oleh orang-orang pencari besi tua. "Ini mungkin yang menyebabkan jembatan ambrol," katanya sambil menunjuk ke bagian jembatan yang rusak.
Sikap Supar sebagai warga biasa yang menyayangi kecanggihan jembatan itu tidak sejalan dengan perhatian pemkot. Seperti melupakan sejarah, pemkot tidak melakukan sesuatu terhadap jembatan tersebut. Pemkot sendiri berdalih tidak memiliki dana untuk merawat dan memelihara jembatan itu.
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Surabaya, Wiwik, letak jembatan itu bukan di wilayah pemkot, tapi berada di wilayah provinsi. Pemkot hanya berusaha mengamankan dan melestarikan serta memelihara bangunan cagar budaya itu.
"Jadi tugas kami hanya ini (merawat), sangat disayangkan kalau bangunan ini telantar. Kami harus koordinasi dengan yang mempunyai jembatan itu (pemerintah provinsi)," papar Wiwik di kediaman Wali Kota, pekan lalu.
Wiwik menyatakan tahun ini akan dilakukan perbaikan jembatan. Namun, ia belum tahu bentuk perbaikan yang dimaksud.
Robohnya jembatan itu juga mengganggu arus lalu lintas perahu yang akan melintas dibawah jembatan.
Mengenai biaya perbaikan, Wiwik mengaku tidak tahu. "Bina Marga yang tahu dan biaya itu kewenangan provinsi," tambahnya.
Sebaliknya, Kepala PU dan Bina Marga Provinsi Jatim Gentur Sanjoyo mengatakan, tanggung jawab jembatan Petekan ada di pemkot Surabaya. Sebab, yang mengelola cagar budaya itu adalah pemkot. Gentur tidak mau jika pendanaan perawatan jembatan tersebut diserahkan kepada pihaknya.
"Sekarang saja ambrol, untuk mengangkat jembatan itu butuh puluhan miliar rupiah. Harus mendatangkan alat-alat berat," jelas Gentur.iks
KOMENTAR