Sabtu, 2 Mei 2026

Lompatan Kehidupan si Mantan Bajing Loncat

Tayang:
Samsul Arifin, Juragan Rongsokan Surabaya - SURYA- Di usia yang dini, sekitar 15 tahun, maksiat sudah dijalani Samsul Arifin. Mulai minum minuman keras, mencuri hingga main perempuan. Saat itu dia masih SMP. Sewaktu SMA, Samsul `naik tingkat` jadi bajing loncat. Entah karena apa, dalam waktu cukup lama, ia gelisah dan mengalami kesulitan tidur. Kondisi itu menjadi awal bagi perubahan drastis dalam hidup Samsul. Sebetulnya, meski sudah mengenal dunia hitam, ketika di SMP itu, tingkat kenakalan Samsul masih terbilang kroco. Ia masih tinggal bersama orangtuanya. Namun, sejak diusir dari sebuah SMA di Kota Probolinggo dan kemudian sampai tiga kali keluar-masuk sekolah-sekolah lain, sejak itu kehidupan Samsul benar-benar jadi tidak terkontrol. Sekolah ditinggalkan, dan ia jarang sekali ditemukan di rumahnya. Kala itu, sehari-hari Samsul lebih banyak terlihat di sebuah pasar buah di Kota Probolinggo. Di sana, Samsul ternyata mengamati lalu lalang kendaraan. Bersama beberapa rekan cangkrukan-nya di pasar, ia membidik kendaraan-kendaraan yang membawa barang, untuk digasak. Samsul menjadi bajing loncat. Uniknya, kala itu Samsul menganggap pencurian pada kendaraan pengangkut barang itu (mobil atau truk) sebagai sebuah uji kemahiran aksi akrobatik. “Saya terinspirasi oleh gerakan-gerakan aktor van Damme dalam film-film laganya. Jadi, untuk loncat naik kendaraan tanpa diketahui dan kemudian melompat turun dengan sigap, saya tak dilatih siapa pun. Saya cuma mengamati filmnya van Damme,” tutur Samsul, yang kini berusia 28 tahun, tentang keterampilan masa lalunya itu. Ia sendiri terheran-heran kenapa tak memiliki rasa takut sedikitpun waktu itu. Bahkan, meski tumit kirinya cacat lantaran ditebas celurit dalam sebuah carok, ia tak kapok. Kata Samsul, menjadi bajing loncat yang andal butuh tiga modal: keberanian, keterampilan, dan ketenangan. Suatu kali, ia pernah tepergok oleh awak kendaraan saat naik truk yang dia incar barangnya. Tapi, ia berusaha tenang, sehingga dianggap seolah orang yang sedang numpang atau nggandol. Namun, ketika truk berada di tempat sepi, Samsul mulai beraksi. Barang-barang di truk ia kuras dan beberapa temannya yang menguntit truk dengan menaiki sepeda motor, menjadi penampungnya. Sopir truk dan awak kendaraan yang jadi korban, biasanya takut setelah melihat Samsul beraksi bersama rombongannya. “Biasanya, barang yang saya incar itu berdasar kebutuhan atau pesanan penadah. Kalau asal ambil barang, seringkali lakunya lama karena belum tentu pasar atau penadah membutuhkan,” kata anak keempat dari 8 bersaudara ini di pasar tempat ia bisa cangkrukan, Samsul mengenal Wiwik Pusparini, yang kemudian jadi istrinya dan memberinya anak yang kini berusia 5 tahun, Dewi Putri Nuraisyah. Karena rezekinya tidak halal, uang hasil penjualan barang jarahan itu juga cepat ludes untuk foya-foya. Setelah sekitar tiga tahunan menjadi bajing loncat, entah karena apa Samsul dihinggapi ketidaktenangan. Ia mengalami rasa cemas luar biasa. Bahkan, melihat orang berseragam mirip polisi (meskipun bukan polisi), Samsul gemetaran. Padahal, sebelumnya, meski berandal, dirinya tergolong berpembawaan tenang meski berhadapan dengan aparat. Kegelisahan yang menderanya, membuat Samsul kerapkali tidak bisa tidur. Kondisi ini menyiksa dirinya dan membuat emosinya labil. Suatu kali, ketika bisa tertidur, Samsul bermimpi didatangi seseorang yang tak dikenalnya, yang menyuruhnya untuk bertobat. Sejak itu, malam-malam tatkala tak bisa tidur, Samsul selalu pergi ke masjid atau musala. Sejumlah musala telah ia datangi, baik yang jauh maupun dekat rumahnya. Ia melakukan salat malam dan salat sunnah apa pun yang masih diperkenankan. Setelah itu, biasanya Samsul berzikir lama sambil merenungi diri. “Proses itu saya jalani cukup lama, sekitar empat tahunan. Acara-acara pengajian di masjid atau musala juga saya datangi dan saya berusaha sedapat mungkin berdiskusi dengan ustadnya,” tutur Samsul. Setelah bertemu dengan sejumlah ustad dan kiai, Samsul juga mulai rajin puasa Senin-Kamis –yang dijalaninya hingga sekarang. Lama kelamaan, hati Samsul tenang dan kegelisahannya pun hilang. Ia jadi bisa tidur nyenyak. Selain itu, jalan keluar dari berbagai persoalan, makin hari dirasakannya makin terbuka. Yang paling mengesankan Samsul, kini istrinya —yang karyawan sebuah perusahaan tekstil di Probolinggo— `tertular` kebiasaannya, menjadi tak pernah lupa salat dan puasa Senin-Kamis. “Padahal, saya tidak pernah menyuruhnya. Sebab, saya tahu, awalnya dia mengenal saya kan sebagai berandalan. Jadi, kalau dia kini mau menjalankan kewajibannya, itu benar-benar karena hidayah Allah,” ucap Samsul dengan mata berkaca-kaca. Sejak beberapa tahun terakhir, untuk menghidupi keluarganya, Samsul berbisnis jual beli barang rongsokan dan membuka sebuah toko makanan dan minuman di jalan raya Soekarno-Hatta, Kota Probolinggo. Bisnis rongsokannya cukup mapan karena kini Samsul sudah bisa membayar empat pekerja. Kini, pagi hingga sore aktivitasnya dihabiskan di dua tempat usahanya itu. Dan, pada malam hari, ia tidak pernah absen beriktikaf di musala dekat rumahnya. Saat Surya bertandang ke rumahnya di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan (Kota Probolinggo), terlihat Samsul bersama empat karyawannya mengatur pemilahan barang rongsokan yang menumpuk di gudangnya, dan melayani penjual barang rongsokan. “Sehabis salat Subuh, saya sudah ada di sini. Kalau pekerja masuk jam 07.00 pagi. Itu saya lakukan setiap hari,” ucap Samsul. agus purwoko
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved