Menulis Alquran sekaligus Kitab Yasin dan Tahlil Braille
Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_104476" align="alignleft" width="360" caption="PENULIS BRAILE - Hanik Indrawati, 34, dan Suharto, 40, pasangan suami istri penyandang tuna netra menulis kalam ilah Al Quran Braille di rumahnya di kawasan Simo Pomahan Baru, Jumat (20/8). Foto:Surya/Ahmad Zaimul Haq"]
[/caption]
Alquran dengan bentuk huruf khusus bagi penyandang tuna netra, yakni huruf braille, tentu sudah bukan barang langka saat ini. Namun, pembuatnya ternyata masih sangat sedikit. Salah-satunya --bahkan mungkin satu-satunya di Jatim adalah Hanik Indrawati.
Faiq Nuraini
Surabaya
Melihat pekerjaan yang ditekuni anak keduanya itu dan sumbangsihnya bagi syiar Islam di kalangan tuna netra, Ny. Suwarti, 58, tak bisa menutupi rasa bangganya.
Apalagi, Hanik tidak hanya pandai membuat Alquran huruf braille tetapi juga mampu melantunkan bacaannya dengan bagus.
“Hanik sebetulnya lahir normal. Tetapi saat usia satu tahun, tiba-tiba ia mengalami panas tinggi dan kejang. Setelah dari rumah sakit, dia tiba-tiba tidak bisa melihat. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Karena ekonomi kami pas-pasan, kami hanya pasrah dan bersabar saat itu,” kenang Ny. Suwarti saat ditemui Surya, Jumat (20/8), di rumahnya di Simo Pomahan Baru Gang XII nomor 15, Surabaya. Di rumah itu pula Hanik dan suaminya Suharto, yang juga tuna netra, tinggal dan mengerjakan order pembuatan Alquran braille.
Setelah peristiwa yang menimpa Hanik, cobaan kembali menguji Suwarti. Saat Hanik kelas V SD, ayahnya Ginem Sukardi meninggal. Hanik pun menjadi yatim dengan keterbatasan fisik, yakni buta.
Namun, di balik keterbatasan fisiknya, anak kedua dari tiga bersaudara itu ternyata tumbuh sebagai bocah yang cerdas dan kreatif. Masuk sekolah TK Luar Biasa (TKLB), Hanik kecil sangat menonjol. Begitupun ketika berada di bangku SDLB dan SMPLB. Karena kuatnya keinginan untuk terus belajar, Hanik pun melanjutkan ke bangku SMA. Tak tanggung-tanggung, ia masuk SMA umum.
“Alhamdulillah, saya pernah ranking lima di sekolah,” ucap Hanik, yang saat ditemui sedang mengetik huruf Arab untuk menyusun Alquran braille.
Begitu lulus tahun 1998 dari SMA Tri Karya, Hanik tidak mau menganggur. Sebenarnya dia ingin sekali kuliah, tapi tak ada biaya. Lulus dan berada di rumah membuat dia tak betah. Dia berupaya mencari kesibukan.
Suatu kali, perempuan yang hobi menyanyi ini dikejutkan oleh siaran di sebuah stasiun radio swasta, yang menawarkan sebuah lowongan kepada penyandang tuna netra.
”Dicari tuna netra yang mau belajar Alquran sekaligus mondok gratis dan akan diberi pekerjaan,” ucap Hanik, mencoba mengingat bunyi siaran di radio itu.
“Mendengar pengumuman itu, saya langsung berangkat ke tempat yang disebut dalam siaran radio tersebut.”
Saat itu sekitar tahun 1999. Hanik lantas berangkat ke Yayasan Pendidikan Tunanetra Karunia Islam (YAPTUNIK) di Jl Darmo Kali Gang Tugu nomor 21 Surabaya. Di yayasan inilah Hanik menimba ilmu agama dan mengaji Alquran bersama belasan santri buta lainnya.
“Saya bersyukur bisa diasuh oleh Pak Haji Broto (juga tuna netra). Beliau adalah pimpinan pondok khusus tuna netra. Berkat beliau, saya bisa mengaji, qiroah (seni membaca indah Alquran), diajari menulis Alquran braille, dan bisa belajar dakwah. Beliau baru saja wafat. Baru peringatan seratus harinya,” kata Hanik dengan mimik sedih.
Berkat bimbingan yang telaten dari Pak Broto, Hanik akhirnya bisa mengetik Alquran Braille dengan terampil. Waktu itu, mengetik abjad latin braille, Hanik sudah cukup mahir. Sebab, sejak duduk di bangku SMP dan SMA, dia sudah akrab dengan mesin ketik braille yang berhuruf latin. Namun, mengetik huruf arab braille adalah tantangan tersendiri. Apalagi, tulisan arab braille itu untuk kitab suci Alquran.
“Tidak boleh sembarangan. Salah ketik sedikit, sudah bisa mengubah makna dari ayat Alquran. Karenanya, butuh kecermatan,” katanya.
Pelajaran huruf arab Braille berhasil Hanik hapalkan dalam waktu tiga bulan. Oleh Pak Broto, Hanik lantas dipercaya menjadi penerusnya untuk membuat Alquran braille.
“Saya bisa menyelesaikan satu juz Alquran braille dalam waktu tiga hari. Jadi seminggu bisa dua juz dan 30 juz selama 15 minggu. Saya dulu diberi upah oleh Pak Broto Rp 20.000 per juz. Saya sedih, hingga sekarang tidak ada yang mau ikut saya meneruskan membuat Alquran braille ini,” ungkap Hanik.
Sepeninggal Pak Broto, Hanik dipercaya membawa pulang dua mesin ketik braille yang dimiliki YAPTUNIK. Satu mesin ketik braille itu untuk dia, dan satu lagi untuk suaminya, Suharto. Hanik dan Suharto bertemu di pondok YAPTUNIK. Mereka sama-sama mengaji di sana.
Ketekunan dan pergaulan Hanik sehari-hari dengan huruf arab braille, membuatnya tak hanya fasih dengan huruf itu tetapi juga bisa melantunkan bacaannya dengan baik.
Dalam suatu lomba atau Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Masjid Agung Surabaya pada tahun 2000, Hanik menjadi juara. “Saya ingin seperti Pak Broto yang hapal banyak surat Alquran dan pandai berdakwah,” ucapnya.
Untuk setiap juz Alquran braille, Hanik menjual seharga Rp 65.000. Karena Alquran terdiri dari 30 juz, maka harga Alquran braille sebesar Rp 1,5 juta. Memasuki bulan puasa lalu, pesanan berdatangan dari pelbagai daerah di Jatim. Di antaranya dari Tuban, Madura, dan Gresik.
”Dari Tuban tidak hanya memesan Alquran, tapi juga memesan buku-buku berisi tahlil dan yasin. Mudah-mudahan ada teman-teman tuna netra lain yang mau meneruskan pembuatan Alquran braille ini. Suami saya sendiri selama ini sekadar membantu. Sebab, dia sudah punya kesibukan lain, yakni memijat, ” kata Hanik.
Suharto menimpali, dirinya masih ingat bahwa ada tiga orang yang dilatih khusus Pak Broto untuk menulis braille di YAPTUNIK, yang seangkatan istrinya. Mereka adalah Nuri, Parno dan Hanik. Tapi, dia tak tahu di mana keberadaan ketiganya saat ini, dan apakah memang menekuni juga pembuatan Alquran braille.
“Sekarang para tuna netra lebih memilih menekuni permainan electone. Kurang tertarik dengan pembuatan Alquran braille,” imbuh Suharto, 40.
[/caption]
Alquran dengan bentuk huruf khusus bagi penyandang tuna netra, yakni huruf braille, tentu sudah bukan barang langka saat ini. Namun, pembuatnya ternyata masih sangat sedikit. Salah-satunya --bahkan mungkin satu-satunya di Jatim adalah Hanik Indrawati.
Faiq Nuraini
Surabaya
Melihat pekerjaan yang ditekuni anak keduanya itu dan sumbangsihnya bagi syiar Islam di kalangan tuna netra, Ny. Suwarti, 58, tak bisa menutupi rasa bangganya.
Apalagi, Hanik tidak hanya pandai membuat Alquran huruf braille tetapi juga mampu melantunkan bacaannya dengan bagus.
“Hanik sebetulnya lahir normal. Tetapi saat usia satu tahun, tiba-tiba ia mengalami panas tinggi dan kejang. Setelah dari rumah sakit, dia tiba-tiba tidak bisa melihat. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Karena ekonomi kami pas-pasan, kami hanya pasrah dan bersabar saat itu,” kenang Ny. Suwarti saat ditemui Surya, Jumat (20/8), di rumahnya di Simo Pomahan Baru Gang XII nomor 15, Surabaya. Di rumah itu pula Hanik dan suaminya Suharto, yang juga tuna netra, tinggal dan mengerjakan order pembuatan Alquran braille.
Setelah peristiwa yang menimpa Hanik, cobaan kembali menguji Suwarti. Saat Hanik kelas V SD, ayahnya Ginem Sukardi meninggal. Hanik pun menjadi yatim dengan keterbatasan fisik, yakni buta.
Namun, di balik keterbatasan fisiknya, anak kedua dari tiga bersaudara itu ternyata tumbuh sebagai bocah yang cerdas dan kreatif. Masuk sekolah TK Luar Biasa (TKLB), Hanik kecil sangat menonjol. Begitupun ketika berada di bangku SDLB dan SMPLB. Karena kuatnya keinginan untuk terus belajar, Hanik pun melanjutkan ke bangku SMA. Tak tanggung-tanggung, ia masuk SMA umum.
“Alhamdulillah, saya pernah ranking lima di sekolah,” ucap Hanik, yang saat ditemui sedang mengetik huruf Arab untuk menyusun Alquran braille.
Begitu lulus tahun 1998 dari SMA Tri Karya, Hanik tidak mau menganggur. Sebenarnya dia ingin sekali kuliah, tapi tak ada biaya. Lulus dan berada di rumah membuat dia tak betah. Dia berupaya mencari kesibukan.
Suatu kali, perempuan yang hobi menyanyi ini dikejutkan oleh siaran di sebuah stasiun radio swasta, yang menawarkan sebuah lowongan kepada penyandang tuna netra.
”Dicari tuna netra yang mau belajar Alquran sekaligus mondok gratis dan akan diberi pekerjaan,” ucap Hanik, mencoba mengingat bunyi siaran di radio itu.
“Mendengar pengumuman itu, saya langsung berangkat ke tempat yang disebut dalam siaran radio tersebut.”
Saat itu sekitar tahun 1999. Hanik lantas berangkat ke Yayasan Pendidikan Tunanetra Karunia Islam (YAPTUNIK) di Jl Darmo Kali Gang Tugu nomor 21 Surabaya. Di yayasan inilah Hanik menimba ilmu agama dan mengaji Alquran bersama belasan santri buta lainnya.
“Saya bersyukur bisa diasuh oleh Pak Haji Broto (juga tuna netra). Beliau adalah pimpinan pondok khusus tuna netra. Berkat beliau, saya bisa mengaji, qiroah (seni membaca indah Alquran), diajari menulis Alquran braille, dan bisa belajar dakwah. Beliau baru saja wafat. Baru peringatan seratus harinya,” kata Hanik dengan mimik sedih.
Berkat bimbingan yang telaten dari Pak Broto, Hanik akhirnya bisa mengetik Alquran Braille dengan terampil. Waktu itu, mengetik abjad latin braille, Hanik sudah cukup mahir. Sebab, sejak duduk di bangku SMP dan SMA, dia sudah akrab dengan mesin ketik braille yang berhuruf latin. Namun, mengetik huruf arab braille adalah tantangan tersendiri. Apalagi, tulisan arab braille itu untuk kitab suci Alquran.
“Tidak boleh sembarangan. Salah ketik sedikit, sudah bisa mengubah makna dari ayat Alquran. Karenanya, butuh kecermatan,” katanya.
Pelajaran huruf arab Braille berhasil Hanik hapalkan dalam waktu tiga bulan. Oleh Pak Broto, Hanik lantas dipercaya menjadi penerusnya untuk membuat Alquran braille.
“Saya bisa menyelesaikan satu juz Alquran braille dalam waktu tiga hari. Jadi seminggu bisa dua juz dan 30 juz selama 15 minggu. Saya dulu diberi upah oleh Pak Broto Rp 20.000 per juz. Saya sedih, hingga sekarang tidak ada yang mau ikut saya meneruskan membuat Alquran braille ini,” ungkap Hanik.
Sepeninggal Pak Broto, Hanik dipercaya membawa pulang dua mesin ketik braille yang dimiliki YAPTUNIK. Satu mesin ketik braille itu untuk dia, dan satu lagi untuk suaminya, Suharto. Hanik dan Suharto bertemu di pondok YAPTUNIK. Mereka sama-sama mengaji di sana.
Ketekunan dan pergaulan Hanik sehari-hari dengan huruf arab braille, membuatnya tak hanya fasih dengan huruf itu tetapi juga bisa melantunkan bacaannya dengan baik.
Dalam suatu lomba atau Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Masjid Agung Surabaya pada tahun 2000, Hanik menjadi juara. “Saya ingin seperti Pak Broto yang hapal banyak surat Alquran dan pandai berdakwah,” ucapnya.
Untuk setiap juz Alquran braille, Hanik menjual seharga Rp 65.000. Karena Alquran terdiri dari 30 juz, maka harga Alquran braille sebesar Rp 1,5 juta. Memasuki bulan puasa lalu, pesanan berdatangan dari pelbagai daerah di Jatim. Di antaranya dari Tuban, Madura, dan Gresik.
”Dari Tuban tidak hanya memesan Alquran, tapi juga memesan buku-buku berisi tahlil dan yasin. Mudah-mudahan ada teman-teman tuna netra lain yang mau meneruskan pembuatan Alquran braille ini. Suami saya sendiri selama ini sekadar membantu. Sebab, dia sudah punya kesibukan lain, yakni memijat, ” kata Hanik.
Suharto menimpali, dirinya masih ingat bahwa ada tiga orang yang dilatih khusus Pak Broto untuk menulis braille di YAPTUNIK, yang seangkatan istrinya. Mereka adalah Nuri, Parno dan Hanik. Tapi, dia tak tahu di mana keberadaan ketiganya saat ini, dan apakah memang menekuni juga pembuatan Alquran braille.
“Sekarang para tuna netra lebih memilih menekuni permainan electone. Kurang tertarik dengan pembuatan Alquran braille,” imbuh Suharto, 40. KOMENTAR