Selokan Van der Wijck Jogja
Tayang:
Penulis: Satwika Rumeksa |
“Londo niku musuh, ning ninggali kebecikan niki, ana apike ana eleke, ngih to? Sak niki akeh manfaate.” (Belanda itu musuh kita, tetapi ia meninggalkan kebaikan, saat ini banyak mafaatnya).
Begitu komentar petani desa Banyurejo Tempel Sleman,Mardiyono soal saluran Van der Wijck.
Masyarakat sekitar selokan van der wijk menyebut saluran air itu Van der Wek. Selokan Van der Wijck masih terlihat kokoh hingga detik ini dan merupakan saluran irigasi utama wilayah Jogjakarta yang mengairi 20 000 ha sawah.
Ibarat darah yang mengaliri seluruh tubuh. Selokan Van der Wijck merupakan bagian dari bangunan bersejarah nongedung yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Nama Van der wijk menduga merupakan pemimpin pembangunan selokan yang dibangun tahun 1909.
Awalnya, pembangunan selokan Van der Wijck guna mengairi lahan tebu untuk industri gula.Dalam perkembangannya bermanfaat juga bagi pengairan lahan pertanian. Saluran irigasi itu tidak menggunakan mesin dan digerakkan oleh gaya gravitasi bumi. Sebuah model bangunan irigasi yang layak ditiru untuk jaman kini.
Bagian yang menarik dari selokan Van der Wijck ini adalah Buk Renteng dan talang air yang terbuat dari tembaga. Lokasinya di desa Tirtosari Mulyo Agung, Minggir, Sleman. Buk Renteng merupakan saluran air yang dibagun lebih tinggi dibandingkan jalan raya. Ia merupakan jembatan untuk air. Bagian bawah saluran itu dapat dilewati kendaraan.
Bagunan bagian bawahnya seperti pilar-pilar yang melengkung bersambung-sambungan. Sedangkan talang tembaga merupakan sambungan dari dari buk renteng. Talang ini menghubungkan antara Buk renteng dengan saluran berikutnya saat melewati sungai. Sayangnya di dinding bangunan ini dicorat-coret oleh tangan-tangan jahil. Tampaknya kesadaran untuk menghargai peninggalan bersejarah masih belum tertanam pada beberapa generasi saat ini.
Dengan pengairan dari selokan Van der wijck, buruh tani, Mardiyono menjelaskan, dalam satu kali panen dapat memanen padi Ciherang sebanyak 7 ton dengan luas tanah 1 ¼ ha. Jika ditanami tembakau, maka bisa panen rata-rata 10 kali dengan hasil rata-rata 50 kg tembakau. Selain itu wilayah ini juga ditanami jagung, melon, kacang panjang dan berbagai jenis tanaman lainnya.
Lantas, selokan air seperti apa yang menghasilkan kemakmuran? Konotasi kita terhadap selokan adalah saluran yang kumuh dan penuh lumpur serta kotoran yang bau. Selokan Van der Wijck tidak seperti itu. Airnya mengalir jernih dan sedikit keruh saat musim hujan.
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Suradi ST MT, saluran Van der wijck merupakan bagian dari saluran induk Mataram. Sumber airnya berasal dari sungai Progo Pada saluran induk mataram terdapat bagunan pembagi aliran air selokan yaitu saluran van der wijk dan saluran mataram. Kedua saluran ini dibangun bersamaan. Panjang saluran Mataram ke kali Opak sepanjang 37 km, sedangkan van der wijk mencapai hilirnya di daerah Bantul sepanjang 35 km. Saluran air ini kondisinya rusak berat 10%, rusak ringan 40% dan baik 50%.
“Ada kepercayaan yang sangat kuat bahwa bersatunya sungai Opak dan Progo akan menumbuhkan kesejahteraan rakyat, sehingga ada dukungan dari rakyat. “ tandas Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung Haji Jatiningrat, SH atau yang biasa disapa Romo Tirun Marwito.
Itulah sebabnya tidak ada perlawanan dari rakyat saat diperintahkan untuk meneruskan pembangunan selokan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Walaupun Belanda melakukan penekanan pada rakyat, akan tetapi Belanda tetap berlaku adil. Sebab, raja merupakan jembatan berkomunikasi dengan rakyat. Tujuannya untuk memudahkan program yang dijalankan Belanda.
Artinya ini ada nilai yang saling merekonstruksi antara yang menjajah dan terjajah. Maka ketika selokan Van der Wijck memberikan kemakmuran, selayaknya dijaga dan dilestarikan. Itulah cara memberi arti kemerdekaan.RNW/Asti Musman Radio Swara Jogja
Masyarakat sekitar selokan van der wijk menyebut saluran air itu Van der Wek. Selokan Van der Wijck masih terlihat kokoh hingga detik ini dan merupakan saluran irigasi utama wilayah Jogjakarta yang mengairi 20 000 ha sawah.
Ibarat darah yang mengaliri seluruh tubuh. Selokan Van der Wijck merupakan bagian dari bangunan bersejarah nongedung yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Nama Van der wijk menduga merupakan pemimpin pembangunan selokan yang dibangun tahun 1909.
Awalnya, pembangunan selokan Van der Wijck guna mengairi lahan tebu untuk industri gula.Dalam perkembangannya bermanfaat juga bagi pengairan lahan pertanian. Saluran irigasi itu tidak menggunakan mesin dan digerakkan oleh gaya gravitasi bumi. Sebuah model bangunan irigasi yang layak ditiru untuk jaman kini.
Bagian yang menarik dari selokan Van der Wijck ini adalah Buk Renteng dan talang air yang terbuat dari tembaga. Lokasinya di desa Tirtosari Mulyo Agung, Minggir, Sleman. Buk Renteng merupakan saluran air yang dibagun lebih tinggi dibandingkan jalan raya. Ia merupakan jembatan untuk air. Bagian bawah saluran itu dapat dilewati kendaraan.
Bagunan bagian bawahnya seperti pilar-pilar yang melengkung bersambung-sambungan. Sedangkan talang tembaga merupakan sambungan dari dari buk renteng. Talang ini menghubungkan antara Buk renteng dengan saluran berikutnya saat melewati sungai. Sayangnya di dinding bangunan ini dicorat-coret oleh tangan-tangan jahil. Tampaknya kesadaran untuk menghargai peninggalan bersejarah masih belum tertanam pada beberapa generasi saat ini.
Dengan pengairan dari selokan Van der wijck, buruh tani, Mardiyono menjelaskan, dalam satu kali panen dapat memanen padi Ciherang sebanyak 7 ton dengan luas tanah 1 ¼ ha. Jika ditanami tembakau, maka bisa panen rata-rata 10 kali dengan hasil rata-rata 50 kg tembakau. Selain itu wilayah ini juga ditanami jagung, melon, kacang panjang dan berbagai jenis tanaman lainnya.
Lantas, selokan air seperti apa yang menghasilkan kemakmuran? Konotasi kita terhadap selokan adalah saluran yang kumuh dan penuh lumpur serta kotoran yang bau. Selokan Van der Wijck tidak seperti itu. Airnya mengalir jernih dan sedikit keruh saat musim hujan.
Menurut Pejabat Pembuat Komitmen Irigasi II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Suradi ST MT, saluran Van der wijck merupakan bagian dari saluran induk Mataram. Sumber airnya berasal dari sungai Progo Pada saluran induk mataram terdapat bagunan pembagi aliran air selokan yaitu saluran van der wijk dan saluran mataram. Kedua saluran ini dibangun bersamaan. Panjang saluran Mataram ke kali Opak sepanjang 37 km, sedangkan van der wijk mencapai hilirnya di daerah Bantul sepanjang 35 km. Saluran air ini kondisinya rusak berat 10%, rusak ringan 40% dan baik 50%.
“Ada kepercayaan yang sangat kuat bahwa bersatunya sungai Opak dan Progo akan menumbuhkan kesejahteraan rakyat, sehingga ada dukungan dari rakyat. “ tandas Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung Haji Jatiningrat, SH atau yang biasa disapa Romo Tirun Marwito.
Itulah sebabnya tidak ada perlawanan dari rakyat saat diperintahkan untuk meneruskan pembangunan selokan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Walaupun Belanda melakukan penekanan pada rakyat, akan tetapi Belanda tetap berlaku adil. Sebab, raja merupakan jembatan berkomunikasi dengan rakyat. Tujuannya untuk memudahkan program yang dijalankan Belanda.
Artinya ini ada nilai yang saling merekonstruksi antara yang menjajah dan terjajah. Maka ketika selokan Van der Wijck memberikan kemakmuran, selayaknya dijaga dan dilestarikan. Itulah cara memberi arti kemerdekaan.RNW/Asti Musman Radio Swara Jogja KOMENTAR