UGM Kembangkan Plat Penyambung Tulang Patah

Jogjakarta- Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan plat penyambung tulang patah dengan ukuran tulang orang Indonesia, sehingga kualitas hasil rekonstruksi dan penyembuhannya bisa maksimal. "Selama ini plat penyambung tulang yang digunakan berasal dari luar negeri yang ukurannya mengacu pada dimensi anatomis tulang orang di kawasan tersebut," kata peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Suyitno di Yogyakarta, Jumat. Menurut dia, plat penyambung tulang yang tidak sesuai dengan dimensi anatomis tulang orang Indonesia akan menyebabkan kualitas hasil rekonstruksi dan penyembuhan tidak maksimal. "Berawal dari kenyataan tersebut, kami melakukan riset untuk mengembangkan plat penyambung tulang patah dengan ukuran tulang orang Indonesia. Plat penyambung tulang merupakan salah satu peralatan medis yang telah lama digunakan untuk membantu fiksasi bagian tulang yang retak atau patah," katanya. Ia mengatakan, selama ini plat penyambung tulang yang dijual di Indonesia belum mempunyai dimensi yang sesuai ukuran orang Indonesia. Plat produksi lokal dibuat dengan meniru produk luar negeri di pasaran dan tanpa melalui riset. "Plat produksi lokal tersebut belum mendapatkan sertifikasi dari lembaga yang berwenang, sehingga dokter bedah tulang enggan menggunakannya," kata dosen Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM. Selain itu, standar proses manufaktur plat lokal juga belum dibakukan, karena dibuat oleh industri kecil dengan jumlah produk dan peralatan yang terbatas. Plat produksi lokal yang memenuhi standar teknis dan mutu serta dalam jumlah yang cukup belum ada. Ia mengatakan, riset untuk pengembangan produk itu melibatkan berbagai peneliti dari Laboratorium Bahan Teknik Jurusan Teknik Mesin dan Industri Fakultas Teknik UGM serta dokter bedah tulang di Bagian Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran UGM bekerja sama dengan peneliti di Departement of Biomedical Engineering, University Medical Center Groningen, Belanda. Penelitian melibatkan responden yang mewakili seluruh pulau besar di Indonesia kecuali Papua dan Maluku untuk pengukuran tulang dengan rontgen. Rata-rata ukuran tulang itu digunakan untuk validasi gambar tiga dimensi tulang. Perancangan plat penyambung tulang menggunakan gambar tulang yang sudah divalidasi. Rancangan plat dipabrikasi dengan peralatan manufaktur yang sesuai. Pengujian laboratorium dan klinis dilakukan untuk memastikan bahwa plat itu aman untuk dipakai. "Uji klinis dengan memasang pada pasien sedang berlangsung, hasilnya akan diperoleh akhir tahun ini. Pada awal 2011, produk itu diharapkan siap di pasarkan," katanya. Dengan dikembangkannya produk itu, selain bisa membantu memperbaiki proses penyembuhan dan rekonstruksi tulang fraktur dengan maksimal juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor pada produk serupa. "Namun, yang utama adalah bisa menekan harga plat penyambung tulang tanpa mengurangi kualitas produk sehingga biaya pengobatan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat," katanya.ant
Penulis: Satwika Rumeksa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved