Praktik Aborsi ala Ponari Laris
Tayang:
Tiga Wanita Hamil Diamankan
Berbahaya dan Rentan Infeksi
Tuban - SURYA- Pengobatan dengan cara meminum air putih yang dicelupi batu keramat ternyata tidak hanya dilakukan oleh dukun cilik Ponari, di Jombang. Mbah Sawi, 55, dukun pijat di Tuban juga melakukan cara sama. Sayangnya, minuman yang diberikan Mbah Sawi bukan untuk pengobatan, tapi untuk menggugurkan kandungan.
Praktik ilegal Mbah Sawi, warga Desa Tengger, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, itu cukup laris diminati para wanita yang tidak menginginkan kelahiran bayinya. Polisi menyebut setidaknya sudah 10 wanita menjadi pasien Mbah Sawi dalam dua tahun terakhir ini saja.
Praktik aborsi Mbah Sawi terungkap setelah polisi menggerebek rumah Mbah Sawi menyusul laporan bahwa rumah tersebut kerap digunakan sebagai praktik aborsi.
“Ternyata benar, dalam penggerebekan, kita berhasil mengamankan tiga orang wanita hamil yang sedang menjalani proses pengguguran kandungan dengan bantuan dukun Sawi,” tegas Kasubag Humas Polres Tuban AKP Noersento, Selasa (27/7).
Tiga wanita muda tersebut adalah Hid, 20, warga Desa/Kecamatan Parengan yang sedang hamil 6 bulan; Us, 22, warga Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, dalam kondisi hamil 5 bulan; dan Kus, 21, warga Desa Sukosari, Kecamatan Soko, Tuban yang dalam keadaan hamil empat bulan.
“Semuanya telah diamankan di Mapolres dan masih menjalani pemeriksaan penyidik, termasuk dukun Sawi dan tiga wanita hamil tersebut,” ujar mantan kapolsek Palang ini.
Dalam pemeriksaan, Sawi maupun tiga wanita hamil itu telah mengakui semua perbuatannya. Namun, Sawi masih merasa tidak bersalah lantaran ia melakukan semua itu justru ingin menolong. “Tiga wanita ini datang ke tempat saya minta tolong untuk digugurkan kandungannya. Dan saya hanya berusaha untuk memberikan pertolongan semampu saya,” jawab Sawi.
Dia menjelaskan, dalam proses pengguguran dirinya menggunakan sebuah batu yang dianggap keramat. Batu berbentuk bulat dengan diameter sekitar 5 cm itu, menurutnya pemberian mbah buyut penjaga daerah Tengger. “Caranya, saya memasukkan batu jimat ini ke dalam gelas berisi air, kemudian saya minumkan kepada mereka,” ungkap Sawi sambil menunjukkan batu keramat berbungkus kain hitam yang telah disita polisi sebagai barang bukti.
Praktik Mbah Sawi itu mengingatkan pada Ponari, bocah usia sekolah dasar asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang pada 2009 silam. Kala itu ribuan orang berbondong-bondong mendatangi dukun cilik tersebut, yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Keberadaan Ponari sebagai dukun sakti mulai terdengar setelah ia menemukan batu sekepalan tangan saat disambar geledek sewaktu bermain di bawah hujan lebat.
Batu ajaib itu kemudian dipakai untuk mengobati. Caranya, batu dimasukkan ke dalam segelas air putih, kemudian airnya diminumkan kepada orang yang sakit. Karena kesaktian batu milik Ponari itulah, banyak orang datang berobat.
Meski tidak seheboh Ponari, Mbah Sawi juga menggunakan metode sama untuk menggugurkan kandungan pasiennya. Selain menggunakan batu keramat, Mbah Sawi juga memberikan terapi kepada pasien dengan cara pemijatan hingga janin yang ada di dalam kandungan berhasil dikeluarkan. Tapi, tiga wanita pasiennya tersebut hingga digerebek polisi masih belum keguguran lantaran baru dalam proses tahap awal. Hanya saja, dugaan kuat bahwa praktik aborsi yang dilakukan Sawi sudah berlangsung sejak lama dan telah banyak wanita yang berhasil digugurkan kandungannya. Kebanyakan, adalah mereka yang hamil di luar nikah.
“Memang, Mbah Sawi sudah berprofesi sebagai dukun pijat di Desa Tengger sejak puluhan tahun. Dan beberapa bulan terakhir, warga juga banyak yang mendapat kabar bahwa Sawi biasa menggugurkan kandungan. Tapi, persisnya seperti apa cara penggugurannya, kami tidak jelas,” kata salah seorang warga Tengger. “Dan memang, warga sering melihat wanita hamil datang ke rumah Mbah Sawi. Kebanyakan, adalah para wanita dari luar Kecamatan Kerek,” sambung lelaki paruh baya tersebut.
Akibat perbuatannya, Sawi dijerat dengan Pasal 99 KUHP tentang pengobatan yang bisa menggugurkan kandungan dan UU Kedokteran. “Kita masih terus mengembangkan penyidikan. Sementara ini, tersangka terancam hukuman lebih dari 10 tahun penjara,” tegas Kasat Reskrim Polres Tuban Iptu Budi Santoso.
Sementara itu, tiga wanita hamil yang juga ikut menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Tuban terus menunduk diam sambil menutupi wajahnya. Beberapa kali ditanya, tiga wanita yang diduga hamil di luar nikah tersebut sama sekali tidak menjawab.
Ramuan Khusus
Ahli kandungan Universitas Airlangga, dr Budi Santoso SpOG, meyakini bahwa sangat mustahil dengan air yang dicelupi batu keramat atau dibacakan mantra akan mampu menggugurkan kandungan. "Imposible, air biasa mampu menggugurkan kandungan. Pasti ada ramuan khusus yang sudah disiapkan," tegas Budi. Kemungkinan besar, dukun aborsi Mbah Sawi sudah lama membuka praktiknya. Biasanya, air yang sudah disiapkan telah dicampur dengan ramuan khusus tanpa sepengetahuan pelanggan atau pasien.
Zat yang digunakan untuk campuran adalah yang mampu menimbulkan efek kontraksi rahim. Menurut Budi, zat-zat yang biasa menimbulkan efek kontraksi, sehingga berpeluang menggugurkan kandungan adalah jenis rumput fatima. Jenis tanaman ini sangat dikenal di masyarakat. Selain itu banyak juga obat dengan golongan misoprostol yang kerap dimanfaatkan untuk tujuan pengguguran. Misoprostol sebenarnya adalah obat mag. Namun, belakangan obat ini malah dijadikan sebagai obat utama untuk menggugurkan kandungan. Saat ini, untuk memperoleh obat ini sangat mudah. Apalagi melalui internet, obat ini semakin mendapat kemudahan akses sekaligus pengiriman. Harganya pun relatif sangat terjangkau. Dulu saat masih belum marak HP atau pergaulan bebas, harga obat golongan misoprostol hanya Rp 5.000. Kemudian belakangan harga melonjak hingga Rp 35.000 per tablet. Biasanya di internet juga menyediakan pelayanan aborsi. Jasa aborsi ini sudah marak di internet dengan cukup membayar Rp 2 juta – Rp 3 juta. Hal ini kemudian disalahgunakan oleh beberapa kalangan untuk aborsi. "Dengan alasan apa pun, aborsi tidak bisa dibenarkan karena menyangkut nyawa. Karena tidak didukung dengan profesionalitas sesuai standar kesehatan, aborsi dengan ramuan ini sangat berbahaya," tegas Budi.
Aborsi yang biasa dilakukan para dukun aborsi akan sangat rentan timbul infeksi. Ini terjadi karena saat digugurkan dengan ramuan, tidak semua kotoran yang ada di rahim bisa dikeluarkan dengan tuntas dan bersih. Proses kiret ini harus memerhatikan anjuran medis. "Tidak ada jaminan bahwa aborsi yang dilakukan sang dukun aman. Justru sebaliknya bisa infeksi. Apalagi jika terjadi pendarahan terus menerus, jika tidak segera ditangani akan sangat berbahaya. Akan terjadi degenetalis dan merusak saluran sel telur. Akibatnya, bisa terjadi gangguan kesuburan,” urai Budi.
Sementara itu, penangkapan Mbah Sawi menambah panjang daftar praktik aborsi yang berhasil dibongkar di Jatim. Pada 10 April 2010, Mbah Sukirah, 50, dukun pijat warga Dusun Kalipang, Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Bojonegoro juga ditangkap polisi karena diketahui menggugurkan janin. Polisi menemukan sedikitnya lima janin usia 1,5 - 5 bulan dikubur di belakang rumahnya.
Sebelumnya, pada 28 Maret 2007, Polda Jatim mengungkap praktik aborsi dr Edward Armando di Jl Dukuh Kupang Timur, Surabaya. Tiap hari dia melayani 4-5 pasien dengan tarif Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Lalu pada 18 Juni 2007, Polresta Surabaya Selatan menggerebek praktik aborsi dr Halim Suliantoro di Jl Kutisari. Ia sudah beroperasi enam tahun dan mengaborsi 282 janin. Satu pasien dikenai biaya Rp 2 juta.
Frekuensi terjadinya aborsi sangat sulit dihitung secara akurat, karena aborsi ilegal sangat sering terjadi tanpa dilaporkan – kecuali jika terjadi komplikasi, sehingga perlu perawatan di rumah sakit.
Akan tetapi, berdasarkan perkiraan dari BKKBN, ada sekitar 2 juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2 juta nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak yang tahu. Sebanyak 50 persen kasus aborsi dilakukan oleh remaja. Jumlah kematian karena aborsi diyakini melebihi kematian perang manapun. Sebagai gambaran korban tewas selama Perang Dunia II hanya 407.316 jiwa.nst31/fai
KOMENTAR
Berita Terkini
Berita Populer
Memuat video…