Mematikan dan Menghidupkan Listrik Pakai SMS
Temuan Mahasiswa Untag Surabaya
Surabaya - SURYA- Mematikan dan menghidupkan aliran listrik tak harus memakai sistem manual. Dapat juga melalui pesan singkat atau short message service (SMS). Ini terjadi berkat penemuan seorang mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Mahasiswa cerdas tersebut adalah Muhammad Farrizar Andrijasa, 25, yang duduk di semester delapan Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik. Dari hasil riset dan penelitiannya, mahasiswa yang akrab disapa Rizar ini menciptakan alat pengendali listrik secara otomatis.
"Dengan coverage area sebagaimana operator telepon seluler, alat ini bisa digunakan dengan jarak yang jauh. Dari luar kota pun alat listrik bisa dimatikan atau dinyalakan. Selama alat listrik itu tidak lebih dari tiga ampere atau 660 watt, cukup dengan SMS bisa dimatikan atau dinyalakan kembali," kata Rizar kepada Surya di Surabaya, Kamis (22/7).
Rizar menjelaskan, bentuk pengendalian yang dapat dilakukan peranti ini berupa pengaktifan dan penonaktifan perangkat-perangkat listrik dan elektronik seperti lampu, kipas angin, televisi, dan AC.
Dengan menggunakan alat tersebut, seorang pemilik rumah dapat mematikan, menghidupkan, atau melihat status aktif maupun nonaktif dari perangkat-perangkat listrik dan elektronik yang ada di rumah hanya dengan mengirimkan SMS ke suatu nomor dengan format tertentu. Aplikasi ini, lanjut dia, dibangun dengan menggunakan bahasa pemograman "Microsoft Visual Basic 6.0".
"Sedangkan untuk melakukan kendali terhadap perangkat listrik atau elektronik dilakukan dengan bantuan Mikrokontroler AVR ATMEGA 16'," tuturnya, seperti dikutip Antara.
Rizar memilih penggunaan layanan SMS karena merupakan salah satu layanan yang digemari semua lapisan masyarakat di Indonesia. "Biayanya juga murah, penggunaannya mudah, dan hampir semua masyarakat memiliki handphone. Maka sangat wajar kalau memakai layanan melalui SMS," ucap anak pasangan M Djafar Hamma dan Hafsawaty Barelly tersebut.
Rizar menerangkan, mikrokontroler ATMEGA 16 yang digunakan merupakan mikrokontroler produksi Atmel yang kompatibel dengan mikrokontroler Intel 8051. "Mikrokontroler tersebut murah harganya, dan mudah didapat di pasaran. Jadi, tidak sulit mendapatkan," paparnya.
Selain itu, mikrokontroler jenis ini cukup pas digunakan untuk percobaan meski harus ditambah komponen-komponen lain seperti kristal 12 Mhz, konektro db-25, pcb matrix, resistor, dan kapasitor. "Saya hanya menghabiskan dana sekitar Rp 50.000 sampai Rp 75.000," tambahnya.
Sistem temuan Rizar bekerja menyalakan dan mematikan lampu sesuai perintah SMS yang dikirim melalui handphone ke sebuah mikrokontroler dengan menggunakan kabel UART. Kemudian, oleh mikrokontroler, perintah tersebut dibaca dengan bantuan driver relay.
"Setelah itu dibaca oleh mikrokontroler dengan bantuan sensor, kemudian mikrokontroler akan menyalakan atau mematikan lampu sesuai perintah SMS yang dikirim," terang putra bungsu dari empat bersaudara tersebut.
***
SELAMA proses pembuatan alat temuannya, Rizar membutuhkan waktu tidak lebih dari empat bulan. Ia mengerjakannya seorang diri, dengan bantuan dosen pembimbing.
Selama proses pengerjaan, pemuda kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut tidak menemukan kendala berarti. "Hanya masalah pembagian waktu saja. Kalau dari segi teknis tidak begitu besar kendalanya," ucapnya.
Adapun beberapa permasalahan yang muncul, di antaranya, bila ada penundaan pengiriman pesan oleh provider penyedia layanan seluler maka sistem tidak akan merespons sampai pesan tersampaikan. Di samping itu, bila sambungan listrik terputus membuat PC server mati maka sistem akan mempertahankan kondisi lampu terakhir sebelum PC server mati.
"Sedangkan untuk ponsel yang mendukung dijadikan server hampir semua merek bisa. Rinciannya, antara lain, memiliki konektivitas kabel data, mampu membuat koneksi permanen dengan PC server dan mendukung 'AT Command dan mode teks'," papar lulusan SMA Negeri 5 Samarinda itu.
Adapun untuk pemilihan provider bisa menggunakan semua jenis provider yang mengeluarkan kartu GSM. "Berdasar beberapa pengujian, tingkat keberhasilan sistem ini mencapai 95 persen," imbuhnya.
Rizar berharap temuannya bermanfaat bagi banyak orang. "Kalau ada modal cukup, akan saya kembangkan lebih besar dan lebih praktis. Semua masih akan terus saya kembangkan, terutama kepraktisan dan jarak kendali," pungkasnya. faiq nuraini
Berita Terkait