Minggu, 31 Mei 2026

Sinopsis Sarip Tambak Oso

Tayang:
Kasih Emak Sepanjang Jiwa Wajar apabila seorang anak ingin mengetahui cikal bakal ayah yang tak begitu jelas asal usulnya. Wajar pula bila seorang anak berkorban habis-habisan untuk ibu yang sangat dicintainya. Dari situlah kisah Sarip Tambak Oso bermula. Ia terpaksa meninggalkan desa Tambak Oso, di pojok timur Gedangan, Sidoarjo, selama setahun untuk mencari jati diri ayahnya. Konon, ayah Sarip adalah keturunan dari salah seorang pejuang dalam kancah perang Diponegoro. Setahun pergi merantau, diserahkannya tambak warisan ayahnya kepada Riduwan –pamannya-- untuk dikelola, dengan perjanjian pamannya yang membayar pajak dan ibunya Sarip mendapat bagian sekadarnya dari hasil tambak. Namun Riduwan tak menepati janji, tak mau membayar pajak dan tak sudi memberi bagian hasil tambak kepada ibunya Sarip. Masalah timbul ketika Sarip pulang dan menagih janji pamannya. Sang paman minta dukungan kumpeni Belanda yang berkuasa di Tambak Oso dan sekitarnya. Persoalan menjadi semakin ruwet manakala Paidi --kusir merangkap pengawal pribadi Riduwan-- dilibatkan dalam persoalan keluarga tersebut. Sebab, Paidi yang jago silat memang tidak suka kepada Sarip yang dianggapnya bakal menjadi penghalang bagi cintanya kepada Saropah, anak gadis Riduwan yang dekat sekali dengan Sarip. Dengan bantuan kumpeni akhirnya Sarip dijebak dengan cara menahan ibunya di rumah Riduwan. Keterlibatan kumpeni itulah yang kemudian membuat Sarip mengobarkan semangat arek-arek Tambak Oso melawan kekuasaan sewenang-wenang kumpeni Belanda. Namun, kasih emak sepanjang jiwa. Entah lantaran tanah merah yang dibawa ayahnya ataukah sebab cinta kasih ibunya yang sangat besar, Sarip selalu bisa hidup kembali setelah terbunuh dalam pertarungan. Sarip tidak akan mati bila ibunya tidak mati. Kisah ini membawa pesan sakral bagi seluruh rakyat, bahwa anak bangsa tidak akan bisa mati selama Ibu Pertiwi masih hidup. Anak bangsa akan terus melakukan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan dan kemunafikan dengan dilandasi cinta kasih Ibu Pertiwi yang tak akan pernah padam. Nah, bagaimana kisah lengkap legenda ini, Anda bisa ikuti dalam cerita bersambung (cerber) Sarip Tambak Oso; Kasih Emak Sepanjang Jiwa di harian Surya mulai edisi Selasa 20 Juli 2010 nanti. Kisah dengan isi yang mengalami improvisasi ini, ditulis oleh Sentot Js --pengarang cerita dan komikus kondang era 1970-an seangkatan Ganesh, Teguh Santoso dan Jan Mintaraga. Penulis sepuh yang kini tinggal di Gedangan, Sidoarjo, itu suka menggunakan nama pena untuk beberapa buah karyanya. Sejalan dengan konflik, romantika dan misteri yang ia bangun dalam cerita Sarip Tambak Oso, di cerber Surya ini Sentot memakai nama pena Nikusinten. Sentot pernah menelurkan cerita serial yang sempat meledak, antara lain Untung Suropati, juga Pemberontakan Blaster, Tengkorak Darah serta Jazuli. Namun, ia sekarang hanya bisa produktif menulis, tidak lagi membuat gambar atau komik seperti di masa lalu.n*/sko
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved