Tiap Hari Keliling Desa Kumpulkan 125 Kg Paku
Rosidah, Wanita yang Bergumul dengan Sampah Pembakaran Kapur
Bangkalan - SURYA- Banyak jalan menuju Roma. Pepatah ini cukup menggambarkan bagaimana jerih payah Rosidah, 45. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, warga Dusun Jakan, Desa Parseh, Kecamatan Socah, Bangkalan ini terus mengais paku bekas dari tumpukan abu arang bekas pembakaran kapur di sekitar desanya.
Hamparan abu arang kayu bekas proyek memenuhi halaman rumah Rosidah. Jemari tangannya tak pernah berhenti mengacak-ngacak abu dengan harapan menemukan paku yang bisa dijualnya.
“Tiap hari saya mengumpulkan paku-paku bekas untuk dijual ke pasar loak di Surabaya. Selanjutnya disetor ke pabrik paku di Sidoarjo,” kata ibu dengan lima anak ini, Minggu (16/5).
Sudah tak terhitung lagi berapa lama ia menggeluti pekerjaannya itu. Baginya, kebutuhan hidup kelima anaknya selalu menjadi pemicu semangat, meski setiap hari harus memunguti paku-paku bekas.
Paku yang bentuknya sudah tidak lurus lagi itu ia kumpulkan. Setiap kilonya, ia menjualnya dengan harga Rp 1.500. “Tapi harganya kadang naik kadang juga turun. Tergantung kurs dolar katanya,” ujar Rosidah seraya menyeka keringat di wajahnya.
Baginya, yang setiap hari menjadi beban adalah sulitnya mendapatkan abu arang kayu dari bekas proyek. “Jika yang membakar kapur menggunakan kayu bekas proyek, maka pakunya akan banyak saya temukan,” tuturnya. Selain itu, musim penghujan juga menjadi faktor penghambat pekerjaannya.
Untuk memastikan apakah para pembakar kapur menggunakan kayu bekas proyek, Rosidah harus berkeliling ke desa-desa yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya dari pembakaran kapur, untuk memastikan apakah pembakarannya menggunakan kayu-kayu bekas proyek.
Dari setiap kali pembakaran kapur yang menggunakan kayu bekas proyek, Rosidah mampu menghasilkan 100 hingga 125 kilogram paku dari setiap tungku pembakaran kapur. Untuk mengeluarkan abu dari dalam tungku, istri H Basir ini harus menunggu dua hari agar abunya menjadi dingin.
Jika berhasil mengumpulkan 100 kilogram paku bekas, dengan harga Rp 1.500 per kilogram, maka setidaknya Rosidah bisa mengantongi uang Rp 150.000 dari pengepul.
Dalam mencari paku-paku bekas itu, Rosidah menggunakan bantuan magnet yang sudah dipadukan dengan gagang kayu menyerupai godam. Hal ini memudahkan dirinya menemukan paku. “Dengan ini (godam magnet, -Red), pekerjaan saya menjadi lebih mudah,” ujarnya sambil mengangkat godam magnetnya.
Setelah mendapatkan paku lebih dari 100 kilogram, suaminya, H Basir yang berangkat untuk menyetor ke salah satu pengepul paku bekas yang ada di pasar loak di Surabaya.
“Paku-pakunya tidak usah diluruskan. Ya disetor seperti apa adanya, bengkok-bengkok dan sudah karatan karena sudah terbakar api,” jelas H Basir kepada Surya.
Dari berbagai jenis paku yang didapatkan, kebanyakan paku bekas tersebut berukuran panjang. Tidak hanya paku, Rosidah juga mengumpulkan lempengan dan besi-besi berbagai bentuk. “Namun, tidak dijadikan satu dengan paku. Dipisah dan ditimbang sendiri-sendiri,” urai Rosidah.
Perempuan dengan kulit sawo matang ini mengungkapkan saat ini kegiatan pembakaran kapur sudah mulai bergeliat lagi. Sebelumnya, sejak Desember 2009 hingga Maret 2010, penjualan kapur sangat lambat sehingga Rosidah sering menganggur. “Mulai awal bulan ini sudah sedikit normal lagi,” pungkasnya. Ahmad Faisol
KOMENTAR