Rabu, 29 April 2026

Mengekspor Tokek ke Jepang, China, dan Taiwan

Tayang:
Penulis: Cak Sur |
[caption id="attachment_82345" align="alignleft" width="300" caption="USAHA EKSPOR - Warga Probolinggo mengeringkan tokek yang akan diekspor ke China, Thaiwan, dan Jepang.Foto: SURYA/Agus Purwoko, Atiqurrahbini "][/caption] Kabar tokek seberat 64 kilogram laku Rp 179 miliar, di perbatasan Kalimantan-Malaysia, mengingatkan orang bahwa bisnis tokek ternyata menguntungkan. Penangkar di Probolinggo, Didik Prabudi, pun telah menikmati hasilnya meski belum pernah menjual tokek besar dan superbesar. PROBOLINGGO | SURYA - Penghasilan yang telah diraih Didik mencapai ratusan juta rupiah, dengan omzet miliaran rupiah. Warga Banjar Sawah, Tegal Siwalan, Kabupaten Probolinggo, ini pun terus berusaha mengembangkan usahanya. Tempat usaha yang bersebelahan dengan kediaman Didik kini direnovasi dan diperluas. Di atas lahan seluas sekitar satu hektare —yang dulu tidak dimanfaatkan— itu sedang dibangun sebuah gudang. Terbuat dari kayu dan beratap genting, gudang tersebut nanti dimanfaatkan sebagai tempat bertelur dan penetasan telur tokek-tokek milik Didik. Jika dilihat sekilas dari depan, tidak tampak bahwa di samping Rumah Makan Andira milik orangtua Didik berdiri sebuah usaha penangkaran tokek yang diekspor ke China, Taiwan, dan Jepang. Namun begitu, masuk ke dalam, orang akan menjumpai puluhan pekerja mem-blejeti banyak tokek, menjemur, dan mengepaknya. Di belakang para pekerja itu terdapat sebuah gudang yang disekat dinding bata merah berukuran enam kali 4 meter. Di sanalah telur-telur tokek yang baru menetas hingga siap dibuat dendeng ditempatkan. “Ribuan jumlahnya. Kami mengekspor tokek dalam kondisi kering sebanyak 300.000 setiap tahun. Tahun 2009, kami dapat keuntungan Rp 300 juta,” ungkap Didik kepada Surya, Sabtu (8/5). Selain memiliki penangkaran sendiri, pria berusia 45 tahun yang juga mengekspor bunga kamboja kering ke beberapa negara Asia ini membina 10 kelompok penangkar tokek, tersebar di Kecamatan Tegal Siwalan dan Leces. Kerjasamanya dalam bentuk kemitraan, dan Didik membebaskan mereka mencari terobosan pemasaran sendiri. Bisnis yang berawal dari pertemanan Didik dengan warga Taiwan sejak tahun 1990-an ini, sekarang menghidupi kurang lebih 200 warga setempat. Didik berharap masih bisa memperluas usaha dengan menampung para pengangguran yang tinggal di sekitar rumahnya. Pria yang pernah menjadi bodyguard pengusaha asal Taiwan ini berencana membuka penangkaran ular dan belalang atau binatang lain yang prospeknya cukup bagus. Menurutnya, sebagian lahan untuk calon usaha baru tersebut telah tersedia. “Makanya saya beli mobil Pajero sport. Kalau dipakai ke gunung kan enak,” ujarnya sambil menunjuk Pajero warna merah tua yang berada di dalam garasi, bersebelahan dengan mobil Kijang Innova. *** Mengenai kabar tentang tokek-tokek dengan berat badan besar, yang berharga ratusan juta rupiah, bahkan miliaran rupiah, Didik mengaku tidak tahu. Demikian pula mengenai tokek seberat 64 kilogram yang laku Rp 179 miliar di Kalakbaban, perbatasan Nunukan (Kalimantan)-Malaysia. (Surya, 08/5). Menurutnya, selama merintis usaha sejak tahun 1997, dirinya belum pernah menjumpai tokek seperti itu. “Mungkin saja kalau memeliharanya sampai tahunan. Yang pasti tokek yang saya ekspor atau jual, beratnya hanya dua sampai 2,5 ons, usianya sekitar empat hingga enam bulan,” jelasnya. Didik mengaku selama ini tokek hasil tangkarannya tidak pernah laku mahal, dan beratnya tidak pernah melebihi tiga ons. “Masak ada tokek beratnya sampai 64 kg? Ah, yang benar saja! Kalau tokek saya paling besar tidak lebih dari 2,5 ons. Untuk ekspor yang laku keras justru tokek yang kurus,” ucap bapak empat anak ini. Namun, Didik juga mengakui bahwa merebaknya kabar tentang harga tokek mahal menjadi berkah tersendiri baginya. Tempat usahanya, yang berada di pinggir Jalan Raya Leces, sering didatangi pedagang dan penangkar dadakan. Dengan begitu, tokeknya —yang biasanya dijual Rp 4.000-Rp 6.000— pun menjadi laku hingga Rp 50.000. Harga itu untuk tokek yang masih hidup, yang dibeli orang untuk dipelihara lagi. Mengenai anggapan bahwa tokek mujarab untuk menyembuhkan segala jenis penyakit, Didik membenarkan. Menurut pria yang pernah berbisnis suvenir terbuat dari kulit ini, kediamannya sering didatangi orang yang membeli dendeng tokek dan tepung tokek untuk dipakai sebagai obat penyakit menahun berbagai jenis. Didik menambahkan, hampir 90 persen dari mereka mengaku sembuh dari penyakit menahunnya. Didik mencontohkan warga Sukapura, yang mengidap penyakit gatal (eksim) selama delapan tahun, akhirnya sembuh total setelah sering makan tepung tokek. [Tab] n
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved