Petani Beralih ke Lidah Buaya

BATU - Surya- Naik turunnya harga sayuran membuat para petani harus banyak merugi. Hal itu juga yang membuat beberapa petani di Tlekung, Kota Batu, memilih banting stir, dengan beralih membudidayakan lidah buaya yang tak menggunakan pupuk kimia serta bisa dipanen sepanjang tahun. “Boleh dikatakan saya memang sudah frustrasi kalau menanam sayuran. Saat menanam harganya stabil, tapi saat panen anjlok bahkan ada yang tak mau membeli. Tak jarang saya merugi hingga belasan juta rupiah,” beber Suwandi, petani yang beralih menanam lidah buaya, Selasa (4/5). Sejak membudidayakan lidah buaya pada tahun 2007 lalu, hingga kini keuntungan yang didapatkan Suwandi, Ketua Kelompok Tani Desa Tlekung itu cukup stabil. Apalagi dirinya tak perlu berulangkali melakukan penanaman seperti tanaman sayur lainnya. “Cukup satu kali tanam lidah buaya itu sudah bisa dipanen sejak umur 6-7 bulan dan seterusnya tinggal panen setiap bulannya, tanpa harus melakukan pembibitan lagi di lahan yang sama,” jelasnya. Selain penanaman yang menguntungkan petani, harga lidah buaya yang relatif stabil menjadi daya tarik petani di Tlekung. Untuk lidah buaya segar dihargai Rp 1.500/kg dan jika petani bisa mengolah menjadi bubuk ekstrak lidah buaya harganya naik Rp 40.000 per kilogramnya. Meski prospek pertanian lidah buaya menguntungkan, belum banyak petani yang berani mencobanya. Masih banyak petani yang takut berbudidaya lidah buaya karena mereka belum memiliki cukup skill dan pengalaman. n rea
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved