100 Situs Porno Per Hari di Surabaya
Tayang:
Belasan Warnet DiraziaPembuat Situs Lebih Kreatif
SURABAYA - SURYA- Asosiasi warung internet Indonesia (Awari) menengarai masih ada sekitar 100 alamat atau situs baru porno yang setiap harinya diakses melalui warung internet (warnet), khususnya di Surabaya.
Temuan adanya ratusan situs baru porno disampaikan Koordinator Awari Wilayah Karesidenan Surabaya Sahrul Halim, menyusul razia yang digelar Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Surabaya terhadap belasan warnet di Surabaya.
"Kami sudah memiliki nawala (filter untuk memblokir situs porno, red) untuk para anggota Awari. Tapi, masih ada sekitar 100 situs baru porno yang lolos," kata Sahrul Halim, Senin (29/3).
Menurut dia, dengan memanfaatkan nawala ini, penyedia layanan internet seperti ISP, warnet maupun pengguna internet langsung bisa mengetahui keuntungannya yakni bisa memblokir situs-situs porno maupun adanya virus yang masuk melalui jaringan maya.
Untuk itu, kata dia, pihaknya menyarankan supaya para anggota Awari memperbarui nawala setiap harinya. Pasalnya, jika tidak diperbarui maka dipastikan terjadi kebobolan dengan teraksesnya situs baru porno.
Kepala Bidang Pos dan Telekomunikasi Diskominfo Surabaya Adang Kurniawan menjelaskan, dalam razia yang dimulai pukul 10.00 WIB, Senin (29/3), menunjukkan banyak warnet belum memiliki izin usaha. “Untuk razia di 12 warnet itu, kami memang menemukan sekitar 8 warnet belum ada izinnya, di antaranya ada beberapa di Jl Arief Rahman Hakim,” tuturnya kepada Surya.
Pihaknya juga melihat ada pengunjung di sebuah warnet yang mengakses situs porno.
Ia menyebut, meski warnet itu menggunakan software sistem blokir atau DNS (paket kerja sama dengan Microsoft), namun situs porno tersebut tetap bisa diakses karena menggunakan alamat baru. “Saya memang mencoba mengakses dan memang benar pakai alamat baru. Meski DNS mampu memblokir ribuan alamat situs porno, namun mungkin situs porno yang barusan itu belum dimasukkan di dalamnya,” katanya.
Adang menegaskan, Diskominfo akan berkoordinasi dengan Awari untuk memastikan warnet bebas dari situs porno. Diskominfo pernah memanggil 310 pemilik warnet di Surabaya dan meminta setiap warnet bersih dari situs porno. Namun, ia belum bisa menjatuhkan sanksi bagi pelanggarnya karena payung hukum melakukan penindakan belum ada. “Kalau sudah ada perda, pasti kami akan berikan sanksi,” katanya.
Ada 12 warnet yang diperiksa tim penertiban yang terdiri dari Diskominfo, Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbang Linmas), serta Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH). Yakni Athena Net di Jalan Nginden Semolowaru, lalu Net Net Net dan Puskrip Net di Jalan Semolowaru, Gen Net, Wow Net, Matrix Net, dan COM Zahra Net di Jalan Arief Rahman Hakim, Koi Net, Xlussif Net, Bajang Net, Papa, dan Mama Net di Jalan Keputih Utara, serta Nita Net di Jalan Menur.
Manajer Athena Net Taufik Indra mengakui, meskipun sudah ada DNS dari Telkom Speedy, masih ada situs porno yang tidak terblokir. Karena itu, pihaknya akan seteliti mungkin mendaftar alamat situs porno agar tak bisa diakses. “Kami masih melisting situs-situs porno itu untuk dilaporkan ke Awari,” kata Taufik yang mengaku sudah menjadi anggota Awari.
Sulit dibendung
Pengamat IT sekaligus Dekan Fakultas Teknologi Informasi ITS, Prof Riyanarto mengungkapkan, memang tak mudah membendung penyebaran situs porno, termasuk di Surabaya. Seperti juga penjahat, para pembuat situs porno itu pasti lebih kreatif agar alamat yang dibuatnya tak mudah dibendung software apa pun. “Memang, selama ini banyak software yang mampu memblokir situs-situs porno, karena sistemnya melacak alamat dengan kata-kata yang berbau porno, mulai dari sex hingga bugil,” tuturnya kepada Surya.
Namun, para pembuat situs porno bermain lebih cantik, di mana saat mendaftar alamat situs, tak ada satu pun kata-kata yang menjurus porno. Hanya saja, begitu alamat itu sudah terdaftar, maka barulah si pembuat memasukkan konten porno, berupa gambar-gambar bugil. “Nah, kalau sudah seperti ini software yang ada memang sulit melacaknya. Maka tak heran, situs-situs porno selalu muncul,” tandasnya.
Diakuinya, meski situs porno bermunculan, namun tak selalu dibuat di Surabaya atau sekitarnya. Bisa jadi, situs porno tersebut dibuat di luar negeri. Pihaknya sering menjumpai ada situs porno yang di dalamnya ada kata-kata lokal seperti Surabaya, namun sebenarnya si pembuat menggunakan server di luar negeri, seperti Amerika Serikat (AS) atau Eropa. Meski begitu, untuk mengurangi kelemahan software yang ada, saat ini beberapa peneliti sedang mengembangkan software yang mampu mendeteksi konten gambar bugil yang terdapat dalam situs-situs.
“Ya, saat ini sedang dikembangkan software seperti itu. Tentu, dengan pengembangan ini, diharapkan situs-situs porno bisa ditekan kemunculannya,” terangnya.
Yang lebih penting lagi, pihaknya berharap proteksi ini tak hanya semata-mata mengandalkan software pada komputer saja, namun lebih pada pengawasan dan pantauan, tak hanya dari pemilik warnet, tapi juga dari orangtua masing-masing. Dengan pengawasan secara menyeluruh, maka pengakses situs porno berkurang drastis. “Ini harus dilakukan semua pihak, baik pemerintah maupun keluarga,” tandasnya. n sda
KOMENTAR