Di Bilik 9, Dul Ditembak 4 Polisi
Tayang:
Baru 5 Menit Internetan
Jakarta - Surya- Belum sempat asyik internetan, Dulmatin sudah meregang nyawa. Salah-satu perakit Bom Bali 2002 itu ditembak mati karena berusaha melawan setelah digerebek petugas dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di sebuah warung internet (warnet) di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, provinsi Banten, Selasa (9/3).
Dulmatin, 40, diberondong peluru empat anggota Densus yang memasuki lantai 2 warnet `Multiplus` karena saat hendak ditangkap, pria yang bernama asli Joko Pitono itu menarik senjata apinya jenis revolver dan sempat melepas tembakan. Dulmatin, yang penangkapannya disayembarakan pemerintah AS dengan hadiah 10 juta dolar AS (sekitar Rp 100,5 miliar), menemui ajal dengan menggenggam senjata yang berisikan 5 peluru. Saat itu, ia baru lima menit duduk di kursi di bilik nomor 9 warnet itu.
Menurut keterangan Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Edward Aritonang, ada tiga tersangka teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus di dua tempat berbeda di kawasan Pamulang kemarin. Satu di Jl Siliwangi, dengan seorang korban berinisial YI alias M, yang diduga pula sebagai Dulmatin. Lokasi lainnya adalah di Jl Setiabudi, dengan dua korban tewas R dan H.
Selain menewaskan tiga tersangka teroris, Densus juga menangkap BR alias AH dan SB alias I dalam operasi itu.
"Yang meninggal dunia tiga orang. Dua orang meninggal belakangan setelah mengalami luka tembak," kata Edward di Jakarta, Selasa (9/3) malam. Sebelumnya, Edward mengatakan bahwa korban tewas hanya satu, dan dua lainnya terluka tembak dan sedang dirawat.
Dalam perkembangannya, dua orang yang terluka itu akhirnya meninggal di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta. Keduanya ditembak petugas karena saat hendak ditangkap, mereka melarikan diri dengan sepeda motor dan sempat melepaskan tembakan ke arah petugas.
Selain nama aslinya Joko Pitono, Dulmatin memiliki cukup banyak alias, antara lain, Joko Supriyanto dan Ammar Usman. Penangkapan para tersangka teroris itu berkat informasi yang dikorek dari sekitar 22 tersangka teroris yang ditangkap polisi di Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada pekan lalu. Ternyata, para tersangka yang ditangkap di Aceh itu adalah didikan dan kiriman dari Jawa, tepatnya dari Pamulang. Bahkan, jaringan mereka di Pamulang juga diduga menjadi pemasok senjata dan penyandang dana.
Polisi belum bisa mengonfirmasi apakah teroris yang tewas di warnet itu, Dulmatin, yang bersahabat dengan Azahari dan Noordin M Top. Polisi masih menunggu proses pengujian DNA untuk memastikan identitasnya. Namun, sebuah sumber di kepolisian mengatakan bahwa seorang yang tewas adalah `orang penting` dalam jaringan teroris.
Dyno Cresbon, pengamat intelijen yang mengetahui pengejaran teroris, yakin bahwa salah-satu yang tewas adalah Dulmatin. Dia mengatakan, “Sembilan puluh persen Dulmatin mati.”
"Memang salah satunya diduga sebagai Dulmatin, tapi itu masih perlu pembuktian lebih jauh dari tim identifikasi Mabes Polri," kata Ansyaad Mbai, Kepala Desk Antiteror di Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan.
Sebelumnya, Dulmatin yang licin seperti belut, pernah dua kali diberitakan tewas dalam operasi penumpasan oleh militer Filipina di sarang pemberontak muslim di Filipina Selatan. Namun, dua kali pula pemerintah Filipina meralat dan kemudian menyatakan bahwa Dulmatin selamat dalam baku tembak antara para kelompok teroris dan pasukan militer.
Setelah Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 dan Bom Bali II 2005, Dulmatin masih terendus berada di Indonesia. Namun, setelah itu dia diyakini telah lari dan berada di Filipina Selatan. Terutama di kawasan kepulauan terpencil di Provinsi Mindanao. Pulau-pulau kecil di sana, di antaranya dihuni para anggota kelompok teroris Abu Sayyaf. Dulmatin diyakini sebagai instruktur di kamp-kamp pelatihan teroris di sana.
Pengunjung Tiarap
Menurut Manajer warnet `Multiplus`, Linda Diana, sebelum terjadi penggerebekan, seorang pria yang diduga Dulmatin itu datang ke tempatnya bersama seorang wanita. Mereka berboncengan sepeda motor.
Setelah memarkir motor, pria tersebut masuk ke warnet sekitar pukul 11.30 WIB, sementara perempuan temannya menuju salon `Rinova` yang berada di sebelah warnet, yang terletak di Blok A No 4, Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan.
Pria itu kemudian ke lantai dua dan menempati kursi di bilik nomor 9. Hampir bersamaan, seseorang yang diduga anggota Densus juga naik ke lantai dua, tapi kemudian bergegas turun kembali. Setelah itu, empat petugas dari Densus 88 langsung bergerak masuk warnet dan menggerebek sembari mengeluarkan tembakan.
“Semua konsumen warnet langsung tiarap. Kemudian Tim Densus 88 naik ke lantai dua dan melepaskan tembakan ke pria itu,” kata Linda sebagaimana dikutip Antara.
Setelah pria itu dibawa polisi ke mobil ambulans yang sudah disediakan, Tim Densus 88 kemudian mengamankan sebuah server milik pengelola warnet yang sebelumnya dipergunakan. Tatkala lokasi kejadian mulai didatangi warga setempat, petugas Densus 88 sudah meninggalkan tempat. Tetapi, tak lama kemudian polisi datang dan warnet dipasangi garis polisi.
Umi, 25, seorang saksi di tempat kejadian, mengaku, mendengar empat kali suara tembakan saat penggerebekan Tim Densus 88 di warnet `Multiplus`. Saat itu Umi sedang mencuci rambut di salon `Rinova` yang bersebelahan dengan warnet.
Kata Umi, dua orang dari Densus juga masuk salon dan menganmankan beberapa pengunjung, termasuk seorang wanita teman pria yang ditembak itu.
Sementara itu, Gubernur Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf mengatakan, para teroris hendak menjadikan Aceh sebagai basis terorisme Asia Tenggara dan hal ini sudah terdeteksi sejak setahun yang lalu.
"Secara intelijen, sudah terdeteksi bahwa mereka akan membangun basis teroris di Asia Tenggara, namun penindakannya baru bisa dilakukan sekarang," ujar Irwandi dalam konferensi persnya di Jakarta, Selasa (9/3).
Irwandi menjelaskan, perekrutan teroris ini bermula pada saat perekrutan pada pemuda Aceh untuk dikirimkan ke Jalur Gaza, Timur Tengah, beberapa tahun lalu. Setelah terpilih, para pemuda tersebut dibawa ke Pulau Jawa untuk diberangkatkan. Namun, karena peristiwa di Gaza sudah selesai, maka mereka gagal pergi dan delapan orang dari Aceh justru diambil alih organisasi X serta dilatih kembali di Pulau Jawa.
"Delapan orang dari Aceh diambil alih oleh organisasi X dan dilatih lanjutan di Pulau Jawa. Inilah awalnya pergerakan anggota mereka ke Aceh," kata Irwandi.
Menurut Irwandi, kegiatan para teroris yang tertangkap tersebut masih pada tahap awal atau latihan dan belum sampai ada aksi bom di Aceh.
Dalam konferensi persnya tersebut, Irwandi juga berkali-kali menegaskan bahwa tertangkapnya jaringan teroris tersebut tidak ada kaitannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut Irwandi, justru dalam penyergapan ini sejumlah mantan GAM bekerja sama dengan militer Indonesia.
Pernyataan tersebut didukung oleh salah satu mantan pemimpin GAM, Muzakir Manaf yang mengatakan bahwa tidak ada anggota GAM yang terlibat dengan jaringan teroris tersebut. n persda network/ant/kcm KOMENTAR