Senin, 4 Mei 2026

Tesco-Walmart Ramaikan Jatim, China Seriusi Pasar Garmen dan Elektronik

Tayang:
Surabaya - Surya- Indonesia masih menjadi pasar yang empuk bagi peritel asing. Pasalnya, beberapa perusahaan ritel ancang-ancang bakal masuk pada tahun depan, termasuk dua raksasa ritel dunia, Tesco dari Inggris dan Walmart dari Amerika Serikat. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Rudi RJ Sumampouw mengatakan, persaingan di pasar ritel dalam negeri tahun depan kian sengit. Bukan saja antarperitel lokal, tetapi juga antarperitel asing. Selain populasi penduduk yang besar, menurut Rudi, pasar Indonesia menarik untuk pengembangan bisnis ritel asing setelah melihat pertumbuhan ekonomi yang masih positif, stabilitas politik ekonomi, dan geografis yang berpotensi untuk distribusi barang, terutama kawasan Indonesia timur. “Sehingga bukan tidak mungkin kedua ritel besar itu ke depan juga menjajaki pasar Jatim,” ujar Rudi, di sela pelatihan ekonomi perdagangan oleh Disperindag Jatim di Surabaya, Selasa (24/11). Rudi menjelaskan, saat ini Indonesia masuk ke dalam tiga negara yang menjadi incaran peritel dunia, selain China dan India. “Ritel asing selain memiliki dana yang kuat juga keunggulan teknologi, jaringan dan sumber daya yang berkualitas,” paparnya. Meski begitu, ia memperkirakan masuknya ritel asing, seperti Tesco dan Walmart, tidak secara langsung. Namun melalui sistem merger dengan ritel lokal, yang notabene lebih mudah. Kedua ritel itu, diungkapkan Rudi, termasuk peritel besar dan andal, kendati begitu belum tentu dapat bertahan di Indonesia. Tahun 2000, Walmart sebenarnya pernah masuk ke Indonesia, tapi gagal. Selain dua ritel tersebut, sekitar 5-10 peritel asing saat ini juga tengah menjajaki untuk masuk Indonesia. “Beberapa perwakilan mereka sudah melakukan konsultasi di antaranya dari negara tetangga, namun kapan positifnya mereka masuk belum tahu,” ungkap Rudi. Beberapa perusahaan ritel asing yang sudah masuk ke Indonesia, di antaranya Carrefour, Lotte, Giant, Mark & Spencer, serta Superindo. Terbaru, bulan lalu 7-Eleven sudah masuk Jakarta. Ketua Aprindo Jatim Abraham Ibnu mengatakan, sesuai Perpres No 112 Tahun 2007, pihaknya tak mempermasalahkan masuknya ritel asing asalkan dalam skala besar. Namun, ia khawatir jika peritel asing diberi keleluasaan ekspansi akan menggencet ritel lokal. Sejatinya, peritel lokal memiliki potensi yang tak kalah dengan peritel asing. "Saya hanya menyarankan sebaiknya peritel asing dibatasi karena jumlahnya sudah cukup banyak," tegas Abraham. Di Jatim, sedikitnya ada lima ritel asing skala besar, di antaranya Giant asal Malaysia, Carrefour dari Perancis, Metro dan Sogo dari Jepang. Banjir Produk China Tak hanya ritel asing, seiring dengan Free Trade Agreement (FTA) Asean-China pada 2010, Rudi memperkirakan produk asing asal negara Asean dan China bakal membanjiri pasar dalam negeri. Ini tak bisa dihindari karena harga produk China lebih murah dibanding produk lokal. “Selisih harganya minimal 20 persen dari produk lokal. Barang-barang yang potensial masuk di antaranya garmen dan elektronik,” ujarnya. Melihat kenyataan itu, ia memperkirakan sejumlah produsen barang-barang sejenis dalam negeri akan beralih menjadi pedagang produk impor, karena dianggap lebih memberikan keuntungan. Sementara itu, omzet ritel di dalam negeri tahun ini diprediksi mencapai Rp 300 triliun. Dari jumlah itu, kontribusi sekitar 100 perusahaan ritel anggota Aprindo mencapai Rp 80 triliun. “Jumlah itu mengalami kenaikan dibanding 2008 yang mencapai Rp 70 triliun,” ungkap Rudi. dio
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved