Diminati Tapi Tak Ikuti Tren Rumah, Banyak Pilihan, Genteng Keramik Jadi Primadona
SURABAYA - SURYA- Fungsi genteng atau atap tidak lagi sebatas untuk melindungi rumah dari cuaca panas atau hujan. Dalam perkembangannya, genteng sudah menjadi bagian utama untuk mempertegas tampilan sebuah rumah.
Jika dulu rumah mewah banyak menggunakan genteng sirap yang terbuat dari kayu, sedangkan rumah pada umumnya banyak memanfaatkan genteng tanah liat yang dibakar. Namun, setelah era genteng sirap memudar, indutri atap rumah makin berkembang dengan teknologi yang lebih maju. Pilihan jenis genteng pun mulai beragam.
Saat ini, ada dua jenis genteng yang paling menonjol di pasar, yaitu genteng keramik dan genteng beton. Dua jenis genteng ini paling banyak dipakai sebagai penutup atap rumah. Sayangnya, dari segi harga genteng keramik lebih mahal ketimbang genteng beton.
Salah satu distributor genteng keramik di Surabaya, David Setiawan mengakui, genteng keramik memiliki keunggulan karena terlihat lebih cantik dan rapi. Harganya yang relatif lebih mahal membuat konsumen genteng jenis ini didominasi segmen menengah atas.
“Harga genteng keramik rata-rata di kisaran Rp 4.800-6.000 per satuan. Beberapa merek yang bermain di produk ini di antaranya KIA, M-Class, Kanmuri, Karangpilang dan Ikad,” papar David, Kamis (5/11).
Ia mengakui, rumah atau bangunan yang menggunakan genteng keramik memang terlihat lebih eksklusif. Sayang, hunian minimalis yang sekarang ini digemari dinilai tidak cocok menggunakan genteng keramik.
Genteng model flat atau semi flat, menurut David, lebih cocok untuk tipe rumah minimalis. “Genteng keramik cocok digunakan untuk model atap rumah yang miring atau model rumah modern. Tetapi tidak cocok untuk rumah desain minimalis yang mengandalkan garis-garis,” jelasnya.
Meski begitu, lanjut David, masih minimnya produsen genteng yang memproduksi genteng model flat, membuat permintaan genteng keramik maupun beton dengan tekstur bergelombang masih tinggi. “Yang saya tahu, genteng flat untuk bangunan minimalis selama ini masih terbuat dari beton, sementara segmen menengah atas masih memburu genteng keramik. Jadi, sebetulnya kurang pas jika diterapkan di rumah minimalis,” tandas dia.
Berkembangnya gaya arsitektur modern minimalis dalam beberapa tahun terakhir, kata David, juga berperan menghambat perkembangan genteng keramik. Genteng flat dinilai paling tepat mencitrakan gaya itu dan yang bisa memenuhinya genteng beton.
Oleh karenanya, ia memperkirakan ke depan produsen genteng keramik akan men-setting ulang mesinnya untuk bisa memproduksinya. Tentunya, butuh biaya besar untuk itu.
Product Manager PT KIA, produsen genteng keramik, Elvis Samallo mengakui, genteng keramik masih menjadi primadona konsumen di tanah air. Kekuatan, penampilan, serta keunggulan dalam hal model yang interlock (pengunci) menjadi kelebihan genteng jenis itu.
“Namun, seiring dengan tren properti yang kini tengah berkembang yakni model minimalis, kita juga menyesuaikan diri. Pasalnya, produk kita lebih flat dan glossy dengan warna natural. Jadi, tren saat ini pas dengan produk KIA interlock,” ujar Elvis. dio
Berita Terkait