Ustadz Tewas Korban Carok Massal, Gara-gara Masalah Kayu
PAMEKASAN - SURYA - Situasi 2 Desa Mencekam. Carok massal kembali terjadi di tanah Madura. Dalam peristiwa yang terjadi di Desa Bulangan Timur, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Minggu (1/11) malam, seorang ustadz menjadi korban tewas, sedangkan tiga pelaku lainnya terluka parah, termasuk ayah sang ustadz.
Ustadz yang menjadi korban itu bernama Ruslan, 27, warga Desa Tebul Timur, Kecamatan Pegantenan. Guru madrasah yang masih kuliah semester VII di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan itu tewas di tempat kejadian dengan kondisi luka robek di perut hingga ususnya terburai, luka menganga di pinggang serta luka tusuk di punggung tembus hingga ke paru-paru.
Setelah menjalani otopsi di RSD Pamekasan, jenazah Ruslan dibawa pulang keluarganya untuk segera dimakamkan.
Sementara korban lainnya adalah Hadiri, 32 dan Bunadi, 42, keduanya warga Bulangan Timur. Hadiri mengalami luka di bokong bagian kanan, jempol kanan serta kaki kanan. Sedangkan Bunadi terluka sobek di dagu, juga di leher memanjang ke samping kiri. Keduanya dirawat di RSD Pamekasan, dan dalam kondisi kritis.
Korban keempat, Jatim, 50, ayah Ustadz Ruslan, mengalami luka robek di punggung dan paha kiri. Kini Jatim masih dirawat di RS Larasati, Pamekasan. Ketiganya sengaja dirawat terpisah, untuk mengantisipasi adanya aksi balas dendam atau carok susulan.
Menutut sejumlah sumber di lokasi kejadian, peristiwa berdarah tersebut bermula ketika Jatim dan Ruslan datang ke Bulangan Timur, Minggu malam, untuk menemui Hadiri dan Bunadi, di rumah Bunadi. Ruslan dan Jatim bermaksud menanyakan kayu untuk keperluan pembangunan madrasah yang diasuhnya, yang kabarnya tengah dipersoalkan Hadiri dan Bunadi.
Ketika Ruslan dan Jatim tiba di rumah Bunadi, menurut sumber itu, penyambutannya sudah tidak ramah sehingga membuat suasana pertemuan tegang. Bahkan beberapa saat kemudian terjadi percekcokan mulut di antara keempat orang itu.
Tidak jelas, siapa yang memulai. Tiba-tiba keempatnya sama-sama mengeluarkan celurit dari balik bajunya, kemudian terjadi pertarungan bebas.
Dalam pertarungan dengan jumlah orang berimbang itu, Ustadz Ruslan terkapar bersimbah darah dan mengembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian. Sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka parah.
Beberapa Versi
Namun ada sejumlah versi lain yang disampaikan warga tentang peristiwa carok massal yang terjadi sekitar pukul 19.00 WIB itu. Ada yang menyatakan karena balas dendam, tapi ada juga yang menyatakan karena salah paham.
Kesimpulan sementara berdasarkan keterangan dari sejumlah kerabat korban, carok massal ini terjadi setelah Ruslan bersama ayahnya, Jatim mendatangi rumah Hadiri dan Bunadi, di Desa Bulangan Timur.
Menurut warga itu, Ruslan dan ayahnya datang ke rumah Hadiri dan Bunadi untuk menanyakan kasus yang menimpa Zakki, paman Ruslan. Tidak jelas kasus apa yang dimaksud. Tapi setelah sampai di rumah Hadiri, perang mulut antara kedua pihak terjadi hingga akhirnya terjadi carok massal.
Ada yang menyatakan, yang memulai aksi perkelahian lebih dahulu dari pihak Ruslan, tapi versi lain menyebutkan dari pihak Hadiri. Versi lainnya menyatakan, ada tiga orang lain yang tiba-tiba datang dan membabatkan celurit ke tubuh Ruslan dan Jatim dan ketiga orang tersebut kini menghilang dari Desa Bulangan Timur.
Hingga Senin (2/11), suasana Desa Bulangan Timur masih mencekam. Warga Desa tidak berani melakukan aktivitas pascacarok massal. Mereka tidak berani keluar rumah, dan aktivitas warga terhenti, karena masih beredar ancaman akan ada serangan susulan terhadap keluarga pelaku.
Begitu pula suasana Desa Tebul Timur, tempat domisili Ruslan. Polisi terus berjaga-jaga di dua desa tersebut. Para petugas yang diterjunkan merupakan gabungan dari personel Polsek Pegantenan, Polres Pamekasan, dan Brimob Polwil Madura. Bahkan puluhan personel Brimob datang dengan senjata lengkap.
Selain di Desa Bulangan Timur dan Desa Tebul Timur, yang juga mendapat penjagaan ketat dari aparat Polres Pamekasan adalah dua rumah sakit di Pamekasan tempat para korban dirawat. Yakni di RSD Jalan Raya Panglegur dan RS Larasati Jalan Mandilaras Pamekasan.
Kasat Reskrim Polres Pamekasan AKP Moh Kholil mengatakan, polisi sengaja memperketat pengawasan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. "Ini sebagai antisipasi saja agar tidak terjadi carok susulan," katanya, Senin (2/11).
Juga dikatakan, petugas masih melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan sejumlah saksi di lapangan, termasuk keluarga korban.
Kholil, menyatakan, olah TKP dilakukan untuk mengetahui kronologi peristiwa carok massal itu yang sebenarnya. Sebab saat ini polisi masih kekurangan alat bukti tentang siapa yang diduga bersalah dalam kasus tersebut. Apalagi warga yang tinggal di sekitar lokasi carok massal umumnya tutup mulut dan mengaku tidak tahu tentang peristiwa itu.
Namun Kholil enggan membeberkan kronologi dan motif carok tersebut. ”Pokoknya kami masih lidik. Siapa yang tersangka dan korban, belum kami pastikan, karena ketiganya sama-sama luka parah,” kata Kholil.
Carok massal yang terjadi di Desa Bulangan Timur ini merupakan yang kedua kalinya di Pamekasan dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2006 lalu, carok massal terjadi di Desa Bujur Tengah, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan. Waktu itu, lima orang tewas dan tujuh lainnya luka-luka. st30/ant
KOMENTAR