Jumat, 8 Mei 2026

Pemain Berebut di Pasar Minoritas, Permintaan Proyektor Terus Meningkat

Tayang:
SURABAYA - SURYA- Pasar teknologi informasi saat ini terus mengalami perkembangan pesat, seiring dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat. Hal ini terjadi juga di pasar proyektor. Jika beberapa tahun lalu konsumen hanya mendapati 1-2 merek yang bermain, kini produk yang bersaing kian ramai. Division Manager PT Datascrip, distributor proyektor Sanyo di Indonesia, Jeremy Hermanto mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir pasar proyektor data mengalami pertumbuhan cukup menjanjikan. Saat ini, menurut dia, pasar proyektor diperebutkan sekitar 35 merek. Namun, lebih dari separo pasar dikuasai oleh 5 merek saja. “Meningkatnya pasar proyektor ini didorong oleh kebutuhan konsumen untuk menggantikan perangkat visual tradisional, seperti OHP dengan perangkat presentasi yang lebih praktis dan efisien, seperti proyektor LCD,” tutur Jeremy, kemarin. Di sisi lain, konsumen dari kalangan perkantoran juga menginginkan layar yang lebih lebar untuk presentasi ketika rapat atau bertemu klien. Oleh karena itu, konsumen juga mulai membutuhkan proyektor yang dapat memberikan format widescreen, tidak sekadar format 4:3. Kebutuhan resolusi pun meningkat dari rata-rata SVGA menjadi minimal XGA. Jeremy juga melihat sejak 2-3 tahun lalu, kebutuhan proyektor di pasar edukasi, khususnya sekolah-sekolah mulai tumbuh, setelah penggunaan personal computer (PC) dan Internet semakin meningkat. "Kebutuhan primer memang masih tetap PC. Namun, kami melihat meskipun proyektor tidak menempati prioritas utama, permintaannya semakin meningkat," ujarnya. Secara kuantitas, pasar proyektor masih kalah jauh dengan PC atau notebook yang meningkat tajam. Namun permintaan di pasar yang minoritas itu tetap ada dan cenderung meningkat. Tak heran jika produk yang belakangan diluncurkan merupakan pelebaran sayap dari pemain di sektor IT. Sanyo selama ini memasarkan puluhan tipe proyektor data maupun home theatre untuk memperkuat portfolio proyektornya tahun ini. Beberapa produk itu, diakui Jeremy, mampu menjadi modal untuk bersaing di pasar Tanah Air. Ia menyebut, pada 2006 pasar proyektor di pasar dalam negeri mencapai 30.000 unit, sementara 2007 meningkat pesat menjadi 37.000-40.000 unit, sedangkan 2008 pasarnya meningkat kisaran 50.000 unit. Business Product & Presales Manager PT Epson Indonesia Chris Herman Gunawan memprediksi, pasar proyektor untuk tahun ini mencapai 62.500 unit. Pasar itu dibagi menjadi pasar pendidikan, pasar small medium enterprises, pasar perusahaan dan pasar pemerintahan. "Kami melihat pasar pendidikan, perusahaan, dan pemerintahan yang paling tinggi permintaannya," ujar Chris. Mengapresiasi permintaan konsumen yang meningkat di pasar pendidikan maupun pasar perusahaan dan pemerintahan, bulan ini Epson siap meluncurkan 43.000 unit proyektor baru. Demi menjadi produsen nomor satu, Epson menargetkan produksi 28.000 unit proyektor SVGA alias Super Video Graphics Array dan 15.000 unit proyektor XGA atau Extended Graphics Array untuk dua segmen pendidikan dan perusahaan. Harganya pun bervariasi, di kisaran 539-1.099 dolar AS per unit. “Kami optimistis hingga akhir tahun ini pangsa pasar kami bisa di kisaran 20 persen di pasar nasional,” ungkap Chris. dio Produk Mini Harga Maksi Saat ini, hampir semua orang mengenal produk proyektor. Sebagian besar perusahaan atau lembaga di telah mengandalkan proyektor sebagai pendamping ketika rapat, seminar atau presentasi. Demikian juga lembaga-lembaga pendidikan. Melihat kian pentingnya sebuah proyektor, model proyektor pun kian beragam, salah satunya ukuran yang mini. Menurut Dedy Setiawan, staf Inti Teknindo, distributor sejumlah proyektor di Surabaya, para pemain kini tak hanya menggarap keunggulan teknologi produknya, namun juga model dan bentuk produk. “Jika beberapa tahun lalu model proyektor standar, baik ukuran maupun bentuknya, kini sejumlah merek mengeluarkan proyektor mini yang dinilai lebih simple dan mudah dibawa,” tuturnya. Diakui Dedy, kota-kota besar masih menjadi pasar potensial produk proyektor. Ini seiring dengan keberadaan corporat menengah besar di kota-kota itu. “Masyarakat selama ini mengenal proyektor dengan menyebut salah satu merek yang memang cukup leading di pasar, yakni infokus,” ungkapnya. Manajer Produk Infocus PT Triyaso Telekomindo, distributor tunggal Infocus, Cahyono Tedja mengakui, dikenalnya merek Infocus menjadi keunggulan tersendiri pihaknya dalam memasarkan produk. Termasuk ketika merek ini mengenalkan proyektor mini, dan terbukti laris di pasaran. Sebagai perbandingan saja, proyektor konvensional memiliki bobot 2-3 kilogram. Sementara, berat proyektor mini hanya 1,1-1,2 kilogram. Para produsen mulai bersaing dalam merilis proyektor mini andalan ke pasar. “Proyektor mini menjadi menarik karena besarnya hanya sebesar agenda,” ujarnya. Ditambahkan Cahyono, Infocus bukanlah mini proyektor terkecil yang ada di pasar. Namun, mini proyektor Infocus memiliki kelebihan karena menggunakan lampu SHP dan UHP. Dengan lampu itu, mini proyektor memiliki tingkat kecerahan 2.100-2.200 lumen. “Sehingga, tingkat ketajaman gambar pun tinggi,” ujar Cahyono. Tidak mau ketinggalan, 3M juga meluncurkan produk proyektor mininya yang dinamakan MPro 110. Produsen asal AS ini pertama kali mengomersilkan mikro proyektor di Indonesia pada Januari 2009. Sejak produk ini meluncur ke pasar, minat masyarakat sangat besar. Selain kedua produsen itu, Viewsonic juga meluncurkan produk proyektor mini terbarunya bernama Viewsonic PJD5111 Projector. Bobot proyektor mini dari Viewsonic ini agak lumayan, 2,3 kilogram. Hanya saja, untuk mendapatkan proyektor langsing ini, harga yang harus dikeluarkan konsumen lebih tinggi. Jika harga proyektor konvensional rata-rata di bawah Rp 6 juta, proyektor mini dipatok kisaran Rp 12-17 juta per unit. Mahalnya harga membuat laju penjualan mini proyektor Infocus tak sekencang proyektor konvensional. “Penjualan Infocus konvensional bisa 85 persen, sementara proyektor mini menguasai 15 persen. Kecenderungannya konsumen proyektor mini lebih individual, seperti mahasiswa,” terang Cahyono. dio
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved