Tengkorak Hitler Milik Wanita
Tayang:
Penulis: Satwika Rumeksa |
London-Peneliti sejarah dibuat terkejut dengan penemuan mereka, bahwa tengkorak Hitler yang disimpan oleh Rusia ternyata tengkorak milik seorang wanita, bukan tengkorak pria. Seperti diyakini selama 64 tahun ini bahwa Hitler, 56, bunuh diri dengan minum sianida plus menembak kepalanya sendiri saat tentara mereh Rusia mendekati bunkernya pada April 1945.
Tentara Rusia kemudian menggali mayatnya-dengan tengkorak berlubang akibat tembakan yang dinyatakan bahwa tengkorak itu milik Hitler karena berlubang kena peluru. Lalu pada tahun 1970 KGB melakukan kremasi jenazahnya dan menyisakan rahang seta sebagian terngkoran yang berlubang kena peluru.
Arkeolog AS Nick Bellantoni terbang ke Moskowf kemarin karena diberi ijin untuk memeriksa artefak yang disimpan Rusia-termasuk noda darah di sofa yang ada di bunker tempat Hitler dan kekasihnya Eva Braun bunuh diri. Bellantoni memeriksa selama satu jam.
Penemuannya sangat mengejutkan bahwa tengkorak itu milik wanita dan usianya lebih muda. “Tulang tengkoraknya sangat tipis-tengkorak pria lebih tebal. Tengkorak yang ini (diperiksa) berhubungan dengan wanita yang berusia 20-40 tahun,” katanya..
Kekasih Hitler, Eva Braun berusia 33 tahun, tetapi dalam laporan tidak disebut bahwa Eva Braun menembak kepalanya dengan pisto atau ditembak setelah bunuh diri minum sianida. Kemungkinan tengkorak ini milik orang lain.”
Lari Ke Indonesia?
Jika saja ada yang rajin menyimpan klipingan artikel harian “Pikiran
Rakyat” sekitar tahun 1983, tentu akan menemukan tulisan dokter
Sosrohusodo mengenai pengalamannya bertemu dengan seorang dokter tua
asal Jerman bernama Poch di pulau Sumbawa Besar pada tahun 1960. Dokter
tua itu kebetulan memimpin sebuah rumah sakit besar di pulau tersebut.
Tapi bukan karena mengupas kerja dokter Poch, jika kemudian artikel
itu menarik perhatian banyak orang, bahkan komentar sinis dan cacian!
Namun kesimpulan akhir artikel itulah yang membuat banyak orang
mengerutkan kening. Sebab dengan beraninya Sosro mengatakan bahwa
dokter tua asal Jerman yang pernah berbincang-bincang dengannya, tidak
lain adalah Adolf Hitler, mantan diktator Jerman yang super terkenal
karena telah membawa dunia pada Perang Dunia II!
Beberapa “bukti” diajukannya, antara lain dokter Jerman tersebut
cara berjalannya sudah tidak normal lagi, kaki kirinya diseret. Tangan
kirinya selalu gemetar. Kumisnya dipotong persis seperti gaya aktor
Charlie Chaplin, dengan kepala plontos. Kondisi itu memang menjadi ciri
khas Hitler pada masa tuanya, seperti dapat dilihat sendiri pada
buku-buku yang menceritakan tentang biografi Adolf Hitler (terutama
saat-saat terakhir kejayaannya), atau pengakuan Sturmbannführer Heinz
Linge, bekas salah seorang pembantu dekat sang Führer. Dan masih banyak
“bukti” lain yang dikemukakan oleh dokter Sosro untuk mendukung
dugaannya.
Keyakinan Sosro yang dibangunnya dari sejak tahun 1990-an itu hingga
kini tetap tidak berubah. Bahkan ia merasa semakin kuat setelah
mendapatkan bukti lain yang mendukung ‘penemuannya’. “Semakin saya
ditentang, akan semakin keras saya bekerja untuk menemukan bukti-bukti
lain,” kata lelaki yang lahir pada tahun 1929 di Gundih, Jawa Tengah
ini ketika ditemui di kediamannya di Bandung.
Andai saja benar dr. Poch dan istrinya adalah Hitler yang tengah
melakukan pelarian bersama Eva Braun, maka ketika Sosro berbincang
dengannya, pemimpin Nazi itu sudah berusia 71 tahun, sebab sejarah
mencatat bahwa Adolf Hitler dilahirkan tanggal 20 April 1889. “Dokter
Poch itu amat misterius. Ia tidak memiliki ijazah kedokteran secuilpun,
dan sepertinya tidak menguasai masalah medis,” kata Sosro, lulusan
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sempat bertugas di pulau
Sumbawa Besar ketika masih menjadi petugas kapal rumah sakit Hope.
Sebenarnya, tumbuhnya keyakinan pada diri Sosro mengenai Hitler di
pulau Sumbawa Besar bersama istrinya Eva Braun, tidaklah suatu
kesengajaan. Ketika bertugas di pulau tersebut dan bertemu dengan
seorang dokter tua asal Jerman, yang ada pada benak Sosro baru tahap
kecurigaan saja.
Meskipun begitu, ia menyimpan beberapa catatan mengenai sejumlah
“kunci” yang ternyata banyak membantu. Perhatiannya terhadap literatur
tentang Hitler pun menjadi kian besar, dan setiap melihat potret tokoh
tersebut, semakin yakin Sosro bahwa dialah orang tua itu, orang tua
yang sama yang bertemu dengannya di sebuah pulau kecil d Indonesia!
Ketidaksengajaan itu terjadi pada tahun 1960, berarti sudah dua puluh tahun lebih ia meninggalkan pulau Sumbawa Besar.
Suatu saat, seorang keponakannya membawa majalah Zaman edisi no.15
tahun 1980. Di majalah itu terdapat artikel yang ditulis oleh Heinz
Linge, bekas pembantu dekat Hitler, yang berjudul “Kisah Nyata Dari
Hari-Hari Terakhir Seorang Diktator”, yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.
Pada halaman 59, Linge mula-mula menceritakan mengenai bunuh diri
Hitler dan Eva Braun, serta cara-cara membakar diri yang kurang masuk
di akal. Kemudian Linge membeberkan keadaan Hitler pada waktu itu.
“Beberapa alinea dalam tulisan itu
membuat jantung saya berdetak keras, seperti menyadarkan saya kembali.
Sebab di situ ada ciri-ciri Hitler yang juga saya temukan pada diri si
dokter tua Jerman. Apalagi setelah saya membaca buku biografi ‘Hitler’.
Semuanya ada kesamaan,” ungkap ayah empat anak ini.
Heinz Linge menulis, “beberapa orang di Jerman mengetahui bahwa
Führer sejak saat itu kalau berjalan maka dia menyeret kakinya, yaitu
kaki kiri. Penglihatannya pun sudah mulai kurang terang serta rambutnya
hampir sama sekali tidak tumbuh… kemudian, ketika perang semakin
menghebat dan Jerman mulai terdesak, Hitler menderita kejang urat.”
Linge melanjutkan, “di samping itu, tangan kirinya pun mulai gemetar
pada waktu kira-kira pertempuran di Stalingrad (1942-1943) yang tidak
membawa keberuntungan bagi bangsa Jerman, dan ia mendapat kesukaran
untuk mengatasi tangannya yang gemetar itu.” Pada akhir artikel, Linge
menulis, “tetapi aku bersyukur bahwa mayat dan kuburan Hitler tidak
pernah ditemukan.”
Lalu Sosro mengenang kembali beberapa dialog dia dengan “Hitler”,
saat Sosro berkunjung ke rumah dr. Poch. Saat ditanya tentang
pemerintahan Hitler, kata Sosro, dokter tua itu memujinya. Demikian
pula dia menganggap bahwa tidak ada apa-apa di kamp Auschwitz, tempat
‘pembantaian’ orang-orang Yahudi yang terkenal karena banyak film
propaganda Amerika yang menyebutkannya.
“Ketika saya tanya tentang kematian Hitler, dia menjawab bahwa dia
tidak tahu sebab pada waktu itu seluruh kota Berlin dalam keadaan kacau
balau, dan setiap orang berusaha untuk lari menyelamatkan diri
masing-masing,” tutur Sosrohusodo.
Di sela-sela obrolan, dr. Poch mengeluh tentang tangannya yang
gemetar. Kemudian Sosro memeriksa saraf ulnarisnya. Ternyata tidak ada
kelainan, demikian pula tenggorokannya. Ketika itu, ia berkesimpulan
bahwa kemungkinan “Hitler” hanya menderita parkisonisme saja, melihat
usianya yang sudah lanjut.
Yang membuat Sosro terkejut, dugaannya bahwa sang dokter mungkin
terkena trauma psikis ternyata diiyakan oleh dr. Poch! Ketika disusul
dengan pertanyaan sejak kapan penyakit itu bersarang, Poch malah
bertanya kepada istrinya dalam bahasa Jerman.
“Itu kan terjadi sewaktu tentara Jerman kalah perang di Moskow.
Ketika itu Goebbels memberi tahu kamu, dan kamu memukul-mukul meja,”
ucap istrinya seperti ditirukan oleh Sosro. Apakah yang dimaksud dengan
Goebbels adalah Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Jerman yang
terkenal setia dan dekat dengan Hitler? Istrinya juga beberapa kali
memanggil dr. Poch dengan sebutan “Dolf”, yang mungkin merupakan
kependekan dari Adolf!
Setelah memperoleh cemoohan sana-sini sehubungan dengan artikelnya,
tekad Sosrohusodo untuk menuntaskan masalah ini semakin menggebu. Ia
mengaku bahwa kemudian memperoleh informasi dari pulau Sumbawa Besar
bahwa Poch sudah meninggal di Surabaya. Beberapa waktu sebelum
meninggal, istrinya pulang ke Jerman. Poch sendiri konon menikah lagi
dengan nyonya S, wanita Sunda asal Bandung, karyawan di kantor
pemerintahan di pulau Sumbawa Besar!
Untuk menemukan alamat nyonya S yang sudah kembali lagi ke Bandung,
Sosro mengakui bukanlah hal yang mudah. Namun akhirnya ada juga orang
yang memberitahu. Ternyata, ia tinggal di kawasan Babakan Ciamis!
Semula nyonya S tidak begitu terbuka tentang persoalan ini. Namun
karena terus dibujuk, sedikit demi sedikit mau juga nyonya S berterus
terang.
Begitu juga dengan dokumen-dokumen tertulis peninggalan suaminya
kemudian diserahkan kepada Sosrohusodo, termasuk foto saat pernikahan
mereka, plus rebewes (SIM) milik dr. Poch yang ada cap jempolnya. Dari
nyonya S diketahui bahwa dr. Poch meninggal tanggal 15 Januari 1970
pukul 19.30 pada usia 81 tahun di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya
akibat serangan jantung. Keesokan harinya dia dimakamkan di desa Ngagel.
Dalam salah satu dokumen tertulis, diakuinya bahwa ada yang amat
menarik dan mendukung keyakinannya selama ini. Pada buku catatan ukuran
saku yang sudah lusuh itu, terdapat alamat ratusan orang-orang asing
yang tinggal di berbagai negara di dunia, juga coretan-coretan yang
sulit dibaca. Di bagian lainnya, terdapat tulisan steno. Semuanya
berbahasa Jerman. Meskipun tidak ada nama yang menunjukkan kepemilikan,
tapi diyakini kalau buku itu milik suami nyonya S.
Di sampul dalam terdapat kode J.R. KepaD no.35637 dan 35638, dengan
masing-masing nomor itu ditandai dengan lambang biologis laki-laki dan
wanita. “Jadi kemungkinan besar, buku itu milik kedua orang tersebut,
yang saya yakini sebagai Hitler dan Eva Braun,” tegasnya dengan suara
yang agak parau.
Negara yang tertulis pada alamat ratusan orang itu antara lain
Pakistan, Tibet, Argentina, Afrika Selatan, dan Italia. Salah satu
halamannya ada tulisan yang kalau diterjemahkan berarti : Organisasi
Pelarian. Tuan Oppenheim pengganti nyonya Krüger. Roma, Jl. Sardegna
79a/1. Ongkos-ongkos untuk perjalanan ke Amerika Selatan (Argentina).
Lalu, ada pula satu nama dalam buku saku tersebut yang sering
disebut-sebut dalam sejarah pelarian orang-orang Nazi, yaitu Prof. Dr.
Draganowitch, atau ditulis pula Draganovic. Di bawah nama Draganovic
tertulis Delegation Argentina da imigration Europa – Genua val albaro
38. secara terpisah di bawahnya lagi tertera tulisan Vatikan. Di
halaman lain disebutkan, Draganovic Kroasia, Roma via Tomacelli 132.
Majalah Intisari terbitan bulan Oktober 1983, ketika membahas Klaus
Barbie alias Klaus Altmann bekas polisi rahasia Jerman zaman Nazi,
menyebutkan alamat tentang Val Albaro. Disebutkan pula bahwa Draganovic
memang memiliki hubungan dekat dengan Vatikan Roma. Profesor inilah
yang membantu pelarian Klaus Barbie dari Jerman ke Argentina. Pada
tahun 1983 Klaus diekstradisi dari Bolivia ke Prancis, negara yang
menjatuhkan hukuman mati terhadapnya pada tahun 1947.
“Masih banyak alamat dalam buku ini, yang belum seluruhnya saya
ketahui relevansinya dengan gerakan Nazi. Saya juga sangat berhati-hati
tentang hal ini, sebab menyangkut negara-negara lain. Saya masih harus
bekerja keras menemukan semuanya. Saya yakin kalau nama-nama yang
tertera dalam buku kecil ini adalah para pelarian Nazi!” tandasnya.
Mengenai tulisan steno, diakuinya kalau ia menghadapi kesulitan
dalam menterjemahkannya ke dalam bahasa atau tulisan biasa. Ketika
meminta bantuan ke penerbit buku steno di Jerman, diperoleh jawaban
bahwa steno yang dilampirkan dalam surat itu adalah steno Jerman “kuno”
sistem Gabelsberger dan sudah lebih dari 60 tahun tidak digunakan lagi
sehingga sulit untuk diterjemahkan.
Tetapi penerbit berjanji akan mencarikan orang yang ahli pada steno
Gabelsberger. Beberapa waktu lamanya, datang jawaban dari Jerman dengan
terjemahan steno ke dalam bahasa Jerman. Sosrohusodo menterjemahkannya
kembali ke dalam bahasa Indonesia. Judul catatan dalam bentuk steno
itu, kurang lebih berarti “keterangan singkat tentang pengejaran
perorangan oleh Sekutu dan penguasa setempat pada tahun 1946 di
Salzburg”. Kota ini terdapat di Austria.
Di dalamnya berkisah tentang “kami berdua, istri saya dan saya pada
tahun 1945 di Salzburg”. Tidak disebutkan siapakah ‘kami berdua’ di
situ. Dua insan tersebut, kata catatan itu, dikejar-kejar antara lain
oleh CIC (dinas rahasia Amerika Serikat). Pada pokoknya, menggambarkan
penderitaan sepasang manusia yang dikejar-kejar oleh pihak keamanan.
Di dalamnya juga terdapat singkatan-singkatan yang ditulis oleh
huruf besar, yang kalau diurut akan menunjukkan rute pelarian keduanya,
yaitu B, S, G, J, B, S, R. “Cara menyingkat seperti ini merupakan
kebiasaan Hitler dalam membuat catatan, seperti yang pernah saya baca
dalam literatur yang lainnya,” Sosrohusodo memberikan alasan.
Dari singkatan-singkatan itu, lalu Sosro mencoba untuk
mengartikannya, yang kemudian dikaitkan dengan rute pelarian. Pelarian
dimulai dari B yang berarti Berlin, lalu S (Salzburg), G (Graz), J
(Jugoslavia), B (Beograd), S (Sarajevo) dan R (Roma). Tentang Roma,
Sosro menjelaskan bahwa itu adalah kota terakhir di Eropa yang menjadi
tempat pelariannya. Setelah itu mereka keluar dari benua tersebut
menuju ke suatu tempat, yang tidak lain tidak bukan adalah pulau
Sumbawa Besar di Nusantara tercinta!
Ia mengutip salah satu tulisan dalam steno tadi : “Pada hari pertama
di bulan Desember, kami harus pergi ke R untuk menerima suatu surat
paspor, dan kemudian kami berhasil meninggalkan Eropa”. Ini, kata
Sosro, sesuai dengan data pada paspor dr. Poch yang menyebutkan bahwa
paspor bernomor 2624/51 diberikan di Rom (tanpa huruf akhir A)”. Di
buku catatan berisi ratusan alamat itu, nama Dragonic dikaitkan dengan
Roma, begitulah Sosro memberikan alasan lainnya.
Lalu mengenai Berlin dan Salzburg, diterangkannya dengan mengutip
majalah Zaman edisi 14 Mei 1984. Dikatakan bahwa sejarah telah mencatat
peristiwa jatuhnya pesawat yang membawa surat-surat rahasia Hitler yang
jatuh di sekitar Jerman Timur pada tahun 1945. “Ini juga menunjukkan
rute pelarian mereka,” katanya lagi.
Lalu bagaimana komentar nyonya S yang disebut-sebut Sosro sebagai
istri kedua dr. Poch? Konon ia pernah berterus terang kepada Sosro.
Suatu hari suaminya mencukur kumis mirip kumis Hitler, kemudian nyonya
S mempertanyakannya, yang kemudian diiyakan bahwa dirinya adalah
Hitler. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa,” begitu Sosro mengutip
ucapan nyonya S.
Membaca dan menyimak ulasan dr. Sosrohusodo, sekilas seperti ada
saling kait mengkait antara satu dengan yang lainnya. Namun masih
banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Sosro, dengan tidak
bermaksud meremehkan pendapat pribadinya berkaitan dengan Hitler, sebab
mengemukakan pendapat adalah hak setiap warga negara.
Bahkan Sosrohusodo sudah membuat semacam diktat yang memaparkan
pendapatnya tentang Hitler, dilengkapi dengan sejumlah foto yang
didapatnya dari nyonya S. Selain itu, isinya juga mengisahkan tentang
pengalaman sejak dia lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia hingga bertugas di Bima, Kupang, dan Sumbawa Besar. Ia juga
telah mengajukan hasil karyanya ke berbagai pihak, namun belum ada
tanggapan. “Padahal tidak ada maksud apa-apa di balik kerja saya ini,
hanya ingin menunjukkan bahwa Hitler mati di Indonesia,” katanya mantap.
Bukan hanya Sosro yang mempunyai teori tentang pelarian Hitler dari
Jerman ke tempat lain, tapi beberapa orang di dunia ini pernah
mengungkapkannya dalam media massa. Peluang untuk berteori seperti itu
memang ada, sebab ketika pemimpin Nazi tersebut diduga mati bersama Eva
Braun tahun 1945, tidak ditemukan bukti utama berupa jenazah!
Adalah tugas para pakar dalam bidang ini untuk mencoba mengungkap
segala sesuatunya, termasuk keabsahan dokumen yang dimiliki oleh
Sosrohusodo, nyonya S, atau makam di Ngagel yang disebut sebagai tempat
bersemayamnya dr. Poch.
Mungkin para ahli forensik dapat menjelaskannya lewat penelitian
terhadap tulang-tulang jenazahnya. Semua itu tentu berpulang pada
kemauan baik semua pihak. emboech.wordpress.com/thesun/rr
KOMENTAR