Wartawan Indonesia Kena Bom Taliban, Dirawat di Dubai, Andi Mengeluh Kesakitan
SOLO - SURYA - Setelah Rabu (12/8) terkena bom yang ditanam Taliban di Afghanistan, Andi Jatmiko, 44, kini dirawat di rumah sakit di Dubai. Timur Tengah.
Videografer asal Indonesia yang bekerja untuk Associated Press Television Network (APTN) --kantor berita Amerika Serikat (AS) yang berpusat di London-- itu diperkirakan bakal dirawat hingga enam pekan mendatang.
Kondisi terkini Andi Jatmiko tersebut disampaikan Andi kepada sang ibu, Ny Ermestin, 65, melalui telepon. “Tadi (kemarin, Red) sekitar jam 12.45 WIB Andi menelepon saya dari Dubai,” kata Ny Ermestin ketika dihubungi Surya, Kamis (13/8) siang.
Ny Ermestin tinggal di Kampung Pucangsawit RT 03/RW 05, Jebres, Solo, Jawa Tengah. “Tadi Andi juga bilang bahwa tiga tulang rusuknya patah dan kakinya terluka,” tambahnya.
Seperti diberitakan, Andi Jatmiko --akrab disapa Andi Riccardi-- mengalami luka akibat kena ledakan bom yang ditanam Taliban di Afghanistan, Selasa (11/8) waktu setempat atau Rabu (12/8) WIB. Saat kejadian, Andi sedang menempel pada pasukan AS yang berpatroli di dekat Kandahar, Afghanistan.
Selain Andi, ada juga fotografer AP asal Spanyol, Emilio Morenatti, ikut dalam kendaraan yang sama. Kala itu, ketika melintas di suatu jalan, kendaraan militer AS yang mereka ikuti melindas bom dan terpelanting. Emilio lebih parah daripada Andi, kakinya harus diamputasi karena tidak bisa disatukan lagi. (Surya, 13/8).
Mengutip penjelasan Andi, Ny Ermestin menyebutkan, setelah luka akibat ledakan bom, Andi dan Emilio Morenatti serta beberapa korban luka lain serta korban tewas dievakuasi oleh pihak pasukan AS menggunakan jet khusus, kemudian dibawa ke Dubai. Dari sekian banyak korban luka itu, Andi mengalami luka paling ringan.
“Tapi meski lukanya terhitung paling ringan, waktu menelepon tadi dia juga mengeluh merasakan sakit yang luar biasa. Kemungkinan Andi harus dirawat selama enam pekan,” kata Ny Ermestin, yang sehari-hari di Solo tinggal bersama seorang cucu.
Andi adalah anak ke dua dari lima bersaudara pasangan almarhum Lastyo Jatmiko-Ermestin. Bersama keluarganya, Andi bermukim di Jakarta. Andi selama ini sering meliput di daerah konflik maupun daerah perang, termasuk Irak.
Menurut fotografer asal Solo yang juga kawan dekat Andi, Blontank Poer, Andi sudah menjelajah banyak daerah konflik dalam negeri --seperti Ambon dan Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia-- serta medan-medan perang di luar negeri. Salah satu pengalaman menarik Andi yang diketahui Blontank adalah keberhasilan bapak tujuh anak itu menempel Hasan Nasrallah, panglima tertinggi Laskar Hisbullah.
“Ketika pasukan Hisbullah mengusik ketenangan Israel, lobi-lobi yang dilakukan Andi mengantarkannya pada keberhasilan memperoleh izin dari Hasan Nasrallah. Lima hari dia ikut gerilyawan itu, hingga ke sarangnya,” kata Blontank kepada Surya, mengutip pengalaman Andi yang pernah dikisahkan karibnya tersebut.
Pekerjaaan Berat
Ny Ermestin terakhir kali bertemu anak tercintanya tersebut sekitar empat bulan lalu, ketika Andi pulang ke Solo.
“Waktu pulang itu dia cerita ke saya bahwa dia akan berangkat meliput ke Afghanistan. Tanggal 25 Juni dia di Dubai tapi belum bisa masuk Afghanistan karena visanya belum jadi. Menurut Andi, pekerjaan di sana berat, karena suhu udara panas, sampai 51,5 derajat celcius,” tuturnya.
Menurut Ny Ermestin, selama ini dirinya merasa tenang karena saat meliput di Afghanistan --wilayah perang-- Andi sering menempel kepada pasukan AS. “Kalau ikut tentara Amerika Serikat kan aman,” jelasnya.
Ternyata, meski sudah menempel pasukan AS pun Andi masih terkena ledakan bom --dan terluka parah. “Saya sempat syok dan sedih saat pertama kali mendengar Andi kena bom. Apalagi, waktu menelepon yang pertama, sekitar jam 07.00 pagi, Andi hanya bilang 'Ma, aku Andi' dengan napas tersengal-sengal, kemudian sambungan telepon terputus,” katanya.
Meski bertugas di luar negeri, Andi rajin menghubungi sang ibu melalui ponsel --baik dengan berbicara atau mengirim SMS. “Hampir tiap hari dia menghubungi saya di handphone,” papar Ny Ermestin.
Bagi Andi, luka di Afghanistan ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, tahun 2000 silam, dia luka kena tembak di sana. Hanya, kala itu luka Andi relatif tidak parah karena dia menggunakan rompi antipeluru.
“Justru saya yang syok berat dan masuk rumah sakit di daerah Tebet, Jakarta, ketika mendengar Andi kena tembak. Kala itu saya masih tinggal di Jakarta. Beberapa saat kemudian saya pindah ke Solo atas saran dokter agar saya lebih tenang,” kenang Ny Ermestin.
Sementara itu, pihak Departemen Luar Negeri (Deplu) RI juga ikut memantau keberadaan Andi. Direktur Perlindungan WNI Deplu RI, Teguh Wardoyo, kepada detik.com mengatakan bahwa Andi yang dirawat di rumah sakit di Dubai kini dalam kondisi stabil.
"Kami juga sudah kontak KJRI Dubai untuk membantu memfasilitasi visa untuk keluarga korban," ucap Juru Bicara Deplu RI, Teuku Faizasyah. jun
KOMENTAR