Kamis, 28 Mei 2026

Mbah Surip Meninggal Karena Kelelahan

Tayang:
JAKARTA- SURYA- Dimakamkan Semalam di Padepokan WS Rendra . Penyanyi eksentrik dengan rambut gimbal mirip Bab Marley, Urip Achmad Riyanto atau lebih dikenal dengan nama Mbah Surip meninggal mendadak, Selasa (4/8). Dua hari sebelumnya, pencipta dan penyanyi lagu 'Tak Gendong' ini masih sehat, sempat naik panggung di Yogyakarta. Penyebab kematian orang yang sedang naik daun ini diduga gagal jantung akibat kelelahan menghibur dari panggung ke panggung dan dari stasiun televisi ke stasiun televisi lainnya, atau dikejar-kejan fans. Dokter Satyaningtyas, dokter jaga pada Instalasi Gawar Darurat (IGD) RS Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) TNI Angkatan Darat di Jalan Raya Bogor, Kramat Jati, Jakarta Timur mengatakan, ketika tiba di rumah sakit pukul 10.30 WIB, Mbah Surip sudah dalam keadaan meninggal. "Ketika tiba di rumah sakit, badannya masih hangat. Tapi melihat pupil matanya menunjukkan kalau dia (Mbah Surip) sudah meninggal. Detak jantungnya nggak berdetak. Sempat dibantu perawat-perawat dengan terapi kejut jantung-paru, tapi tidak menolong. Ya, sudah kami nyatakan meninggal dan langsung kami kasih tahu kepada keluarganya. Jam 11.40 WIB, dibawa ke rumah Mas Mamiek (Prakoso Srimulat)," ujar dr Tyas. "Begitu datang, kami langsung resistusi jantung dan paru-paru, kemudian beri nafas buatan. Tapi saya lihat kupingnya membesar dan sudah tidak bernafas lagi. Dugaan kuat secara medis, itu disebabkan jantung. Ada penyumbatan di pembuluh jantungnya," kata dr Satyaningtyas. Mbah Surip, laki-laki kelahiran Mojokerto, Jatim, 5 Mei 1949 saat itu diantarkan Mamiek Srimulat, dan Farid, anak sekaligus asisten Mbah Surip. Menurut dr Tyas, ketika itu dari mulut Mbah Surip sempat keluar seperti air liur. Jadwal padat dan ditambah kejaran pengemar, wartawan maupun pengelola program cukup membuat Mbah Surip kecepekan. Untuk itulah dia memilih bersembunyi ke rumah Mamiek di kawasan Kampung Makassar, Jakarta Timur yang letaknya memang agak tersembunyi agar lepas dari kejaran pengemar maupun pekerja infotaiment. Mamiek mengungkapkan begitu sampai di rumahnya, Senin (3/8) sekitar pukul 15.00 WIB, Mbah Surip mulai mengeluh kecapekan. Meskipun dalam kondisi sakit, almarhum datang dengan diantar menggunakan sepeda motor yang dikendarai anaknya, Farid. Kedatangan ke rumah Mamiek ini kali ketiga. Kunjungan sebelumnya tidak sempat bertemu Mamiek. "Aduh, ampun, badan saya capek semua. Aku kecapekan. Saya di sini untuk bersembunyi. Kalau di sana (tanpa menyebut tempat) aku dikejar-kejar terus sama wartawan sama program, pengemar. Saya hanya pengen istirahat," ungkap Mamiek kepada wartawan menirukan keluhan Mbah Surip. Karena datang dalam kondisi pucat, lantas Mamiek meminta Mbah Surip beristirahat. Namun dia rupanya memilih tidur di lantai. Alasannya, dia tidak bisa tidur kalau di kasur empuk. Begitu Mamiek mengetahui Mbah Surip tidur di lantai, ia memintanya pindah ke satu kamar di rumah tersebut. Hanya beberapa saat di dalam kamar, Mbah Surip terbangun dan menemui Mamiek dan mengajaknya ngobrol. Sekitar pukul 17.00 WIB, kondisi kesehatannya menurun dan wajahnya kian pucat. Mamiek memanggil dokter ke rumah karena Mbah Surip tak berkenan dibawa ke rumah sakit, karena kalau ketahuan akan dikejar-kejar wartawan. Setelah diperiksa dokter, Mbah Surip memang kecapekan dan diketahui perutnya kembung Sayangnya, Mbah Surip tetap nekat minum kopi, walaupun dilarang. Setelah dokter pulang, kondisinya membaik dan napas tidak sesak. Kemudian dia tidur di kamar hingga pagi. Pagi harinya, dua jam sebelum meninggal atau pukul 07.00 WIB, Mamiek kembali bertemu dengan almarhum yang tengah makan bubur ayam di depan rumah bersama dengan salah seorang anaknya. Saat itu Mbah Surip mengungkapkan kesenangannya bisa menghabiskan bubur ayam. "Habis banyak mas," ungkap Mbah Surip. Sempat Pingsan Mamiek kembali beraktuivitas di lantai atas, sementara Mbah Surip kembali ke kamar tidur bersama dengan anaknya, Farid. Tiba-tiba Mamiek mendengar anak Mbah Surip berteriak memanggil-manggil yang mengatakan kondisi bapaknya lemah dan dari mulutnya mengeluarkan banyak busa. "Lalu saya masuk ke dalam kamar dan melihat sudah dalam kondisi tidak sadar rumah mengoncang-goncang kayak orang pingsan. Hal itu membuat saya bingung dan teriak-teriak ke tetangga lalu dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dokter lantas memeriksa di bagian kelompak matanya. Lantas dokter mengatakan mbah Surip sudah tidak ada," ungkap Mamiek berkaca-kaca. Cucu Lestari, 35, anak angkat yang tinggal serumah dengan Mbah Surip, mengisahkan hari-hari Mbah Surip menjelang kematiannya, memang sedang sakit. Ia mengeluh sakit pada Minggu (2/2) sepulang dari Yogya. Ia pulang ke rumah kontrakannya di Jalan SMA 64 No 79, RT 02 RW 03, Cipayung, Jakarta Timur. Di rumah sederhana itulah, Mbah Surip tinggal sejak 2003 bersama Cucu dan anak kandungnya, Farid. Kondisi fisik Mbah Surip lemah. Jalannya sempoyongan. Wajahnya pun pucat. Ia mengeluh tak enak badan. Perut dan dadanya sakit. Ia pun tak menolak saat dua anaknya menawarkan jasa mantri pengobatan. "Padahal biasanya dia paling sering nolak kalau diajak berobat," ujarnya.Sang mantri, meminta Mbah Surip istirahat penuh. Minggu malam, Mbah Surip pun tak menolak saat diminta tidur di atas kasur. Padahal selama ini paling antitidur di kasur. Ia biasanya tidur hanya beralas tikar. Hasil otopsi menunjukkan, Mbah Surip meninggal akibat gagal jantung. Kondisi itu diduga akibat kebiasaan buruk Mbah Surip mengonsumsi rokok dan kopi kental setiap waktu, juga kelelahan akibat padatnya aktivitas manggung dalam beberapa bulan terakhir. Terlambat Tenar Mbah Surip terbilang terlambat terkenal. Laki-laki yang wajatnya mulai keriput ini diperkirakan berusi 61 tahun, dan baru mencuat ke permukaan kurang lebih tiga bulan lalu, lewat lagunya berjudul "Tak Gendong". Dia sebenarnya sejak lama menjadi seniman. Lagu ini sendiri dicipta dan dinyanyikan Mbah Surip tahun 1980-an. Laki-laki yang sering menyapa fans dengan salam yang terkenal dengan "I Love You Full", bergabung dengan komunitas seniman. Baik komunitas seniman Teguh Karya, Aquila, Bulungan, sampai komunitas seniman di Taman Ismail Marzuki. Dengan gaya slebor dan tawa khasnya, Mbah Surip kemudian menapak dunia rekaman. Ia lalu merekam albumnya di cakram rekaman. Antara lain Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan Barang Baru (2004). Lagu 'Tak Gendong' yang dicipta dan dinyanyikan Mbah Saurip berirama reggae. Riang, dan kocak. 'Tak Gendong' dalam langgam Jawa, artinya mari saya gendong. Lagu ini bertutur tentang kebersamaan dan kecintaan kepada pujaan hati, sedemikian rupa, si pelantun rela capai menggendong si pujaan hati dan tidak membiarkannya menumpang moda angkutan sekalipun pesawat terbang. Riang, kocak, dan singkat. Itulah kekuatan lagu ini. Tidak heran, begitu muncul ke publik kurang lebih tiga bulan lalu, kendati direkam tahun 2003. Lagu ini membuat Mbah Surip laris manis di layar televisi, dari panggung ke panggung, bahkan digemari sebagai ring tone atau nada sambung pribadi telepon seluler. Fenomena Mbah Surip terus mewabah. Sukses pria gimbal ini ternyata diselubungi kisah hidup yang cukup pahit. Menurut penyanyi dangdut Jhony Iskandar, Mbah Surip ditemukan di kawasan Blok M Jakarta pencipta lagu dangdut Kuntet Mangkulangit. Di situ, Mbah Surip ngamen dengan alat musik buatan sendiri dari kotak sabun. Usai ngamen, ia biasa tidur di emperan toko beralaskan kardus bekas. Hal ini membuat Kuntet iba, hingga akhirnya Surip disuruh tinggal di rumah Kuntet. Dari rumah Kuntet, Mbah Surip tinggal di rumah Jhony di awal tahun 1990. Saat itu, Mbah Surip ikut mengasuh Dewo, anak Jhony dari Mega Mustika. Dari sinilah Jhony sering mendengarkan Mbah Surip menyanyikan lagu Tak Gendong kala mengasuh Dewo. Ketika Jhony bercerai dengan Mega, tutur Jhony, Mbah Surip kembali tinggal di jalanan. Ia senang tinggal di Bulungan, Ancol, dan TMII. Soal usia Mbah Surip, Jhony tak tahu pasti. "Kalau ditanya soal umur, dia hanya bilang lahir pada 5 Mei, tanpa tahun. Menurut perkiraan saya, usianya sudah di atas 70 tahun." Keunikan lain Mbah Surip adalah tak pernah minum air putih. Hanya kopi hitam sedikit manis. Sebelum dan sesudah makan, sebelum kerja dan tidur, selalu minum kopi. "Makanya suka saya panggil manusia luwak," kata Jhony. jpb/dic/esy/cr3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved