Jumat, 10 April 2026

Buku Biografi La Nyalla Mataliti, Antara Mitos Preman dan Paranormal

Surabaya - SURYA-Sejumlah orang bisa jadi merinding mendengar nama La Nyalla Mattalitti. Namanya tersohor dengan mitos premanisme. Lelaki keturunan Bugis ini memimpin organisasi pemuda Patriot Pancasila, yang disegani sejak Orba karena mitos yang melekat ini. Nyalla berusaha mendekatkan diri dengan buku yang merekam perjalanan hidupnya dalam Hitam Putih yang ditulis budayawan Sam Abede Pareno. Buku itu diluncurkan, Minggu (10/5), di RM Taman Sari sebagai kado ulang tahun ke-50. Sejumlah tokoh hadir di antaranya Khoififah Indarparawansa, anggota DPRD Jatim, Sabron Djamil Passaribu, Pemred Harian Surya, Rusdi Amral. ”Begitu mengenal lebih dekat maka bayangan kita tentang dia buyar,” kata Komisaris Utama PT Indraco, MT Junaedy dalam kesaksiannya di buku biografi ini. Buku setebal 115 halaman ini merekam jejak Nyalla. Dia dikenal bengal. Nyalla kecil kerap membuat ribut, pernah membawa sangkur untuk berkelahi, begitu bengalnya sampai orang tuanya langgan dipanggil guru BP. Supaya jera, Nyalla sempat dipondokkan ke Bekasi yang ternyata tidak awet. Namun kelak dia rindu dan kembali ke pondok itu saat remaja. Kakeknya, Haji Mattalitti adalah saudagar Bugis-Makassar terkenal di Surabaya, bapaknya Mahmud Mattalitti SH adalah dosen Fakultas Hukum Unair yang pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan FH Unair. Namun menurut buku ini Nyalla tidak pernah menggunakan nama besar dan kekayaan keluarganya dalam hidupnya. Menginjak dewasa, dia memilih nyantrik dan tinggal di kompleks Makam Sunan Giri Gresik. Dia bekerja serabutan. Pernah menjadi sopir angkot Wonokromo- Jembatan Marah dan sopir minibus L300 Surabaya-Malang. Sampai menikah pun nasibnya tidak berubah. Di kompleks makam wali ini, dia menghimpun banyak preman diajak mendekatkan diri kepadaNya. Hasilnya dia memiliki ratusan pengikut yang setia sampai kini. Namun buku ini tidak menjelaskan bagaimana bisa mengenal banyak preman itu. Dia hanya menjelaskan punya kemampuan pengobatan alternatif alias paranormal. Keahlian ini diasah sejak di ponpes di Bekasi. Pasiennya mulai orang pinggiran sampai dosen. Namun karena emoh dicap dukun, Nyalla tidak praktik lagi. ”Kalau Anda melihat saya seperti sekarang, itu karena tekad saya bulat. Kerja sungguh-sungguh,” kata pengusaha konstruksi ini. Dia mengatakan titik awal sebagai pengusaha adalah kisah nekadnya membuat pameran kreativitas anak muda tahun 1989. Pameran yang disokong PT Masipon itu bangkrut Rp 180 juta gara-gara tidak ada peserta. Di sinilah Nyalla mempertaruhkan hidup dan namanya. Dia dikejar-kejar penagih hutang. Kerugian itu begitu memukul, bahkan Nyalla yang sempat akan 'lempar handuk' dan bersedia mengangsur Rp 250.000 per bulan. Dia melobi Maspion lagi, meminta sponsor senilai Rp 5 juta untuk menggelar pameran. Kelak pameran ini dikenal dengan nama Surabaya Expo. Kegiatan yang berlangsung sejak 1990 itu berkibar dan menjadi agenda tahunan sampai 2001. Di sinilah dia dikenal banyak pengusaha dan birokrat. “Kalau saya mundur pada 1989 lalu. Saya tidak akan seperti sekarang,” katanya./Kuncarsono Prasetyo
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved