Kamis, 7 Mei 2026

Warna-warni Kehidupan

Tayang:
ORANG bilang dunia seperti panggung sandiwara. Banyak kisah dan cerita. Warna-warni kehidupan di dunia ini pasti penuh dengan warna. Bukan warna merah, kuning atau hijau saja, tapi seperti warna pelangi. Warna itu dalam arti penuh dengan sesuatu yang berbeda dan bervariatif antara kehidupan yang kita alami dengan kehidupan orang lain dan berbagai hal yang sering terjadi selama dalam menjalani hidup. Ada dua hal di dunia ini yang menarik untuk dibahas dalam berbicara mengenai masalah ini, yaitu kebahagiaan dan kesedihan, keduanya memang sangat bertolak belakang tetapi keduanya juga berjalan bersama mewarnai kehidupan ini. Setiap orang pasti pernah mengalami kebahagiaan maupun kesedihan. Dua kata ini bagai tak terpisahkan, bukti kalau Tuhan itu sangat adil. Dia menciptakan kebahagiaan juga kesedihan. Sama halnya, Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan menciptakan manusia wanita sebagai pasangan dan pendamping hidup. Namun, perlu kita ketahui bahwa di dunia ini porsi antara kebahagiaan dan kesedihan itu sama atau seimbang, meskipun tidak sedikit dari kita beranggapan bahwa kesedihan itu lebih banyak daripada kebahagiaan. Suatu hari saya pernah berdialog dengan seorang teman. Katanya,”Kehidupan di dunia ini tidak ada yang abadi. Ada hidup ada mati, ada kaya ada miskin. Ada bahagia dan ada sedih semua itu pemberian dari Tuhan yang harus disyukuri oleh setiap manusia dan suatu saat pasti kita akan mendapatkan hikmahnya”. Setelah belajar dari teman itu, saya mulai berubah dan melihat kebahagiaan yang luar biasa dalam kehidupan. Saya yakin, antara kebahagiaan dan kesedihan itu seimbang. Alangkah tenteram dan nyamannya, jika di negeri setiap manusia bisa belajar bersyukur akan nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Setiap hari, saya bisa makan enak tanpa mendapat kesulitan. Bagi seorang yang miskin dan hidup di jalan yang tidak punya rumah dan keluarga sulit untuk bisa makan. Beberapa dari kita pasti beranggapan, kebahagiaan tentu dimiliki oleh mereka yang kaya. Anggapan menjadi salah besar jika kita berkata “pasti” karena letak kebahagiaan bukan hanya pada kekayaan semata melainkan rasa syukur yang tinggi. Jadi, bagi saya, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang kita miliki dan orang lain dapat menikmati kebahagiaan itu. Bagikanlah kebahagiaan untuk mereka yang memerlukannya karena tidak selamanya kebahagiaan menjadi sahabat kita. Ketika kita dalam mendapat kesedihan, orang lain dapat mengajarkan kepada kita untuk menghadapi kesedihan itu. Oleh Moh Faisol Mahasiswa Universitas Islam Malang paiz_cemp@yahoo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved