Teman Korban, Nyekar Pohon maut
Tayang:
BATU | SURYA-Mobil nahas yang ditumpangi sembilan mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Malang, diduga menyalahi peraturan kecepatan jalan. Kecepatan diduga lebih dari 120 Km per jam saat Taruna F500 RVT dengan Nopol DK 1070 XB itu melaju di Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Padahal, TKP merupakan kawasan perkotaan, di mana kecepatan kendaraan yang diizinkan hanya boleh 40 Km per jam. “Kalau melihat TKP, jelas mobil melanggar kecepatan yang ditentukan.
Karena kendaraan sudah kencang ditambah dengan kondisi jalan yang menurun, ini membuat laju kendaraan bertambah kencang,” ungkap Heri Suprapto, Kasi Lalu Lintas UPT LLAJ Malang, saat melakukan penyelidikan di TKP, Jumat (17/4).
Menurut Heri, traffic light, juga diindikasikan sebagai salah satu penyebab mengapa akhirnya mobil tetap berjalan tetap kencang. Namun Dishub Jatim dan pusat belum bisa memastikan apakah saat kejadian traffick light di kawasan perempatan Songgokerto memang mati atau pengemudi, Anang Kasim, 24, sengaja menerobos traffic light karena situasi lengang.
“Jika pengemudi memematuhi traffic light maka kecepatannya tak akan begitu kencang saat sampai di TKP. Karena biasanya pengemudi akan memulai dengan persneling awal lagi untuk menambah kecepatannya,” beber Heri.
Ketika ditanya apakah ada faktor kelelahan atau mengantuk, Heri mengungkapkan, seharusnya sopir bisa terjaga sebelum sampai ke TKP. Pasalnya 200 meter dari TKP ada sejumlah pita kejut, yang menandai mereka memasuki kawasan Pemkot Batu.
“Dan pita kejut yang mereka lalui ada dua, yakni sebelum dan sesudah Pemkot Batu. Seharusnya dua pita kejut itu sudah cukup untuk membangunkan pengemudi,” ujarnya.
Salah satu penjelasan yang masuk akal, pada tahap pertama penyelidikan adalah karena faktor human error. Di mana pengemudi terbukti lalai dalam mengemudi. Namun Dishub juga berniat akan menyelidiki kondisi mobil nahas itu, termasuk bahan pembuat rangka kendaraan. “Sayangnya, hingga sore ini kami belum dapat izin dari Polres Batu untuk melakukan penyelidikan terhadap mobil itu,” akunya.
Hasil penyelidikan ini nantinya akan digabungkan dengan data milik tim Laboratorium Forensik Polda Jatim. Dan hasil penyelidikan akan menjadi evaluasi bagi Dishub dalam memasang papan peringatan sekitar lokasi agar pengendara lebih hati-hati.
Nyekar Pohon Maut
Sementara itu, di pohon tempat mobil Taruna yang ditumpangi 9 mahasiswa itu sejak Jumat (17/4) ramai dikunjungi warga serta beberapa kelompok teman korban dari UMM maupun Unibraw. Bahkan tujuh orang teman para korban melakukan ritual tebar bunga di sekeliling pohon tempat mobil yang ditumpangi para korban terbelah.
Beberapa teman korban tampak masih tak percaya dengan pemberitaan di koran. “Nggak mungkin mereka mabuk-mabukan di vila. Sebab Rabu (15/4) siang Nia berencana mau ke Kediri,” ungkap seorang teman korban usai menyekar di pohon maut itu. Usai nyekar para teman-teman korban juga melakukan doa bersama.
Sedangkan keluarga Ririn Erniati, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unmer Malang kemarin mendatangi rumah kos tempat anaknya tinggal di kawasan Landungsari. Mereka langsung mengemasi semua barang-barang milik Ririn Erniati.
Usai mengemasi barang pribadi seperti televisi, boneka bantal, pakaian serta buku-buku korban, rombongan yang terdiri dari paman serta ayah Ririn itu pun langsung meluncur ke Polres Batu. “Kami ke sini untuk menanyakan kejelasan kejadian yang menimpa anak saya. Sekaligus untuk menanyakan apakah ada asuransi yang bisa kami terima sekeluarga,” ungkap Supardi, ayah Ririn Erniati.
Menurutnya, sebelum kejadian tragis yang menimpa anak pertamanya itu, Ririn tidak menunjukkan sikap yang lain dari biasanya. Terakhir Ririn pulang sehari sebelum pencontrengan yakni Rabu (8/4) dan kembali lagi ke Malang Jumat (10/4) pagi.
“Tak ada firasat apapun bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Hanya saja sudah tiga minggu berturut-turut saya mimpi didatangi almarhum ayah saya. Semasa hidupnya, Ririn memang cucu kesayangannya,” kenang Supardi.
Di mata keluarga Ririn merupakan anak yang pendiam dan dewasa. Apalagi sejak kuliah, dia jarang menyusahkan keluarga, karena Ririn juga nyambi jadi sales promotion girls (SPG) sambil kuliah.
Bahkan tak jarang, saat pulang kampung, Ririn juga memberikan uang kepada ibunya untuk membantu kehidupan mereka. “Maklum saya hanya tukang kebun di Prigen. Jadi hidup kami yang sederhana,” tandasnya.
Proposal Skripsi Ditolak Dosen
Sehari setelah tragedi kecelakaan maut yang menewaskan sembilan mahasiswa asal perguruan tinggi ternama di Malang, berbagai ekspresi duka cita nampak di masing-masing kampus para korban.
Di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya, tempat korban Maretha Medani Chryza berkuliah sejak tahun 2002, tidak ada seremoni khusus. Menurut Pembantu Dekan III, Dr M R Khairul Muluk S Sos, para dosen bersama karyawan kampus hanya melayat ke rumah duka korban.
Suasana duka cita juga tidak terlalu nampak di kampus. Beberapa mahasiswa yang ditemui di sekitar kampus FIA, banyak yang belum tahu bahwa ada seorang civitas FIA ikut menjadi korban. ”Saya kira wajar, karena teman-teman korban rata-rata sudah lulus,” ujar Muluk.
Lain di UB, suasana duka lebih kentara di kampus UMM. Pihak kampus bersama mahasiswa lain mengadakan salat ghaib selepas salat Jumat. ”Sebelum kuliah, para dosen juga sempat mengajak mengheningkan cipta dan berdoa bersama untuk para korban,” kata Nasrullah, Kepala Humas UMM sekaligus dosen wali korban Meutia 'Memey' Sony Agustin.
Menurut Nasrullah, Memey tengah mengerjakan skripsi membahas sebuah iklan pemutih kulit yang dibintangi artis Bunga Citra Lestari. ”Dia membahas citra perempuan melalui metode semiotik. Itu termasuk sulit,” ujar Nasrullah.
RI, mahasiswa Ilmu Komunikasi bidang Audio Visual yang meminta namanya diinisialkan, mengaku sempat diminta Memey untuk mengantar ke kosnya. ”Setahu saya, sehari sebelum berangkat ke Batu, dia sempat sedih, karena proposal skripsinya sempat ditolak dosen pembimbing,” ujar mahasiswa ini.
Namun, dia sendiri mengaku tidak tahu mengenai kehidupan pribadi Memey. ”Wah, kalau soal itu maaf,” katanya. Hanya saja, dia tahu bila Memey punya banyak teman, baik di dalam maupun luar kampus.
Sementara di Unisma, sebuah tulisan duka cita pada kertas putih yang ditujukan untuk korban Roissudin, terpampang di kantor jurusan FIA.
Diselimuti Aura Mistik
Aura mistik menyelimuti kasus kecelakaan yang menimpa sembilan mahasiswa yang merayakan pesta ulang tahun salah satu temannya. Setidaknya, ada dua lokasi yang pernah didatangi para korban yang memang terbilang cukup angker.
Yakni di Tempat Kejadian Perkara (TKP), yang merupakan langganan kecelakaan yang cukup parah. Bahkan, baru dua bulan yang lalu juga terjadi kecelakaan sepeda motor di lokasi yang berdekatan.
Menurut warga sekitar, di sekitar Km 7 dan 8 itu memang ada “penunggunya” sehingga tak jarang, kecelakaan yang terjadi penyebabnya banyak yang tak masuk akal. “Cerita mistik itu sudah banyak diketahui warga sini,” ungkap Sugiono, warga Jl Panglima Sudirman, Kamis (16/4).
Menurutnya, tak hanya Km 7 hingga 8 yang rawan kecelakaan. Km 13 yang berada di kawasan Jl Raya Beji, juga menyimpan banyak cerita mistik. “Setidaknya di dua ruas jalan raya itu yang terdapat cerita mistiknya. Dan sebagian besar memang terbukti, setiap tahun selalu saja ada yang kecelakaan parah dan meninggal di sana,” bebernya.
Seorang warga Songgoriti, Wondo, memprediksi bahwa dua perempuan korban kecelakaan diikuti lelembut penunggu jalan masuk ke gang tempat vila yang mereka sewa berada. Biasanya, lelembut akan mengikuti jika mereka melontarkan kata-kata kasar dan jorok di kawasan itu.
“Dari cerita yang saya dengar, gang masuk ke sini itu ditunggu oleh dua lelembut perempuan. Jika ada yang mengusik mereka akan diikuti, dan biasanya berbuntut petaka bagi kelompok yang diikutinya,” ungkapnya.st11/k3
KOMENTAR