Jumat, 8 Mei 2026

Gara-gara Layangan Nyaris Buta

Tayang:
Sidoarjo | Surya-Layang-layang kembali memakan korban. Kali ini bukan benangnya melainkan layang-layang itu sendiri. Gara-gara tersambar layang-layang, Arya Benu Chavvah, 6, nyaris mengalami kebutaan pada salah-satu bola matanya. Pada Rabu (25/3) siang, bocah yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) itu sedang asyik melihat layang-layang yang diterbangkan di lapangan dekat rumahnya di Desa Keboan Sikep, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo. Tanpa diduga, sebuah layang-layang yang hendak diterbangkan, tiba-tiba menukik dan menyambar mata kiri Benu. Layang-layang itu melukai kornea dan sklera mata Benu, dengan luka robek sekitar 0,5 milimeter (mm). Murid TK Dharma Wanita Keboan Sikep itu spontan menjerit kesakitan. “Sakit dan perih. Mata kiri saya langsung tidak bisa untuk melihat,” ungkap Benu ketika ditemui di rumahnya. Menurut Benu, setelah mengenai matanya, oleh pemainnya (bernama Hadi, 14) layang-layang itu langsung ditarik dan seketika itu pula mata Benu mengeluarkan darah. Tangis Benu pun pecah, dan membuat sejumlah orang yang bermain-main laying-layang di lapangan itu terhenyak. “Kejadian itu tak sengaja. Saat akan diterbangkan, tiupan angin membuat layang-layang saya berputar dan sulit dikendalikan, sehingga kemudian mengenai Benu.” tutur Hadi. “Kejadiannya cepat, saya tidak jelas melihatnya tapi tiba-tiba ada suara anak kecil menangis sambil memegangi mata kirinya yang mengeluarkan darah,” ungkap Ganda, salah satu warga yang ikut bermain layang-layang. Arif Kusgiarto, ayah Benu mengatakan bahwa kejadian tersebut dianggapnya sebagai kecelakaan dan tidak disengaja. “Peristiwa ini murni kecelakaan. Namun, kejadian ini bisa jadi pelajaran orang lain agar lebih waspada terhadap layang-layang,” kata Arif. Sambaran layang-layang Hadi itu mengenai sklera, yaitu lapisan dalam mata yang merupakan selaput keras dengan lapisan berwarna putih untuk melindungi mata bagian dalam. Sklera robek hingga 0,5 milimeter. Selain itu juga melukai sedikit kornea mata -- selaput bening yang merupakan lapisan terdepan mata untuk menerima rangsangan cahaya. “Syukur cepat ditangani oleh dokter, sehingga tidak sampai menimbulkan cacat permanen,” tutur Arif. Menurut Arif, segera setelah kejadian itu, dirinya membawa Benu ke RS Mata di Undaan Surabaya. Di sana, Benu ditangani spesialis mata dr Farida Munir. “Dokternya sendiri mengatakan, telat 2 menit saja penanganan terhadap Benu, anak saya ini akan mengalami kebutaan atau cacat permanen pada mata sebelah kiri,” jelas Arif. Hingga kemarin, mata kiri Benu masih terlihat merah dan sesekali mengeluarkan darah. “Rasanya masih nyeri,” ucap Benu lirih. Berdasarkan catatan Surya, dalam dua tahun terakhir, kecelakaan yang disebabkan oleh layang-layang terjadi beberapa kali di Jatim. Yang paling fatal adalah tewasnya Septian Eko Hadi Noto, 22, setelah lehernya robek sepanjang 20 cm dengan kedalaman 5 cm akibat tersayat benang layang-layang putus. Eko tersambar benang layang-layang di Jl Bandung, Desa Karangkates, Sumberpucung, Kab. Malang, pada 25 Mei 2008. Menurut dr Armanto Siduhutomo SpM dari RS Mata Undaan, Surabaya, dalam kasus seperti yang dialami Benu, proses penyembuhannya tidak memerlukan waktu lama karena penanganan telah dilakukan cepat. Selama 2 x 24 jam, pemberian obat oles atau salep yang tidak mengandung silica (sejenis zat yang ada pada obat tetes mata) akan mampu membantu proses penyembuhan luka di mata yang diderita Benu. Ancaman kebutaan, jelas Armanto, bisa terjadi bila luka menembus bola mata yang berada di bagian dalam setelah kornea mata. Dalam bola mata itu memiliki syaraf-syaraf penglihatan yang penting. Menembus bola mata, memiliki kemungkinan memutus syaraf-syaraf tersebut, sehingga bisa mengakibatkan kebutaan.rie/reza
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved