Jumat, 10 April 2026

`Cucak Rowo` Diterkam Nyambik Saat Bowo Buang Hajat di Kali

Pasuruan | Surya-Langsung Dibawa ke UGD..Jarang terjadi seekor nyambik atau biawak air (nama latinnya varanus salvator) menyerang manusia. Dan, Supardi Wibowo menjadi salah-satu korban serangan langka nyambik itu. Bahkan, serangan yang dialami oleh warga Jl dr Wahidin Gang X, Kelurahan Petamanan, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, ini bisa jadi merupakan satu-satunya yang paling unik. Lelaki berusia 50 tahun ini diserang nyambik tepat di kemaluannya saat buang hajat di sebuah sungai kecil yang tak jauh dari rumahnya. Akibat terkaman dan gigitan nyambik itu, `cucak rowo` Bowo (demikian panggilan akrab Supardi Wibowo) robek di beberapa bagian dan dia harus dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr Soedarsono, Kota Pasuruan, untuk mendapatkan perawatan. Peristiwa fatal itu diawali sekitar pukul 17.00 WIB, Sabtu (14/3), saat Bowo menuju ke kali kecil, sekitar 5 meter dari belakang rumahnya untuk buang air besar. Buang hajat di kali memang sudah biasa bagi dia. Sewaktu asyik berjongkok sekitar 5 menit di atas jembatan kecil pendek di atas kali itu, Bowo mendengar suara kecipak air di dekatnya. Sepersekian detik kemudian, di dekatnya terlihat seekor nyambik seukuran kucing dewasa yang langsung menyambar paha kiri Bowo. Saat dia mencoba melepaskan gigitan, hewan jenis reptil itu malah dengan cepat mengalihkan gigitannya ke `burung` Bowo, sehingga membuatnya makin kesakitan. “Awalnya, suara kecipak air itu saya kira dari gerakan ular. Saat tergirap karena paha saya digigit, nyambik itu justru ganti menggigit kemaluan saya,” tutur Bowo, yang sebetulnya malu menceritakan peristiwa itu saat ditemui Surya di rumahnya, Selasa (17/3). Setelah dirawat dan beberapa hari istirahat untuk penyembuhan luka gigitan nyambik, baru kemarin Bowo bisa beraktivitas dengan agak normal. Selain membantu istrinya di warung milik mereka, sehari-hari Bowo juga mengayuh becak. Begitu digigit kemaluannya, Bowo berupaya melepaskannya. Tapi, gigitan nyambik tambah rapat dan nyokot. Bowo merasakan burungnya seperti dijepit tang. “Karena kesakitan, saya teriak minta tolong. Kebetulan ada seorang tetangga perempuan melihat. Bukannya menolong, ia malah takut dan lari mencari bantuan,” ucap Bowo. Dengan bantuan beberapa tetangga yang datang, nyambik itu berhasil dilepaskan dari 'burung' Bowo. Dengan menaiki becak tetangganya, suami Triyuni ini dibawa ke RSUD dr Soedarsono Kota Pasuruan yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat kejadian perkara (TKP). Paramedis langsung menanganinya. Melihat badan Bowo penuh darah, dokter jaga UGD yang menanganinya saat itu, dr Fitri dan sejumlah perawat, membersihkannya. Yang membuat dokter penasaran kok Bowo terus memegangi `burungnya`. Dokter baru mengetahui cerita sesungguhnya setelah mendapat penjelasan bahwa darah yang belepotan di tubuh Bowo berasal dari luka di `burungnya`, yang ternyata robek di beberapa bagian akibat gigitan nyambik. Dokter dan perawat sempat mengira luka-luka di `burung` itu terjadi karena pertengkaran Bowo dengan istrinya. Karena itu, mereka agak segan untuk mengorek lebih jauh, kecuali langsung memberikan pertolongan pertama. Ketika Bowo akhirnya mengaku bahwa robekan di penis itu akibat gigitan nyambik, dokter, para perawat dan keluarga pasien lain di kamar UGD itu langsung tertawa terpingkal-pingkal. “Benar, saya yang merawatnya dan kemaluannya robek. Meski tidak menjalani rawat inap, dia saya anjurkan untuk kontrol agar tidak terjadi infeksi,” jelas dr Fitri bersama sejumlah perawat di UGD yang tidak kuat menahan tawa saat ditanya Surya kemarin. Gigitan nyambik itu merobek kulit `burung` Bowo secara memanjang, mulai pangkal hingga ujung. Robek pada bagian bawah `burung`-nya yang membuat darah mengucur terus. “Untung `helm`-nya tidak robek, namun rasa sakitnya tidak ketulungan,” kata Bowo yang mengaku baru kali ini dia tahu ada `burung` digigit nyambik, dan apesnya itu dialaminya sendiri. Bowo menolak dijahit, sehingga `burung` itu hanya diolesi obat dan diperban agak menyeluruh. Namun, ia disuntik selain juga harus minum obat-obatan antibiotik, antinyeri dan pencegah infeksi. “Saat dirawat, kondisinya masih mengkerut. Tapi, pada malam hari, ukuran `burung` membesar karena bengkak. Dia kesakitan dan sulit kencing karena tertekan perban. Badannya juga meriang,” ucap Triyuni, istri Bowo, yang membuka warung kopi di ujung Jl dr Wahidin Gang X. Para tetangga dan sanak-kerabat yang mendengar peristiwa itu bergantian menengok Bowo. Akhirnya, cerita 'cucak rowo' Bowo dicokot nyambik ini menyebar dari mulut ke mulut. “Suami saya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Padahal dia sebetulnya pemalu,” imbuh Triyuni tentang suaminya yang telah memberinya dua anak itu. Kasus biawak air atau nyambik yang menggigit orang di Pasuruan, menurut dokter hewan (drh) Liang Kaspe bukan hal baru. Namun, untuk gigitan di kemaluan memang langka. Drh Liang mengatakan, serangan nyambik di Pasuruan itu bisa terjadi karena reptil tersebut sedang terancam atau terpojok, dalam hal ini oleh kehadiran Bowo. ”Binatang apapun, bila merasa terancam, dia akan mempertahankan diri. Dan untuk nyambik ya dengan menggigit,” ujar drh Liang, yang sehari-hari adalah Kepala Unit Rumah Sakit Hewan dan Pendidikan Setail, Surabaya, ketika dihubungi Surya. Kemungkinan gangguan terhadap nyambik itu bisa berupa ekor atau sarangnya terinjak atau tertutupi oleh makhluk lain -termasuk manusia. ”Dalam kasus di Pasuruan, mungkin juga kotoran dari buang hajat itu menutupi sarangnya sehingga nyambik merasa perlu melakukan perlindungan dengan menggigit,” jelas drh Liang. Biawak mengenali mangsanya lewat indra penciuman sehingga hidungnya moncong. Biawak yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia, kebanyakan adalah biawak air. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) sekitar 1 meter untuk yang dewasa. Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai. Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cecurut.st13/rie
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved