Senin, 4 Mei 2026

Tiga Kali ke Ponari, Encok Tetap Kumat

Tayang:
Pengobatan ala Ponari, dukun cilik Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, dengan batu ajaib yang dicelupkan air putih untuk diminumkan pasien, mampu menyedot puluhan ribu pasien. Lantas bagaimana kesaktian pengobatan itu? Mustahil bisa didata berapa persen pasien yang sembuh dan berapa persen yang gagal. Tapi sejauh pengamatan Surya, kesembuhan pasien sebagian besar hanya dirasakan atau diakui oleh pasien sendiri. Orang lain sulit menguji pasien itu sudah sembuh atau belum (kecuali dokter). Artinya, kesembuhan pasien Ponari umumnya bersifat subjektif. Sumini, 60, misalnya. Warga Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan, Jombang ini mengaku berobat ke Ponari dengan keluhan sesak napas. “Setelah minum air putih yang dicelup batu sakti, sekarang sakit saya sudah berkurang,” kata Sumini. Pengakuan Sumini ini sulit dibuktikan, karena secara fisik hampir tidak ada perbedaan, baik sebelum maupun sesudah berobat ke Ponari. Napas Sumini, dalam pandangan orang lain, tetap saja berat. Kemudian Sutrisno, 40, warga Sidorejo, Kecamatan Karangpakis, Kediri. Dia mengaku sakit maag. Tapi setelah satu kali datang ke praktik Ponari, penderitaannya agak berkurang. Itu sebabnya, dia kembali ke lokasi praktik Ponari agar kesembuhan bisa tuntas. Tapi selain dokter, siapa bisa menyatakan maag yang dideritanya berkurang. Hanya sekali Surya menemui pasien yang secara fisik bisa dikatakan ada perubahan. Itu pun jika penuturannya jujur. Pasien itu H Rosyid, 67, warga Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Rabu (4/2) lalu, dia tampak berjalan tertatih dituntun kerabatnya dari lokasi rumah Ponari ke tempat mobil sewaannya diparkir. Dia mengaku bersyukur karena sudah bisa jalan setelah minum air putih dicelup batu ajaib. Padahal, Rosyid mengaku lumpuh akibat stroke selama 10 tahun, dan untuk menuju lokasi pengobatan Ponari, dia harus digendong kerabatnya. Yang agak mengejutkan pengakuan Djamil, 65, tetangga Ponari. Sekitar sepekan lalu, pensiunan guru SD ini mengaku, anaknya bernama Luluk Jamilah, 35, yang sudah sekitar 10 tahun mengalami gangguan jiwa, mulai sembuh setelah berobat ke Ponari. Perkiraan Djamil, tingkat kesembuhan mencapai 50 persen. Tapi Djamil kemarin berkisah, kondisi Luluk drop lagi. Artinya, Luluk yang sebelumnya terlihat mulai sembuh dengan tanda-tanda mampu berkomunikasi, mau mandi dan sebagainya, sekarang kembali ke perilaku awalnya. Misalnya suka marah, menolak tidur di rumah, dan tidak mau berkomunikasi. “Tidak tahu, mungkin memang belum diberi kesembuhan oleh Allah SWT,” ungkap Djamil pasrah. Kegagalan serupa juga dialami Sutomo, 35, juga warga Dusun Kedungsari. Sutomo yang mengalami gangguan jiwa, menurut beberapa warga, pernah dibawa oleh adiknya, Sirwan, berobat ke Ponari. Tapi hingga sekarang, kondisinya tak ada perubahan. “Dia tetap saja suka berteriak-teriak. Karena takut mengganggu orang, dia ditempatkan di gubuk yang agak jauh dari permukiman warga,” kata warga Romadlon, warga setempat. Cerita Muhammad Amir, 25, lain lagi. Warga Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, Jombang, menderita sakit batuk sudah cukup lama. Datang ke tempat prakti Ponari sampai tiga kali. “Tapi sampai sekarang batuk saya tidak sembuh-sembuh,” terang Amir. Pasangan suami istri (pasutri) Ismail, 55, dan Khomsakin (warga desa Sawiji, Jogoroto) juga setali tiga uang. Ismail yang menderita asam urat dan Khomsakin yang mengidap encok (rematik), mencoba pengobatan ke Ponari. Tapi sampai mengulang hingga tiga kali, penyakit pasangan suami istri itu tak kunjung sirna. Bagi Dra Denok Wigati Msi, psikolog dari Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang cerita tentang 'kesaktian' Ponari itu hanyalah karena sugesti dari pasiennya. Menurut alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini, begitu muncul kabar tentang 'kelebihan' Ponari, banyak masyarakat percaya. Meski cara pengobatan dengan air yang dicelup batu itu tak lazim, mereka tidak memermasalahkan. Apalagi ada beberapa orang yang berobat dan mengaku sembuh, sehingga muncul sugesti dalam diri calon pasien. “Sugesti adalah perasaan atau pendapat yang benar-benar tanpa kritik. Dalam diri orang yang tersugesti, baik penalaran, rasio, dan logika sudah tidak berlaku lagi," kata Denok. Denok beranggapan, orang yang datang ke tempat Ponari sudah tersugesti. Dalam perasaan mereka sudah tertanam kuat, mereka akan sembuh setelah meminum air yang sudah dicelup batu milik Ponari. “Jadi mereka memang merasa sudah sembuh dari sakitnya, tapi boleh jadi dalam pandangan orang lain tetap saja sakit,” kata Pembantu Dekan I Fakultas Psikologi Undar ini. Tapi bisa juga karena sugestinya sudah demikian kuat, menimbulkan sebuah hipnosis. Hipnosis ini bisa membuat orang melakukan hal-hal di luar kendali dirinya. Misalnya, yang semula lumpuh, karena sudah tersugesti akan bisa jalan setelah minum air putih dari Ponari. “Tapi ini tidak akan berlangsung lama. Dalam hitungan hari penyakit itu akan kambuh lagi,” imbuh Denok. Hal senada diutarakan dr Ivan Rovian. Alumnus Fakultas Kedokteran Unair dan kini menjadi Kepala Unit Transfusi Darah PMI Jombang ini menyatakan, sugesti memang ikut berpengaruh terhadap kesembuhan seseorang. “Dalam kesembuhan seseorang, sugesti memang berpengaruh. Tapi, sangat sulit untuk menumbuhkan sugesti tersebut," ungkap Ivan.st8
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved