Breaking News:

Ratusan Insinyur PAL Kabur, Tertarik Rayuan Perusahaan Asing

SURABAYA | SURYA-Ratusan pekerja ahli PT PAL Indonesia hengkang ke sejumlah perusahaan pembuatan kapal yang lain, terutama asing. Kaburnya pekerja pintar setingkat insinyur dan level di atasnya itu (master dan doktor) terjadi karena keuangan perusahaan milik negara tersebut sedang tidak bagus. Sementara pada saat bersamaan, perusahaan galangan kapal asing menawari mereka dengan iming-iming gaji tinggi. “Mereka yang pindah ke galangan kapal asing tergiur oleh tawaran penghasilan yang lebih besar daripada yang diberikan PAL. Apalagi sekarang kondisi keuangan PAL sedang memburuk,” kata sumber Surya di kantor PT PAL Indonesia di kawasan Ujung, Surabaya, Jumat (30/1). Menurut sumber itu, para pekerja PAL umumnya hengkang ke galangan-galangan kapal milik Malaysia. Ada sebagian kecil hijrah ke galangan kapal domestik di Pulau Batam. “Mereka adalah para insinyur yang ahli di bidangnya dan telah terlatih menggunakan teknologi tinggi dalam pembangunan kapal. Bagi bisnis galangan-galangan kapal lainnya, mereka jelas sumber daya yang potensial,” imbuh sumber itu. Sebetulnya, BUMN (Badan Usaha Milik Negara) terbesar dalam pembuatan kapal itu adalah perusahaan yang bermasa depan bagus. Karena itu pula, sejak awal tahun 2000-an, banyak sekali order pembuatan kapal masuk ke PAL. Di antaranya dari negara-negara yang selama ini sebetulnya industri perkapalannya sudah maju, seperti Jerman. Namun banjirnya order malah menyulitkan PAL ketika harga kapal-kapal yang dipesan itu dipatok tetap. Padahal, nilai tukar mata uang mengalami perubahan. “Beberapa tahun sebelumnya PAL melakukan kesalahan dengan membuat kontrak ambisius dalam penyediaan 20 kapal sekaligus dengan harga tetap. Akibatnya perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Ini ditambah dengan utang bank yang masuk kategori kolektibilitas lima atau macet," kata Menteri Negara urusan BUMN, Sofjan Djalil, pada September lalu seperti dikutip Antara. Karena terbelit problem keuangan, PAL kemudian menjadi “pasien” PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). PPA adalah perusahaan yang dibentuk pemerintah dengan tujuan menyehatkan BUMN-BUMN yang dilanda masalah -khususnya keuangan. PAL merupakan salah satu dari pasien PT PPA selain PT Merpati, PT Djakarta Lloyd, PT Industri Gelas (Iglas), PT Semen Kupang, PT Kertas Kraft Aceh dan beberapa yang lain. Menurut sumber Surya, sebetulnya yang terjadi adalah pembajakan pekerja ahli PAL. Sebab, besar kemungkinan perusahaan-perusahaan pembuatan kapal asing itu memang “mencari kesempatan dalam kesempitan”. Maksudnya, mereka mengetahui adanya masalah di PAL saat ini, dan kemudian merayu para tenaga ahlinya agar pindah. “Industri perkapalan di Malaysia, terutama, masih minim tenaga ahli dan terampil di bidangnya. Jadi, mereka memang sangat membutuhkan,” kata sumber itu. Tetapi, selain itu, tentu para pekerja itu juga ingin mendapatkan tempat kerja yang lebih menjanjikan secara finansial. “Siapa yang tak khawatir jika perusahaan tempatnya bekerja sedang sakit. Kami sendiri saat ini juga gelisah,” tukas sumber Surya. Sementara itu, Director Of General Engineering & Maintenance PT PAL Indonesia, Herbandi Novianto mengatakan, hengkangnya para pekerja PAL ke galangan lain tidak akan menggangu proses pembangunan kapal yang sudah dipesan serta pengerjaan lain yang terkait. Ini karena jumlah tenaga ahli dan teknisi yang bertahan di PAL masih cukup memadai. “Penyelesaian kapal akan tetap sesuai jadwal yang telah disepakati meskipun ada sejumlah pekerja kami yang hengkang,” kata Novianto, Jumat ( 30/1). Bagaimanapun, Novianto mengakui iming-iming kesejahteraan menjadi faktor cukup dominan bagi para tenaga ahli PAL untuk keluar. Selesaikan 18 Kapal Direktur Utama PT PAL Harsusanto mengatakan pemerintah mencoba menyelamatkan PT PAL dengan memprioritaskan penyelesaian 18 kapal yang merupakan kontrak perusahaan pembangunan perkapalan itu baik dengan pihak di luar maupun dalam negeri senilai 230 juta dolar AS. "Jadi segera menyelesaikan 18 kapal yang harus kita selesaikan," kata Harsusanto usai diterima Wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Jumat (30/1). Ia mengatakan, arahan dari Wapres usai rapat berkaitan dengan permasalahan PT PAL, pemerintah melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) akan mencoba menyelamatkan PT PAL dengan berbagai alternatif. "Diminta setelah ini kita mendetailkan permasalahan dengan PT PPA di kantor Menneg BUMN. Secepatnya dilaporkan pada Wapres. Begitu kira-kira intisari pertemuan," katanya. Untuk diketahui, PT PAL Indonesia (Persero) bermula dari sebuah galangan kapal yang bernama MARINA dan didirikan oleh pemerintah Belanda pada 1939. Pada masa pendudukan Jepang, Perusahaan ini beralih nama menjadi Kaigun SE 2124. Setelah kemerdekaan, Pemerintah RI menasionalisasi perusahaan ini dan mengubah namanya menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL). Pada 15 April 1980, Pemerintah mengubah status PAL dari Perusahaan Umum menjadi Perseroan Terbatas (PT) sesuai akta No 12 yang dibuat Notaris Hadi Moentoro SH, dengan kegiatan memroduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal. Kemampuan rancang bangun PT PAL telah memasuki pasar internasional dan kualitasnya diakui dunia. Kapal-kapal produksi PT PAL telah melayari perairan seluruh dunia, mulai jenis kapal niaga, kapal cepat, kapal khusus, kapal patroli cepat, Tugboat, kapal ikan sampai kapal Ferry. aru/ytz
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved