Banjir Bandang Terjang 500 Rumah, Melanda 4 Kecamatan di Jember
Tayang:
Jember | SURYA Online-Air bah terus menerjang wilayah Jember. Setelah air terjun antrokan di Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang yang menyeret 11 remaja, giliran empat kecamatan diterjang banjir bandang.
Meskipun belum ada laporan mengenai korban jiwa, banjir bandang tersebut menerjang sedikitnya 500 rumah, puluhan di antaranya rusak tersapu gerusan lumpur dan empasan kayu gelondongan.
Empat kecamatan yang menjadi korban itu adalah Kecamatan Silo, Mayang, Jenggawah, dan Kecamatan Tempurejo. Tak ayal ratusan rumah dari kawasan hulu hingga hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Mayang terendam lumpur.
Dari informasi dihimpun Surya, banjir pertama kali melanda Dusun Curahwungkal, Desa Pace, Kecamatan Silo sekitar pukul 20.00 WIB, Jumat (9/1). Banjir datang setelah hujan deras mengguyur kawasan itu sejak sore. Sekitar pukul 21.30 WIB, bukan hanya air yang menerjang, lumpur juga turut serta. Derasnya debit air membuat 15 rumah di dusun tersebut rusak berat dan sedang. Pasalnya, rumah-rumah itu berada di pinggiran sungai.
Selain rumah, lumpur juga menutup jalan desa yang menghubungkan Desa Pace dan Mulyorejo. Akibatnya, jalan sepanjang 1 kilometer tertutup lumpur setinggi 50 cm.
Sabtu (10/1) pagi, warga dibantu aparat TNI dan Polri ramai-ramai membersihkan lumpur. Lumpur itu berasal dari kawasan hutan di dekat kebun PTPN XII Baban Silosanen. Hutan lindung di kawasan tersebut gundul dan hanya ditanami jagung.
Banjir lumpur juga menerjang lima rumah di Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Kecamatan Silo. Bahkan lumpur setinggi dua meter mengelilingi rumah milik Wahid, 45, warga setempat.
Menurut istri Wahid, Siyah, banjir lumpur masuk rumahnya sekitar pukul 22.00 WIB. "Tiba-tiba banjir lumpur datang, kami sekeluarga langsung melarikan diri," ujar Siyah. Beuntung, 9 orang penghuni rumah selamat, meski Siyah harus mengalami luka memar di bawah mata kirinya karena terantuk benda keras ketika lari.
Banjir longsor di sekitar rumah Siyah terjadi akibat hutan di belakang rumah Siyah gundul. Nampak bukit bekas longsor di belakang rumah Siyah. Di Desa Garahan, sedikitnya lima rumah rusak tergerus lumpur.
Aliran Sungai Mayang berlanjut ke Kecamatan Mayang yang bersebelahan dengan Kecamatan Silo. Kecamatan Silo merupakan kawasan hulu Sungai Mayang atau biasa disebut Sungai Gile (gila, -Red) itu. Di Kecamatan Mayang, desa yang diterjang yakni Desa Tegalrejo, Seputih, dan Desa Mayang. Di Desa Mayang, sedikitnya 7 rumah rusak.
Imam Marzuki, Kepala Dusun Tegalrejo mengaku ada sekitar empat rumah rusak berat. Rumah-rumah itu berada di pinggir Sungai Mayang. "Rumah saya juga hancur, air besar datang dan menggondol separuh tembok rumah saya. Perabotan banyak yang hilang," kata Imam. Sedangkan di Desa Seputih, puluhan rumah terendam air dan lumpur. Sementara di Desa Mayang, sedikitnya 7 rumah rusak.
Banjir terus berlanjut ke Kecamatan Tempurejo. Sungai Mayang yang melintasi Desa Tempurejo meluap dan menggenangi sekitar 200 rumah di Dusun Krajan dan Sruni. Jika banjir di Kecamatan Silo dan Mayang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, maka banjir di Tempurejo terjadi pukul 23.00 WIB. Di kawasan ini sedikitnya 6 rumah rusak.
Desa Jati Mulyo dan Cangkring, Kecamatan Jenggawah yang berselahan dengan Desa Tempurejo juga terkena terjangan lumpur yang menggenangi ratusan rumah.
Kawasan paling hilir yang kena banjir yakni Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo. Memang sudah langganan, kalau Sungai Mayang meluap maka desa itu menjadi daerah genangan.
Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Jember, Sujak Hidayat mengatakan pihaknya masih mencari penyebab banjir yang terjadi mulai dari hulu ke hilir tersebut.
Untuk mengantisipasi banjir lebih lanjut, seluruh petugas mulai tingkat desa hingga kabupaten siaga. Petugas dari pihak desa, kecamatan, PMI, tim SAR, juga Satlak PBP Kabupaten terus memantau lokasi yang rawan banjir. "Untuk warga yang rumahnya rusak, nanti akan kita bantu. Kita akan input data dan hitung berapa jumlah kerusakan. Bantuan makanan juga mulai kita distribusikan," lanjut Sujak.
Jalur Mobil-KA Terganggu
Hujan deras yang mengguyur Jember sejak Jumat sore juga mengganggu jalur transportasi Jember-Banyuwangi. Jalur transportasi di Gunung Gumitir, Kecamatan Silo macet, Sabtu (10/1). Sementara rel kereta api (KA) di Desa Sumberjati, Kecamatan Silo juga ambles akibat longsor.
Jalur transportasi Gunung Gumitir sempat macet akibat longsor di KM 7 Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Tebing di kawasan itu longsor hingga menutup jalan. Akibatnya, sejak tengah malam hingga Sabtu pagi, kendaraan roda empat tak bisa melintas, dan terjadi antrean panjang baik dari arah Banyuwangi maupun Jember.
Di jalur Gunung Gumitir di Desa Sidomulyo Kecamatan Silo ditemukan titik-titik longsor dan beberapa pohon tumbang yang menambah panjang antrean kendaraan di jalur Banyuwangi-Jember itu. "Tetapi longsorannya sudah berhasil disingkirkan, dari Jember," kata Kapolsek Sempolan AKP Zaenuri.
Sementara jalur KA Jember-Banyuwangi juga terganggu. Rel sepanjang 12 meter menggantung akibat tanah di bawahnya longsor terbawa arus air. Rel itu berada di KM 14 antara Kecamatan Ledokombo dan Desa Sumberjati, Kecamatan Silo.
Rel yang menggantung itu diketahui Jumat (9/1) sekitar pukul 23.50 WIB. Akibatnya KA Mutiara Timur Malam dari Banyuwangi yang melintas sekitar pukul 01.30 WIB tertahan di Stasiun Garahan.
Pihak PT KA Daops IX Jember akhirnya mengangkut penumpang KA itu menuju Stasiun Jember menggunakan bus, begitu juga penumpang KA Mutiara Timur Malam dari Surabaya. "Yang dari Surabaya kita turunkan di Stasiun Jember kemudian diangkut ke Garahan," ujar Humas PT KA Daops IX Jember, Hariyanto. st9
KOMENTAR