Pos Kupang
home / citizen reporter

Usir Stres dengan Senam Otak

Kamis, 24 Mei 2012 21:31 WIB

oleh: Choirun Nisa Ristanty 
(Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UM - rista_niky@yahoo.co.id) 


Istilah senam tidak selalu digunakan untuk olah kelenturan dan peregangan tubuh semata. UPT Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang memperkenalkan senam otak pada workshop stres management di aula gedung H8 UM, Kamis (3/5). Terbukti, workshop manajemen stres menepiskan pemikiran bahwa senam hanya dibutuhkan oleh fisik saja. Pada kenyataanya otak juga butuh latihan dan senam. 

Sebelum diperkenalkan istilah senam otak atau brain gym, materi stres, gejala dan pengaruhnya dipaparkan Dra Henny Indreswari MPd. Dilanjutkan pengelolaan stres secara behavioristik (Dr Hj Nur Hidayah MPd), coping stress secara psikologis (Fattah Hidayat, SE MSi Psi), stres dengan pendekatan spiritual (Drs H Mohammad Bisri MSi) dan materi pamungkas pengelolaan stres dengan brain gym bersama Drs Lutfi Fauzan, MPd. Stres bisa dialami siapa saja dan orang yang sering merasa hidupnya penuh dengan tekanan berat akan sering diliputi kecemasan. Senam otak adalah salah satu cara yang bisa menolong mengurangi tekanan stres selain penerapan prinsip kinaesologi. 

Menurut pemateri, brain gym ditemukan pertama kali oleh Paul E.Dennison pada tahun delapan puluhan. Dengan sejumlah riset, beberapa ilmuwan menemukan sejumlah pola gerak yang dapat memberikan sumbangan positif terhadap kinerja otak. Brain gym telah mengubah hidup banyak orang, tua muda bahkan anak-anak. Belahan otak kanan dan kiri difungsikan secara seimbang dan terintegrasi sehingga hasilnya lebih maksimal.

Secara umum, ada 11 gerakan brain gym tetapi yang wajib dilakukan ada sembilan sebagai gerakan inti dan lainnya adalah gerakan tambahan. Gerakan ini sudah merangkum gerakan umum yakni prosedur PACE (stands for Positive, stands for Active, stands for Clear, stands for Energy). Empat prosedur ini disarankan untuk diterapkan pada awal senam otak untuk tujuan apapun.

Selain empat gerakan umum yang mampu meningkatkan konsentrasi dan mempertajam pendengaran, beberapa pola gerakan membantu meningkatkan kemampuan menguasai diri dalam mereduksi stres seperti pernapasan perut, trik positif, koneksi energi, gajah, lambaian kaki, dan yang terakhir adalah musik dengan iringan tertawa.dalam pelaksanannya, Jika ingin melatih otak kanan maka yang digerakkan adalah tubuh bagian kiri, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan prinsip aktivasi anggota tubuh secara bersilangan dalam suasana yang bebas.

Dalam akhir penjelasan materi, peserta yang dibatasi hanya enam orang dari setiap fakultas diajak untuk melihat video senam otak dan mempratikkan bersama-sama. Selain itu, peserta diajak untuk tertawa terbahak-bahak bersama-sama untuk merileksasi daerah wajah yang mampu mengoneksi energi dan sentuhan positif. Pelaksanaan tertawa terbahak-bahak ini terasa lebih menyenangkan dan lucu ketika tertawa didahului atau sambil saling melihat wajah teman-teman satu kelompoknya.





Editor : Tri Hatma Ningsih
Source : Surya Cetak
Share on Facebook
Terkait
Tribun Network

Kembali ke Home
Full Site