Selasa, 21 April 2015

BRI Imbau Mantan Karyawan Berkonsultasi ke Pakar Tenaga Kerja

Selasa, 19 Maret 2013 23:56

BRI Imbau Mantan Karyawan Berkonsultasi ke Pakar Tenaga Kerja
surya/eben haezer panca
Unjukrasa mantan karyawan BRI, Selasa siang (19/3/2013).

Dengan demikian mereka bisa berkonsultasi membahas hal-hal yang dipermasalahkan. Sebab, selama ini manajemen bank pelat merah itu merasa tidak ada pelanggaran aturan yang mereka lakukan dalam hal pemberian uang pensiun dan pesangon.

Sekretaris PT BRI (Persero) Tbk, Muhamad Ali menyebutkan, berdasarkan Pasal 167 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terdapat tiga kondisi alternatif yang berbeda satu sama lain. Tiga kondisi ini menghasilkan kebijakan pembayaran pensiun dan pesangon yang berbeda-beda.

Kondisi pertama adalah perusahaan tidak mengikutsertakan pekerja di dalam program pensiun, sehingga berdasarkan ketentuan, perusahaan wajib membayarkan pesangon sesuai dengan masa kerja masing-masing karyawan.

Kondisi kedua, perusahaan mengikutkan pekerja dalam program pensiun dan iurannya sepenuhnya dibayar oleh perusahaan.
Kemudian kondisi ketiga adalah perusahaan mengikutsertakan pekerja dalam program pensiun, tetapi iuran dibayarkan oleh perusahaan dan pekerja.

"Dari tiga kondisi itu, BRI menerapkan kondisi yang ketiga," kata Ali.

Untuk perhitungannnya, Ali melanjutkan, dalam kondisi ketiga, bila perhitungan uang pensiun yang harusnya diterima lebih kecil daripada pesangon, maka selisihnya (kompensasi) akan dibayar oleh BRI sebagai pesangon. Lalu bila besarnya uang pensiun yang diterima sama dengan hasil perhitungan pesangon, maka tak ada kewajiban bagi BRI untuk membayar kompensasi atau pesangon kepada pensiunan.

Sedangkan bila hasil perhitungan uang pensiun lebih besar dari pesangon, maka pensiunan tak perlu mengembalikannya ke BRI dan BRI akan menganggapnya sebagai penghargaan pada pensiunan penerima.

Halaman12
Penulis: Eben Haezer Panca
Editor: Parmin
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas